Sistem Konglomerat

Sistem Konglomerat
Juli di Culik 2


__ADS_3

Sebuah Mobil melaju dengan cepat tanpa tau ada yang mengikutinya dari belakang. Sang sopir terlalu asik dengan musik besar yang keluar dari speaker mobil..


Bagaimana dia tak memakainya. Jika suara wanita yang ada didalam mobil itu berteriak cukup memekakkan telinganya disepanjang jalan. meski sudah di pakaikan penutup mulut.


Hanya untuk tidak dicurigai oleh pengendara lain. sang sopir dan tiga orang lainnya menggunakan Musik sebagai pengelabu suara teriakan. Mereka tidak menyumpal mulut wanita itu. padahal jika mereka menggunakan cara itu pasti lebih aman.


Mungkin saja mereka berempat sedikit bodoh. Atau seperti kata pepatah, tubuh besar belum tentu otak besar.


Tidak berapa lama Mobil inova berwarna hitam itu sampai pada sebuah tempat. Tempat itu adalah villa pribadi yang dimiliki oleh seseorang yang cukup kaya. Mobil itu masuk kedalamnya dengan cepat. Setelah dibukakan oleh penjaga yang berbadan besar pula.


Halaman yang sangat luas dengan banyak tanaman hias dan tumbuhan yang lainnya seperti pohon pinus yang berbaris dan sebagainya.


Jaya menghentikan Mobil yang dikendarainya cukup jauh dari tempat itu. memungkinkan dia untuk bersembunyi sementara. Dia menunggu Zai untuk konfirmasi selanjutnya. Tak mungkin dia bertindak gegabah dengan menyerang seorang diri lebih dulu. Dia perlahan berjalan dan mencari cara untuk melompati tembok tinggi yang menjadi sebuah penghalang lalu mendekat kedalam kawasan itu. berkamuflase dibalik dinding.


"Bawa masuk kedalam cepat!" seruan terdengar dari Salah satu diantara empat orang yang berada dalam Mobil


Juli memberontak terus. ayunan kakinya mengenai dada salah seorang yang ingin mengeluarkannya dari dalam Mobil. Namun hal itu tidak membuat lelaki yang ingin menariknya itu ter-mundur kebelakang. Sebaliknya lelaki itu meraih kaki Juli, Memperlakukan Juli dengan kasar. Hingga Juli terjatuh dari kursi dan terus menariknya. kemudian meletakaan Juli dibahunya dan berjalan membawa ke sebuah ruangan.


Hanya tangis ketidakberdayaan yang dialaminya dan berharap dia bisa meraih ponselnya untuk menghubungi Zai. Tapi kedua tangannya terikat dan dia tidak bisa melakukan itu. Cucuran air mata tampak membasahi baju orang yang menggendongnya. Hal itu tetap tidak dihiraukan pelaku.


Dia menjatuhkan Wanita cantik itu dishofa. terlihat seorang pemuda dan orang yang cukup tua duduk memandanginya.


"buka ikatan dimulutnya. Mengapa kau memperlakukan wanita cantik seperti itu" Sang pemuda terlihat marah, namun bukan marah yang sebenarnya.


"Siapa kalian? Mengapa aku diperlakukan seperti ini?" Juli berteriak dengan suara yang mulai parau. Setelah ikatan dimulutnya terlepas.


"Hoooho wanita yang menarik dan Jecky mengapa tidak menceritakan bahwa memiliki cucu yang begitu cantik meskipun janda"

__ADS_1


"Kau mengenal Kakekku?" Juli bertanya dengan mata yang melotot.


"Tentu aku mengenalnya. bahkan kami semua tau siapa dia. Ada banyak hal kejahatan yang dia lakukan yang juga kami tutupi. Bahkan dia terlibat dalam kasus penculikanmu" Sang pemuda berdiri dan mendekat kearah Juli. dia mengayunkan tangannya kearah pipi Juli dan mengelusnya. "Sangat lembut, Jika ini dibiarkan begitu saja? bukankah sia-sia." ucapnya, Suaranya menggetarkan tubuh Juli.


"Cuih.." air liur muncrat kewajah orang itu. Tentu Juli yang melakukannya. karna dia tak sudi disentuh oleh lelaki itu.


"Neil. jangan terlalu menguji kesabarannya. Ambil ponselnya dan hubungi pemuda itu" Ucap Jing Wei yang masih duduk dengan santai. dengan rokok ditangan kanannya.


