Sistem Konglomerat

Sistem Konglomerat
Lanjut


__ADS_3

Di sebuah rumah yang terlihat baru dibersihkan, Dua orang sedang asyik berberes sambil bercanda dan bercengkrama.


Mereka berdua adalah Jani dan juga wanita yang pernah diselamatkannya. semenjak Jani memberikannya sebutir Pil untuk mengikat seorang bawahan yang diberikan oleh Tuannya Zai, Sejak itu kedekatan mereka lebih intens, Bahkan mereka telah tidur berdua dan wanita itu kembali mendapat rasa percaya dirinya.


Karna tubuhnya sangat sangat terasa kuat, dan dia pun berjanji kepada dirinya, Bahwa dia akan membantu meringankan tugas lelakinya dengan dia juga akan berpartisipasi dalam penggagalan perdagangan manusia.


"Sayang.... Ada telpon untukmu" Panggilnya dengan suara lembut lalu mengambilkan ponsel yang berada di atas meja ruang tamu.


Setelah beberapa detik dia kembali dengan ponsel yang masih berdering.


"Aku dan Jaya sudah siap berangkat, jika kau masih sibuk, Susul kami, Aku akan mengirimimu alamatnya.


"Oke, Aku akan kesana menyusul" Jani segera menyahut dan sambungan telpon pun berakhir.


Setelah itu dia berpaling menatap kecantikan yang duduk dikursi menunggunya untuk makan. "Sayang, Aku akan segera pergi, Karna teman ku ingin aku menyusul" Jani berjalan ke arahnya dan meraih tangan Siti kemudian mengecupnya.


"Makanlah dulu, walau sedikit" Siti melayangkan tangannya kearah wajah tampan dan mengelus sebentar pipi yang dimiliki oleh Jani.


"Baiklah..."


Mereka makan bersama bagai sepasang suami istri yang saling melengkapi.


..............


"Aku juga akan kesana, Kirim lokasinya segera" Zai segera bersiap setelah mendapat kabar bahwa markas mereka sudah ditemukan.


"Baik Tuan!" Sambungan telpon segera diputuskan dan Lokasi segera dikirimkan..


Zai mendatangi Maimunah yang berada didapur menemani pembantu. Zai sudah mendapat pembantu Enam orang berkat rekomendasi dari Maira yang juga atas rekomendasi dari pembantunya.

__ADS_1


"Nek!" Panggilnya dengan lembut.


"Iya Cu, mau makan?" Sahut Maimunah dengan senyum tuanya. "Nenek sedang masak Ayam Gulai dan rendang, Kamu kan suka sekali dengan masakan padang, Jadi Nenek bikinin dibantu oleh Icha. Icha pintar sekali masaknya" Maimunah memuji Icha dihadapan Zai, Membuatnya malu dengan wajah menunduk


Zai memilih pembantunya yang semua adalah Janda lima orang yang cukup berumur, Tapi Nenek minta satu orang tambahan yang lebih muda untuk menemaninya.


Meskipun Icha juga janda, Tapi masih janda bersegel.


"Baiklah, Kalau begitu temani aku makan saja, Tak mungkin kan aku mampu menghabiskan semuanya" Ucap Zai yang berjalan ke arah meja makan yang ada didapur dan menarik kursi lalu duduk disana menunggu hidangan di taruh dimeja., Biasa itu dipakai oleh para pembantu makan, Tapi Zai tak memandang tempat, Yang penting dia dapat menikmati makanan tersebut.


"Disini saja Cha, tak perlu ke meja yang lain" Ucap Maimunah menaruh rangsang yang sudah berisi nasi di atas meja lalu duduk.


"Baik Nek!" Icha segera menaruh lauk dan sayur mayur nya diatas meja sesuai permintaaan, dia tidak banyak bertanya ataupun membantah, Karna dia orangnya memang penurut.


"Apakah Farhan sudah memilih mau sekolah dimana?" Zai bertanya sambil mengambil piring, Terlihat sang Nenek memberikan Nasi dipiring itu.


"Kamu makan juga bersama kami" Pinta Zai menatap Icha yang hendak pergi.


Zai tersenyum, "Kata tidak pantasnya simpan saja dalam lemari, Jadi duduklah dan makan yang ada sekarang!" Pintanya dengan lembut.


