
Di sebuah kamar yang dihiasi dengan harum melati dan dengan warna merah muda yang mendominasi dinding serta walpaper dan banyak hiasan lainnya.
Dalam kamar itu ada sepasang manusia yang sedang mengeluti dunia mereka. Tidak ada hal yang bisa mengubah keinginan mereka meski badai menerjang asa.
Kamar itu menjadi saksi terbukanya pintu surga dengan meninggikan kenikmatan dunia hingga setiap titik puncak akan terasa disurga.
Ada noda merah yang menjadi peringaran bahwa ini untuk pertama kalinya Mei Chan merasakan sebuah kesenangan yang membuatnya ingin terus, ingin lagi dan jangan berhenti.
Dia merengkuh tubuh lelaki yang mengukung, menancapkan kuku panjang di pundak lelaki itu setelah melepaskan sebuah jeritan.
"Bagaimana rasanya setelah menjadi wanita seutuhnya?" Zai bertanya.
"Jangan bertanya, Lakukan lagi. aku ingin lebih" kata Mei Chan menyahuti.
Segera Zai membawa gelombang yang besar dengan sebuah gerakan yang lembut nan membuai. Hasrat tidak lagi tertahan, gejolak keinginan menutup akal sehat. Tidak sadar dimana sekarang dunia terasa hanya milik mereka berdua.
Bahkan untuk mendengar suara perkelahian saja tidak bisa. Keinginan mereka tidak terganggu bahkan jika ada yang ingin. Maka akan ditendang agar tidak menggangu waktu dan kebersamaan itu.
Mei Chan merubah posisinya dengan mendorong Zai dan dia naik dan duduk diantara tongkat yang berdiri dengan gagah berani.
Satu jam pun berlalu. Namun itu terasa sangat lama sekali bagi mereka.
Mei Chan berlingkar dengan lesu, "Ini lebih letih daripada aku berlatih" katanya sambil tersenyum.
"Hahaha tapi nikmat bukan?" tanya Zai.
"Mm... Terima kasih" sahut Mei Chan.
__ADS_1
"Ada hal yang masih menjadi pertanyaan dibenakku, Katanya kau istri sang pemimpin tapi mengapa kau masih perawan?"
"Dia tidak memiliki apa yang kamu miliki. jadi tak mungkin menembus milikku, dan kami tidak benar-benar menikah seperti anggota organisasi tau. dulu aku diselamatkan olehnya.
Begini ceritanya.
Dulu, ketika aku masih muda dan aku naik gunung bersama teman-temanku. Saat itu ada sebuah rencana yang teman-temanku ingin lakukan kepadaku, rencana untuk memperkosaku. tapi hal itu gagal sebab Kak Jun datang menolongku dan membunuh mereka semua.
Sejak saat itu aku trauma jika ada lelaki yang menyentuhku.
Dan aku takut untuk pulang hingga aku mengikuti Kak Jun kemana pun dia pergi. aku diajarinya bela diri dan berbagai teknik. aku sangat mengaguminya bahkan aku mulai menyukainya meskipun perbedaan usia kami terlampau jauh. Saat itu Kak Jun sudah berumur enam puluh tahun, sedangkan aku masih berusia lima belas tahun.
Tapi aku tidak dapat memungkiri keterikatanku kepadanya membawaku untuk terus bersamanya. apapun yang dia lakukan juga akan aku lakukan seperti membunuh, memeras orang kaya dan merampok. itu aku lakukan agar Kak Jun dapat terus hidup dan membeli banyak sumber daya pelatihan untuknya dan sebagian untukku.
Kebersamaan kami terus berlanjut hingga tahun-tahun selanjutnya dan kami menikah dan membentuk sebuah organisasi kultivator ini.
Kami berdua mengumpulkan para orang kaya dan koneksi untuk mendapat uang mereka dan gantinya Kak Jun memberikan sumberdaya dan metode pelatihan untuk mereka." Mei Chan menarik nafas yang dalam dan bersandar dibahu Zai yang hendak memakai pakaiannya. "Sekarang aku sudah menghianatinya. Tapi ini memang salahku. Aku akan menemuinya dan meminta maaf" Perlahan Mei Chan berdiri dan memakai pakaiannya.