Neil menghentikan aksinya yang ingin menekan mental wanita itu. dia mengambil tas dan memasukan tangannya mencari sebuah ponsel. Ponsel itu langsung terbuka dengan bantuan sidik jari Juli.


Segera dia memanggil, Ada dering panggilan yang terasa dekat terdengar. Segera semua orang menoleh ke arah suara untuk melihat dengan jelas.


Zai ada disana dengan dua pengikutnya yang luar biasa. Dia menatap pemuda yang pernah mengganggu Calon iparnya. Sekarang wanitanya! Apakah ini bisa dimaafkan? tentu tidak semudah itu dilupakan!


Neil menatap pemuda yang pernah beradu tinju dengannya dengan intens. Lalu mengalihkan pandangannya. "Kemana yang lain? Mengapa di biarkan tiga orang ini masuk dengan bebas?" teriaknya marah kepada empat orang yang barusan membawa Juli.


Sebelum empat orang itu bergerak. Empat orang lagi datang dengan duo kembar yang berteriak.


"Ketua!!" teriakan keduanya bersamaan dengan terengah berlari.


"Ada apa?" Neil bertanya.


"Semua orang yang ada diluar tergeletak. Sepertinya baru terjadi perkelahian. Mereka meraung dengan berbagai patah tulang ketua" Konoy dan Kinoy lagi-lagi berbarengan mengatakannya. Memang duo kembar sekali berbicara akan sama hasil yang dikatakannya.


Neil memandang tiga orang pemuda yang kini berada disampingnya sejauh lima meter. "Kalian yang melakukannya?"


"Tak perlu ditanya, itu jelas! Bahkan mereka tidak dapat menghalau pukulanku" Jaya maju dan menyahut.

__ADS_1


"Brengsek." Neil meraung murka. "Hancurkan mereka" Teriaknya kepada delapan bawahan yang tersisa.


Sedang Zai tak menganggap Neil yang marah, Dia hanya menatap Juli yang terlihat mengenaskan dan berkata "Sayang! maafkan aku" katanya, dia berjalan pelan namun dihadang oleh Neil. Tapi Sadam menghalangi.


"Tuan, Silahkan maju! biarkan aku yang mematahkan tangan bajingan ini"


Zai mengangguk dan terus maju. dengan langkah yang mendominasi. Tapi masih ada satu orang tua lagi yang masih santai dengan kebisingan itu. dia adalah Jing Wei. Sahabat Bram sekaligus otak penculikan Juli.


Dia marah dengan Jecky karna memiliki menantu seperti pemuda yang datang dari antah berantah. Dari kampung yang tak jelas asal usulnya.


Jaya dikepung oleh delapan orang, Namun dia masih tersenyum dengan tangan terulur. "Maju sekaligus! agar urusan ini cepat selesai" katanya dengan ejekan.


Bagaimana delapam orang itu tidak meraung marah. Jika yang meremehkan mereka berpostur rendah bertubuh kecil. Mereka meneriakan kata yang sama. "bangsat. Matilah" Raungan mereka memecah dikeheningan Villa itu.


Segera bunyi tendangan dan pukulan diarahkan kepadanya. Namun mereka salah kira. Kecil cabe pun tetap pedas rasanya.


Jaya berkelit kesamping, melompat cukup tinggi menendang paha salah seorang untuk membuat lonjakan dan berbalik dengan dua kepalan tinju meninju dada dua orang yang tak mengira.


Bugh! Bugh!


Dua orang terlempar dengan dorongan keras tinju Jaya dengan darah yang menyembur dimulut mereka. dapat dibayangkan pukulan itu sangat keras. Mereka juga bukan kultivator jadi mudah dikalahkan.


Enam yang tersisa terpelongo melihat kekuatan si kecil itu. Namun tak ada waktu bagi mereka untuk berpikir. Jaya membalik tubuhnya diudara dan menendang kesamping. Dua orang terkena sapuan kakinya dikepala. Membuat dua orang terputar dua kali dan pingsan.


Empat lagi termasuk konoy dan Kinoy. Mereka berbalik ingin berlari. Namun Jaya dengan sigap memberikan pukulan pada punggung mereka satu persatu dengan sedikit pengejaran.


Delapan orang tumbang hanya dengan beberapa menit saja...

__ADS_1


__ADS_2