Maimunah melihat Icha duduk baru dia menjawab apa yang ditanyakan oleh Zai. "Sudah, Tapi bisa kah kamu mengantarnya untuk mendaftar besok?"


"Tentu Nek, Farhan kan adikku, aku pasti bisa lah" Sahut Zai cepat, Lalu mengayunkan satu sendok makanan kesukaannya dan menikmati setiap gigitannya.


Tidak ada pembicaraan, Karna tidak di ijinkan berbicara ketika makan, dan itu tertulis di dinding yang ada di dapur, Zai menerapkan nya dan mereka semua memakluminya.


"Aku akan pergi, Mungkin hingga malam baru Pulang Nek, Ada urusan Bisnis yang harus aku kerjakan" Ucap nya setelah selesai makan lalu mengalihkan pandangannya kepada Icha, "Tolong jaga Nenek dengan baik ya, Aku titip dia kepadamu" Pintanya, Lalu dia berdiri dan mengecup pipi Maimunah dan segera berjalan keluar dari dapur.


"Nenek pasti sangat bahagia memiliki seorang cucu yang yang sangat baik dan perhatian seperti Tuan Zai" Ucap Icha sembari membersihkan sisa makanan.

__ADS_1


"Itu adalah sebuah anugrah yang dikirim pencipta kepada ku Cha"


Mereka berdua pun saling berbagi cerita hingga sore tiba...


..............


Zai masuk ke Mobilnya dan melaju dengan santai di komplek itu, Dia melewati sekelompok anak yang terlihat dimarahi oleh seorang lelaki yang cukup tua, Zai menghentikan laju Mobilnya dan menepikannya karna dia mengenal siapa anak yang dimarahi tersebut.


Sebuah tangan mengayun, Farhan memejamkan matanya tak kuat jika harus menerima pukulan itu.


Lelaki itu kaget tangan nya ditahan oleh seorang pemuda dan dicengkram dengan kuat.


"Apa salah anak ini Pak? Jadi anda menyelesaikannya dengan main tangan?" Zai bertanya menatap tajam laki laki itu tanpa melepaskan pegangan tangannya.


"Dia mencuri" Ucap lelaki itu


"Tidak Kak, Aku tidak mencuri, Aku ingin membeli tapi dia mengatakan aku ingin mencuri barang miliknya, ketika aku menunjukan uang, dia malah mengambilnya dan mengusirku Kak, Tentu aku tidak terima dan ngotot minta uangku kembali, Tapi dia marah dan langsung ingin memukulku" Farhan menangis menceritakannya


"Hei gembel, Akui saja bahwa kau mencuri, Mana mungkin kau punya uang untuk membeli"


Zai tentu geram mendengar Adiknya Farhan dituduh mencuri, Tangan kanannya langsung melayang kearah tenggorokan dan mencekik, lalu mengeluarkan tenaganya sedikit dan mengangkat tubuh orang itu setinggi setengah meter.


Orang orang mulai berdatangan menyaksikan perseteruan mereka.


"Apa kau tau siapa orang yang kau tuduh pencuri? Dia adiku! apa kau mau tau akibat dari memukul Adikku? Hah!" Zai melemparkan tubuh orang itu kearah tiang listrik yang berdiri tegak tanpa salah.


Braaak..! "Aku tidak membunuhmu, Bukan karna aku takut, Tapi hanya karna aku menghormati penghuni komplek, Jika aku mendapati adikku, di tuduh lagi, saat itu aku takkan segan" Zai menatap orang itu yang meringis kesakitan, mungkin ada beberapa tulang punggungnya yang patah hingga dia tak bisa bangkit berdiri. lalu Zai menatap kerumunan, "Ini berlaku juga untuk Siapapun, Jika ada yang membuly adikku, Maka akan berurusan dengan ku" Ucap Zai dengan lantang.


Kerumunan yang menyaksikan perkelahian mereka segera bubar karna tak ingin bermasalah.

__ADS_1


"Farhan, Kakak kan sudah banyak belikan baju yang bagus, Kenapa masih memakai baju model lama ini, Kamu harus beradaptasi dengan kehidupan barumu, jangan biarkan orang lain membulymu, jadilah manusia yang tegas, berani dan punya prinsip. Jangan mau di tindas ataupun tunduk kepada siapapun, Kecuali orang tua, Keluarga dan guru"


__ADS_2