
Mei Chan membuka habis kancing baju dan menyibakkannya ke kedua sisi
Degh!!
'Mengapa jantungku berpacu dengan cepat? seperti genderang mau perang. Apakah ini namanya gejolak yang dihasilkan dari pertemuan dua kulit, Setiap aku menyentuhnya. Tubuhku kian memanas dan terdapat aliran deras air yang mengalir, Aku dapat merasakan dengan jelas hal itu'
Pikiran Mei Chan melayang kemana-mana seperti tidak lagi berada ditubuhnya. Tanpa dia sadari ikatan yang berada di pergelangan tangan Zai sudah terputus.
Zai membanting tubuh langsing bak bidadari itu. dia mencengkram dengan keras kedua tangan Mei Chan dan menaruhnya di atas dipan lalu tangan satunya menahan leher mulus wanita itu.
"Apa kau tak pernah merasakan sentuhan lelaki hingga kau ingin menjadi liar, Aku akan memuaskanmu, Terima persembahanku" Zai langsung mencium bibir mungil yang terbuka itu dan meneroboskan lidahnya menyapu bibir yang belum terbiasa. Dia sekarang mengerti mengapa wanita ini begitu malu, ternyata dia sangat polos tentang hubungan antara laki-laki dan wanita.
Mei Chan memberontak tapi dia tidak memiliki tenaga sekuat Zai. Meskipun dia kultivator juga, tapi bila dihadapkan dengan orang yang lebih kuat darinya mana mampu melawan.
Sekarang saatnya sang penjelajah beraksi. Dengan tangan kedua tangan yang tak melepaskan pegangannya. Zai terus mencium bertubi-tubi. dengan sedikit brutal dia melakukannya.
Perlahan dia melepaskan tangannya yang berada dileher hanya untuk menangkup bukit sebelah kiri dengan telapak tangan besarnya..
Sangat lembut dan begitu hangat. Mei Chan langsung tersentak dia menggigit bibir merah mudanya hanya untuk tidak berteriak karna perlakuan itu.
Lalu Zai membuka paksa pakaian itu dengan merobeknya. Dia seperti Monster yang kerasukan sekarang, Entah karna apa. yang pasti nalurinya sekarang tak tertahankan. dengan tubuh yang kini berada diatas Mei Chan. Zai memandang keindahan itu sebentar sebelum mengeksekusinya.
Apakah ini bisa disebut perkosaan? entahlah!
............
Dua orang datang dengan Speedboat yang melaju naik hingga kejalan dan berteriak. "Minggir kalian" teriak Yao Yan dengan bahasa yang sulit dipahami oleh orang awam.
__ADS_1
Tapi para penjaga yang berdiri disana cukup memahami maksud walau tak mengerti arti kata itu. sebab mereka dengan jelas melihat Speedboat yang naik dan melayang ingin menabrak mereka. jika tidak minggir kecelakaan pasti dialami.
Gilbert melompat dari Speedboat begitu pula dengan Yao Yan. Mereka mendarat sempurna.
Sedangkan speedboat terus melaju dan dibiarkan menghantam tembok hingga ledakan terdengar.
Boooom!! Speedboat itu hancur. bukan tidak mungkin jika ada yang mendekat akan ikut hancur.
Enam orang berdiri dengan gagah berani dan ada banyak orang yang terkapar ditanah tanpa berani berdiri. Jika mereka berdiri maka akan ada ombak yang datang menerjang karang.
Jelas para penjaga itu sadar, Orang yang dilawan seperti dewa, sedang mereka hanya mahluk fana. Seperti semut yang akan diinjak jika berani mencoba menggigit.
Ao Tian yang mereka anggap orang kuat yang bisa mengalahkan sepuluh orang dari mereka sekaligus, dibuat sekarat hanya dengan satu orang saja yang maju. bagaimana kalau ke enam orang itu yang maju? pasti mereka semua akan binasa tanpa tau bagaimana caranya mati.
Ao Tian merengek kesakitan setelah tidak mampu lagi berdiri dengan kaki kanan yang patah pada pangkal paha. Dengan tendangan yang super cepat itu, bagaimana mungkin dia akan tahan?
