
Nelson tidak menyangka hal yang seperti ini dapat terjadi, Dia tau pemuda itu kuat, Tapi tidak percaya sekuat ini hingga bisa menjatuhkan nya.
Mungkin ini memang kelengahan nya, Tapi tendangan lawan memang sangat keras hingga memaksa beberapa giginya patah. Sekali lagi dia meludahkan seteguk darah dan terbatuk.
Uhuk... Uhuk..!
Nelson bangkit, Dia melihat Assassinnya melawan satu orang yang entah dari mana datangnya. itu sangat aneh memang karna dia sudah memastikan bahwa pemuda itu datang sendiri. Tapi itu bukan suatu hal yang patut di pikirkan terlalu panjang, Karna hal yang utama adalah membunuh pemuda dihadapannya dengan tangan nya sendiri.
Kebenciannya bertambah karna merasa malu, Di tambah cucu pewarisnya yang kini terbaring dirumah sakit, Dengan patahan tulang selangka yang mencekung kedalam.
Dokter mengatakan bahwa Fatur meski sembuh akan tetap cacat karna tulang selangka menyumbat jalan darah di setengah tubuhnya.
Mengingat Hal itu, Nelson semakin murka, Dia berdiri menatap tajam pemuda yang berjalan santai kearahnya.
"Tadi aku memang lengah" Gumamnya. Dia mengambil sesuatu di saku nya dan menaruhnya di telinga, Dan memanggil bantuan.
Tapi tidak ada yang menyahut, 'Sangat aneh' Batinnya. lalu dia memandang pemuda dihadapannya.
"Brengsek, Apa yang terjadi dengan anak buahku" Gumamnya kesal dan menendang kursi kayu yang ada di dekat kakinya.
Kursi kayu itu melayang ke arah Zai, Zai hanya memiringkan sedikit tubuhnya untuk lepas dari kursi kayu tersebut.
Braak..! Kursi itu hancur sendiri terkena dinding beton.
Zai tersenyum, Karna dia tau bahwa pasukan bayangannya yang notabenenya adalah kultivator pasti mampu melawan semua pasukan yang berada dekat dengan mension.
"Jika sebelumnya kau bertanya kepada cucumu karna apa aku melumpuhkannya, Seharusnya kau tidak akan melakukan hal yang seperti ini, Tapi sayang orang tua sepertimu harus berakhir seperti ini" Ucap Zai sambil menggelengkan kepalanya, Dia mulai berjalan cepat. dan memulai serangan nya lagi, Kini dia memainkan kakinya lebih dulu sebagai pembuka.
Mereka berdua beradu kaki, Kanan kiri saling berbenturan hingga Nelson kembali termundur Zai langsung menerjang dengan gaya berputar menedang dada Nelson.
Nelson kembali terbang hingga menabrak dinding beton dan meretak kan nya sedikit, Terlihat seperti ada sarang laba laba yang terbuka di belakang Nelson.
Zai mencengkram tubuh tua itu di lehernya lalu bertanya kembali, "Siapa cucumu?"
Nelson ingin menjawab tapi tidak bisa. karna cekikan Zai mencengkram dengan kuat.
Zai langsung mematahkan batang leher Nelson tanpa ingin mengetahui siapa Nama Cucu Nelson.
Sedangkan Nomor satu juga sudah mengalahkan Assassin yang di lawannya. "Tuan, Kita apakan semua orang ini?" Tanya Nomor satu yang mendekati Zai yang sudah melepaskan tubuh Nelson
"Kumpulkan Semua yang mati dan bakar, kumpulkan juga yang masih hidup, Ikat.." Ucap Zai menyuruh Nomor Satu.
__ADS_1
"Baik tuan" Sahut nya cepat dan segera keluar menemui sembilan orang lain nya.
"Tunggu sebentar, Ganti pakaian kalian dengan pakaian Moderen, Aku tak ingin jika kalian muncul memakai pakaian kultivator" Ucap Zhang San lagi.
"Dimengerti Tuan" Sahutnya.
'Sistem, Cari lokasi Cctv'
(Ding.. Lokasi ditemukan, Lurus, Belok kanan, Lurus beluk kanan, Tuan akan menemukan ruang Cctv)
Zai berjalan mengikuti arahan yang dikatakan oleh Sistem, Rumah Nelson begitu besar hingga perlu waktu untuk menemukan nya ruangan Cctv.
.........
Didalam ruangan Cctv Zai duduk dan mengeluarkan Leptop yang ada di inventory nya kemudian membukanya.
