Sistem Konglomerat

Sistem Konglomerat
Sungguh Biadab


__ADS_3

"Ada apa? Apakah ada yang salah?" Mair dengan bingung menatap wajah Zai yang terlihat dingin, Lebih dingin dari sebelumnya.


Maimunah juga menyadari tatapan Zai kepada Gadis itu seakan ada amarah yang terselip.


"Nenek akan tinggal dulu, Silahkan kalian ngobrol" Maimunah segera pergi sebelun itu dia menepuk bahu Zai dan berkata "Tak apa" Ucapnya


"Eh.." Maira segera menutup mulutnya, Dia faham sekarang, Wanita yang di anggapnya Bibi/Pembantu adalah Neneknya Zai, Dia merasa malu "Maafkan aku Zai"


'Sial sekali sih hari ini, Kenapa mulut ini tak bisa dijaga dan kenapa aku kurang konek ya, Padahal dia sudah bilang dia tinggal bertiga dengan adik dan Neneknya dan ingin mencari pembantu, Tapi aku malah manggil Neneknya dengan sebutan Bi yang biasa dipakai untuk gelar pembantu'


"Karna Nenek memakluminya, Aku maafkan, Tapi jangan diulangi lagi" Ucap Zai sambil menatap mata Maira yang seakan ingin menangis karna kesalahan kata.


...............


"Mereka menyekap orang tuaku di sebuah gedung tua di pinggiran Kota, Akan ku kirim alamatnya sekarang juga" Halwa atau gadis yang telah Sadam pinta sebagai mata mata menyampaikan informasi yang baru diketahuinya tentang kedua orang tuanya.


Dia kini masih berada di Fable Club tapi tidak lagi menjual diri, Karna Sadam telah meminta Hak husus untuk Halwa, Sedangkan wanita yang satunya Sadam meminta untuk mencari cara pergi kepenyekapan para gadis yang akan dijual ke luar negri.


"Jika sudah selesai akan ku hubungi" Sadam segera bergerak ditemani oleh Jani dan Jaya, Trio yang sangat akur ini berada dalam sebuah Mobil sedan berwarna hitam


"Kita akan memulai lagi dari tempat ini, Kita akan menguak semuanya, Biarkan tuan bersenang senang dengan wanita, Kita yang akan bertugas menghentikan perdagangan ini" Sadam mengatakan yang ada dalam pikirannya.


"Kau benar, Kita masih ada, tuan akan tenang bercinta" Timpal Jaya.


"Bagaimana dengan wanita yang kenarin, Apakah dapat memuaskanmu?" Jani bertanya kepada Jaya.


"Belum setengah jam dia sudah pingsan, Terpaksa aku mencari keluar yang lainnya" Sahut Jaya.


"Kita sama" Sahut Jani.


mereka pun tergelak bersama, Hanya Sadam yang tidak tertawa karna dia tidak melakukan hal itu dengan dua gadis yang menemaninya.


Tapi Jani dan Jaya tau akan hal itu, setelah menyadari mereka pun berhenti tertawa.

__ADS_1


"Kita hampir sampai" suara Sadam memecah keheningan yang tercipta setelah tawa menghilang


Sadam menghentikan Mobilnya dibawah Pohon yang rindang, Dimana itu sedikit jauh dan juga terlindung dari pandangan karna ada banyak semak belukar yang menutupi gedung.


Segera tiga orang itu bergerak keluar dari Mobil dan malakukan beberapa lompatan serta berguling


Dengan kelihaian yang ada dalam ingatan Kultivator mereka, Segera mereka sampai di pintu belakang.


"Hoy siapa itu" Terdengar sebuah teriakan tapi hanya sekali setelahnya hening.


Karna orang itu langsung dibuat mati oleh pukulan yang menghantam tenggorakan.


"Jangan bertindak gegabah, Pastikan Tidak ada korban jiwa yang di alami oleh Sandra.


Jani melucuti pakaian orang yang mati itu, dan segera mamakainya lalu berpura pura menjadi orang itu.


Dengan segera dia menggeser pintu Gerbang hingga terdengar derit yang sedikit nyaring.


"Kenapa kau kembali? Bukan kah kau ingin membeli makanan?" Tanya salah satu dari dua puluh orang yang ada didalam menjaga beberapa pasang sandra.