"Kakak! Balaskan dendamku-" nafasnya berakhir begitu saja. Sebab bukan hanya kaki yang patah. tapi dadanya pun dibuat berlubang oleh pukulan keras dengan Qi dari Hendri.
"Adik!!" Yao Yan memiliki mata yang merah. Dia begitu sayang dengan adik iparnya itu. entah karna alasan apa. yang pasti ada air mata yang tumpah menyaksikan kematian Ao Tian dalam dekapannya.
Gilbert berdiri didekat Yao Yan dan berkata. "Aku akan menghadapi mereka lebih dulu, Telpon yang lainnya dan minta secepatnya kesini!" Katanya kepada Yao Yan, lalu menatap ke enam orang yang kini berdiri menatap dirinya. "Siapa kalian, mengapa menggangu kami, Hah!?" tanya Gilbert.
Gilbert ini memiliki perawakan yang bagus. dengan tubuh setinggi dua meter dan kekar membuatnya terlihat mendominasi. dia sudah berumur lima puluh tahun tapi tidak terlihar seperti usia pada umumnya. mungkin karna dia menyerap Qi hingga mampu menunda penuan dini.
Sadam maju satu langkah dan berkata "Apakah kami perlu alasan untuk memperluas jangkauan kekuasaan kami?" tanyanya.
"Kalian jangan ngelunjak, Aku bertanya ya kalian jawab" kata Gilbert yang mencoba mengulur waktu agar yang lain datang segera membantu.
__ADS_1
Dua buah motor Binelli datang dengan tancapan gas yang siap menabrak siapa saja, jika ada yang menghalangi jalannya. Keduanya menurunkan standar motor dan melepaskan hlem dengan gaya angkuh.
"Kami tidak terlambat bukan?" tanya Oda.
"Sedikit terlambat" sahut Gilbert "Lihat disana, Ao Tian sudah tewas" tunjuk Gilbert lagi.
Kalimat itu sangat menyakitkan dihati, siapa yang tak sakit melihat temannya tewas dalam pertarungan? Pasti hatinya terbuat dari batu.
"Tak perlu banyak omong lagi, Apakah kau pemimpin tau masalah ini?" Tanya sakti tanpa mengalihkan pandangannya kepada enam orang yang berdiri seperti tiang bendera. tak bergerak meski ada angin yang akan datang menerpa.
"Pemimpin masih dalam pelatihan tertutup, Tapi Yao Yan sedang menghubungi yang lainnya. agar secepatnya datang. Kita harus bisa mempertahankan markas ini, Jika tidak, kita akan malu dengan pemimpin nanti ketika kita bertemu" kata Gilbert dia maju dan berdiri sejajar dengan Sakti dan juga Oda.
"Tentu, Tapi mereka bukan manusia biasa, Jika tidak, tak mungkin Ao Tian kalah dan mati sedanhkan mereka berenam baik-baik saja" Kata Sakti memberi penilaian.
"Mungkin mereka main keroyokan" timpal Oda, dia memang sedikit bodoh, yang ditonjolkannya hanya kekuatan saja bukan otak.
Segera Oda mengambil senjatanya yang ada dimotor Benelli yang tidak jauh dari tubuhnya, Senjata yang sering dia pakai dalam melakukan pembunuhan, itu adalah senjata berupa kunai dan juga suriken kecil yang bisa dilempar dan kembali karna diatur dengan Qi. dia memesan khusus dua senjata itu dengan harga yang cukup mahal. Namun sangat efektif dalam membunuh target tanpa menyentuhnya.
Sakti juga mencabut pedang yang berada diselongsong stang Motor Benelli meskipun tidak panjang namun juga tidak terlalu pendek seperti kunai.
Sedangkan Gilbert adalah petarung tinju bebas.
Mereka bertiga bersiap dengan gaya tempur mereka. dan semua berteriak..
Hiaaaaat!!
Sadam berdiri dengan santai, dia memantik api dan menyesap rokok yang ada dimulutnya. Satu sesapan langsung dia lemparkan kedepan kearah Gilbert yang tak memakai senjata dengan energi Qi yang dicampurnya pada batang rokok itu membuat api seketika menyala dengan cukup panas menghantam dada Gilbert.
__ADS_1