Sistem Konglomerat

Sistem Konglomerat
Kabar kematian 2


__ADS_3

Anton langsung menatap Si Hitam yang ketakutan. "Jika kau tidak mengatakannya dengan jelas. Jangan berharap untuk hidup." Ucap Anton dengan dingin.


Bram juga menatap Si Hitam itu. Karna yang akan dikatakan tentang anaknya.


"Tuan muda Alvaro mati." Ucap Si Hitam


Beng!!


Anton langsung menendang Si Hitam itu dengan keras di perut hingga terlempar dua meter. "Katakan sekali lagi!!" Teriaknya.


"Dia mati dibunuh oleh seorang pemuda" Sahut Si Hitam sambil memegang perutnya yang terasa terpelinting karna tendangan itu. dia juga menyeka darah yang mengalir disela bibirnya.


"Bagaimana mungkin? Alvaro adalah seorang master Taekwondo." Ketidak percayaan muncul dibenak tiga orang yang mendengar penuturan si Hitam. Namun tak mungkin si Hitam membuat kebohongan untuk hidupnya.


"Dimana jasadnya? katakan!!" Teriak Anton lagi dengan mengayunkan tangan untuk memukul kembali Si Hitam.


"Anton, Hentikan! Jika dia mati. Kita tidak tau dimana Alvaro berada" Teriak Bram dari belakang. Teriakan itu langsung menghentikan apa yang akan dilakukan oleh Anton.


"Antar kami ketempatnya" Ucap Anton lagi sambil mendorong punggung si Hitam yang sudah berdiri.


Kasian sekali nasipnya. Jika dia berpikir lebih baik. mungkin dia akan memilih untuk tidak kembali ke Markas besar. Tapi nasi sudah jadi bubur, tidak ada yang bisa dia perbuat selain menerima hukuman.

__ADS_1


Segera mereka berempat menggunakan satu mobil saja yang dikemudikan oleh Parno


Lima belas menit kemudian mereka sampai pada tempat yang memang tidak asing bagi mereka. karna tempat itu juga adalah bagian dari wilayah yang dimiliki oleh Bram.


Mereka langsung memasukan mobil kedalam Gudang itu.


Bram langsung mendorong pintu Mobil sebelum Mobil benar-benar berhenti. Karna dia sudah melihat jasad anaknya yang kerumuni anjing liar.


Dia langsing meraih kayu terdekat dang mengibaskan kayu itu kearah anjing yang berusaha untuk menggigit tubuh anaknya.


Air mata terus jatuh, Dia tidak pernah mengira dalam hidupnya akan mengalami hal ini. Anaknya mati di wilayah kekuasaannya sendiri.


"Maafkan ayah nak." Dia perlahan mengangkat tubuh Alvaro dan membawanya ke Mobil. dan Anton langsung membukakan pintu Mobil.


"Parno! Antarkan ayah ke rumah. Aku akan disini bersama si Hitam." Ucapnya.


Parno langsung mengangguk dan mengemudikan mobil melaju di keramaian.


"Hitam, Jelaskan kepadaku ciri-cirinya"


Hitam mulai menceritakan ciri-cirinya dan juga tentang dua wanita cantik itu.

__ADS_1


.............


Monte langsung pulang kerumah setelah mengantar Zai didepan pagar. sedang Zai juga langsung masuk kedalam rumah.


Capek dan penat menyerang tubuh. Dia langsung membuka pintu dan masuk kedalam rumah. Terciun harum wangi masakan. Nafsu makannya langsung tergugah. Segera dia melangkah ke meja makan yang sudah berbaris makanan lezat. "Baunya nikmat sekali." gumamnya


Zai langsung meraih sendok dan menyesap kuah dari opor terong.


"Sayang!" suara lembut terdengar ditelinga Zai. dia segera menoleh dan mendapati Alisya yang membawa nampan.


"Ayo makan. Aku sudah sangat lapar nih." Ajak Zai


"Tunggu Aisya dan Nenekmu dulu, sayang!" Sahut Alisya. Lalu dia duduk dimana Zai sudah menarikan kursi untuknya.


Tidak berapa lama orang yang ditunggu datang. dan mereka makan bersama.


"Rame sekali. Ada acara apa?" Farhan tiba-tiba muncul dengan seorang gadis disampingnya.


Semua orang menatap arah suara.


"Berani sekali ya kamu menculik anak orang." Tatap Zai dengan tatapan tajam yang menusuk perasaan

__ADS_1


__ADS_2