'Sistem, Beli Skill Peretas super, Dan langsung pakai Poin Sistem untuk meningkatkan nya' Pinta Zai
(Ding... Skill Peretas Super berhasil dibeli)
(Ding... Memakai 10 Poin Sistem untuk meningkatkan pemahaman nya menjadi level 5)
Note: Setiap pembelian Skill akan berada pada minimum Level yaitu level 4.
Bunyi ketikan Keyboard terus bersahutan, Dan Zai menekan tombol Enter setelah menyelesaikannya peretasannya.
"Akhirnya semua rekaman Cctv sudah bisa dihapus. Akan sulit jika ada bukti atau saksi" Gumamnya lalu berdiri dan keluar dari ruangan itu.
Dan Zai juga meretas data kepemilikan mension itu yang kini berubah atas namanya sendiri dan juga semua Data perusahaan berpindah tangan atas Namanya.
Diruang tamu sudah berdiri sepuluh orang yang sudah memakai pakaian Moderen tidak lagi terlihat tanda seorang kultivatornya, Hanya rambut panjang yang di kuncir yang masih ada.
"Apakah kalian punya nama?"
Sepuluh orang itu menggeleng.
"Aku akan memberikan kalian nama"
Nomor Satu, Sadam. Nomor Dua Ilham. Nomor Tiga Saha. Nomor Empat Rey. Nomor Lima Ali. Nomor Enam Luky. Nonor Tujuh Irfan. Nomor Delapan Jani. Nomor Sembilan Jaya. Nomor Sepuluh Hendri
"Terima kasih sudah memberikan kami Nama" Ucap mereka sembari membungkuk.
__ADS_1
"Baiklah, Tujuh dari kalian akan tinggal disini, Dan menjaga Mension ini, Kalian bisa memakai semua apa yang ada disini dengan gratis. dan tiga di antaranya akan mengikutiku, Siapa yang mau ikut dengan ku?" Tanya Zai
Mereka saling pandang, Dan Nomor satu atau Sadam lebih dulu maju, "Biar saya ikut bersama Tuan" Ucap nya.
Setelah itu dua orang maju mengikuti Jejak Sadam.
"Sadam, Jani, Jaya Bersembunyilah dalam bayangan ku" Perintah Zai lalu dia menambahkan kembali "Jika ada yang menganggu atasi saja dengan cara kalian, Tapi ingat jangan meninggalkan bukti atau saksi, Dimana kalian mengikat orang yang masih hidup?"
"ikuti saya Tuan" Ucap Hendri yang terlihat paling muda di antara mereka.
Zai berjalan di belakang Hendri, Dan di belakang Zai ada Enam orang yang mengikuti.
Meskipun kawasan itu sudah aman, Tapi mereka tetap mengawal Tuan Mereka dengan baik. di perjalanannya Zai banyak melihat bekas darah yang belum mengering dan sisa kehancuran bekas pertarungan.
"Kalian berenam Bersihkan tempat ini, Jangan ada sisa darah dan sisa kekacaan diluar Mension atau didalam, Apa kalian mengerti?" Tegas Zai.
"Mengerti Tuan" Sahut mereka bersamaan.
Zai meninggalkan Enam orang itu bersama dengan Hendri yang berjalan didepan..
Terlihat dari kejauhan dua puluh orang yang terikat tali pada tangan mereka dan juga kaki agar tak ada yang lari.
"Hanya mereka yang hidup tuan, Tapi mereka sudah ada yang patah tangan dan ada juga yang patah kaki, Dan ada sebagian yang juga kehilangan anggota tubuh mereka" Ucap Hendri
"Terima kasih Hen, Istriahatlah" Ucap Zai menyuruh Hendri.
Tapi Hendri hanya mundur kebelakang Zai, Tidak pergi, Tetap berdiri dalam diam.
Zai maju selangkah, "Jika ada diantara kalian yang ingin hidup? Maka tunduklah padaku!"
"Aku ingin hidup, Ampuni aku" Terlihat yang bersuara mengangkat tangan nya yang terikat.
"Aku juga.."
"Aku Juga."
"Aku.."
"Aku..."
Pada Akhirnya ke dua puluh orang itu berkata ingin hidup semuanya.
__ADS_1
Karna mereka memiliki keluarga yang menunggu mereka dirumah, Meski pun pekerjaan mereka berbagi dengan nyawa keuntungannya. tapi tetap mereka jalani karna tak ada pekerjaan yang lain.