Selesai keduanya berpakaian, Zai menahan Mei Chan yang hendak keluar dari kamar itu. "Aku akan keluar lebih dulu! Maaf sebelumnya, sepertinya bawahanku sudah menguasai tempat ini dan ini memang rencanaku untuk menyerang organisasi kalian, karna aku orang yang sangat tidak suka diganggu, apalagi keluarga dan wanitaku. Maaf juga. aku ingin kau menjadi wanitaku sejak sekarang dan kau berhak mengikutiku kemanapun aku pergi dan jangan menolaknya, aku takut kau akan dibunuh jika bertahan dengan Kak Jun-mu setelah dia tau kah menghianatinya"
Mei Chan mengangguk setuju dengan usul itu. dia mengikuti Zai keluar dengan berpegang pada lengan seperti seorang permaisuri yang menghantar raja ke depan pintu.
"Salam tuan Muda" ucap enam orang secara bersamaan ketika mereka melihat Zai keluar daru rumah itu. Mereka berenam tidak mengganggu rumah yang cukup besar itu hanya karna tau bahwa tuan mereka ada didalam.
"Bagaimana keadaan kalian?" Zai bertanya seraya menyapukan pandangannya.
"Kami semua baik, hanya ada sedikit luka ringan saja dan itu mudah ditangani" Sadam maju dan menyahut.
__ADS_1
"Kita tinggal disini untuk sementara dan menunggu beberapa orang yang mungkin masih ada." kata Zai. "beristirahatlah kalian." ucapnya lagi.
"Tuan muda!" Sadam memanggil
"Ya ada apa?" tanya Zai menoleh kembali.
Sadam menarik rantai dimana beberapa orang ada dalam ikatan rantai itu dan mereka mengikuti tarikan karna masih berharap hidup.
"Dia adalah anggota Organisasi ini. Dia menyerah dan juga semua orang yang ada dibelakangnya. Apa yang akan tuan lakukan kepada mereka?" Sadam meminta perintah.
"Dia adalah Sakti. Dia memang anggota Organisasi" kata Mei Chan yang berada disamping Zai tanpa melepaskan lengangnya yang menggelayut dilengan Zai.
Sakti mendengar suara yang begitu familiyar, segera dia mendongak dan memandang seorang wanita yang ada dihadapannya yang tidak lain adalah Mei Chan, Nyonya besar istri sang pemimpin. Dia penasaran mengapa wanita itu begitu dekat bahkan menempelkan bagian tubuhnya pada lelaki muda yang jadi tuan muda dari orang-orang kuat itu.
Tak habis pikir baginya. Wanita yang selalu bersikap arogan dan angkuh bisa bermanja seperti itu. setaunya, bahkan dengan pemimpin saja tidak pernah sedekat itu jika diluaran. Atau apakah mungkin dia kalah pesona hingga dia yang terikat dengan pemuda itu.
"Salam nyonya besar!" sapanya kepada Mei Chan. "Salam tuan Muda!" sapanya kepada Zai dan berkata lagi. "Aku siap menjadi bagian dari kalian. asalkan aku bisa hidup" ungkapnya lagi.
Mei Chan mengangguk tapi tidak dengan Zai. Dia menatap lekat orang tua itu. Dan bertanya "Apakah kau berasal dari keluarga Anggoro?"
"Benar, Darimana kau tau tentang keluargaku?" tanya Sakti.
"Aku kebetulan ada urusan dengan keluarga Anggoro, Nanti akan diselesaikan. Apakah kau benar mau bergabung dengan ku dan menjadi bawahanku?"
"Aku yakin hal itu" sahut Sakti.
"Baiklah... Sadam! beri dia satu butir pil dan yang lain jika ingin mengikuti biarkan dan bebaskan mereka. aku yakin mereka juga tidak akan berani untuk berkelakuan yang akan merugikan diri mereka sendiri"
__ADS_1