Jani murka melihat ada beberapa orang yang sedang memperkosa seorang gadis dengan mengikat kedua tangannya di tiang, dan itu di lakukan di hadapan para sandra.


"Woy kenapa tidak menjawab" orang itu segera bertanya kembali karna yang ditanya masih diam, Dia mendekat dan lebih dekat. ketika tangannya hendak mengangkat topi yang Jani pakai untuk menutupi wajahnya..


Kraaak...! Jani langsung meraih tangan itu dan memelintirnya.


Segera teriakan kesakitan itu terdengar, menghentikan aktifitas mereka yang menggerayangi gadis yang malang itu.


"Ada penyusup, Cepat lumpuhkan dia"


Jani segera menendang dengan keras didada orang yang berbicara kepadanya.


Tubuh itu dikirim terbang kepada tiga orang yang mendekat kepadanya hingga mereka ikut terjatuh.

__ADS_1


Sedangkan Jaya dan Sadam dengan cekatan melepaskan ikatan para sandra kecuali wanita yang masih berada ditiang.


"Kalian pergilah ke sudut, Maka kalian akan aman" Sadam segera bergerak membantu Jani, sedangkan Jaya menjaga sandra yang kemungkinan akan disandra lagi jika tak dijaga.


Bugh bugh bugh. Tiga orang segera terlempar oleh pukulan dan juga tendangan yang dilesatkan oleh Sadam yang datang tanpa diduga oleh mereka.


Satu pukulan satu tendangan satu orang terlempar,


Tiga orang yang tersisa dari dua puluh orang yang meraung kesakitan kini dengan gemetaran kaki perlahan mundur.


"Siapa kalian, Kalian berurusan dengan sebuah organisasi yang sangat kuat, cepat berlutut, Jika tidak kalian tidak akan melihat matahari lagi, Aku sudah memberikan alarm bantuan" teriak salah satu yang gemetar dari tiga orang itu, berusaha menyembunyikan ketakutannya dengan sebuah ancaman.


Sadam dan Jani mana peduli dengan sebuah ancaman, Apalagi yang mengancamnya sudah diambang kematian, Itu adalah sebuah hal yang lumrah yang sering dia dengar di alamnya dulu, ketika seorang sudah tidak mampu melawan, Latar belakanglah yang akan menjadi andalan.


Langkah kaki mereka berdua terus saja mendekat dan terus mendekat hingga tiga orang itu tersandar pada dinding beton gedung tua itu.


Sadam dan Jani bepegangan lengan lalu melompat dan menendang mereka bertiga secara bersamaan.


Braaak..! Dinding beton itu langsung berlubang terkena tubuh tiga orang yang terhempas dan mungkin saja mereka langsung mati ditempat.


"Kalian sudah Aman, pergilah dan lapor ke Polisi kejadian ini, Dan sebarkan bahwa yang melakukan nya adalah Organisasi Dark Moon, Apa kalian mengerti?" Ucap Jaya.


"Kami mengerti! terima kasih banyak atas pertolongan kalian"


Sadam dan Jaya mengangguk lalu Sadam mulai memandangi semua orang dan bertanya "Siapa diantara kalian yang orang tuanya Halwa?" Sadam segera bertanya kepada para Sandra sebelum mereka pergi.


Terlihat dua orang mengangkat tangan, Mereka berdua tidaklah terlalu tua. "Berterima kasih lah kepada anak kalian, Karna dia kami berada disini"


Ucap Sadam lagi Lalu dia berbalik melihat Jani yang sedang melilitkan kain kepada seorang gadis yang entah berapa kali sudah diperkosa, Tanpa suara dia melepaskan lilitan yang mengikat tangan gadis itu.


Sang wanita yang sudah sadar karna teriakan para penjahat itu kini menatap lekat orang yang menolongnya. Ketampanannya mengikat hatinya, dan ke dermawanannya menggugah perasaannya. tapi dia merasa kotor diseluruh jiwanya dan lagi dia merasakan sakit pada area bawahnya yang sudah tidak suci lagi.


'Bisa melihat dewa penolong sepertimu, Itu sebuah kebahagian disela penyesalanku'

__ADS_1


Gadis itu terus saja memandang wajah Jani "Ehem. suara deheman menyadarkannya dari lamunan


"Mungkin aku tak bisa hidup lagi karna menanggung beban jiwa ini, Terima kasih sudah menolongku"


__ADS_2