
Vera Oktaviana
Vera memasuki kamar utama milik Zai, dia sebenar nya tidak tau bahwa sang pemilik sudah berada dirumah atau lebih tepat nya mandi di kamar nya.
Dia masuk tanpa beban, Dia ingin membersihkan kamar penolong nya, Tapi siapa sangka yang akan terjadi, begitu kamar mandi terbuka dia melihat belelai yang panjang dan besar menggantung di tengah tengah tubuh nya,
Vera terkejut hingga dia berteriak kencang, Tapi tangan besar itu terulur dan langsung membekap mulut nya. Dan dia sangat merasakan sesuatu itu mulai membesar dan memanjang, Tidak ada belalai lagi, yang ada tongkat sakti yang menjulang tinggi.
Zai dapat mencium harum wangi dari tubuh Vera, Hal membagongkan itu hampir semenit terjadi, Tidak ada yang bersuara dari kedua nya, mereka larut dalam pikiran mereka masing masing.
"Jangan teriak lagi" Ucap Zai di ujung telinga Vera membuat nya geli dan menggerak kan kepala. Setelah itu dia mengangguk.
Zai pun melepaskan tangan nya dari mulut Vera.
"Cepat kakak mundur, itu nya terasa" Ucap Vera malu, dia tak menduga akan kejadian yang seperti ini. Dia langsung berbalik dan berlari keluar dari kamar, Sebelum menutup rapat pintu dia sempat mengintip sebentar, Membuat pikiran nya melanglang buana..
Dan Zai pun menyadari itu, "Pura pura malu tapi mau, Mengintip juga kan" Gumam nya sambil menggelengkan kepala. Dia menuju lemari dan mencari pakaian nya.
Sedangkan di dalam kamar nya Vera memiliki wajah yang panas dan sangat merah seperti tomat. Adegan itu masih terbayang di ingatan nya dan terus berputar seperti Rekaman DVD. Dia tak bisa menghilangkan nya, Semakin memejamkan mata semakin jelas teringat akan sentuhan nya.
"Aku akan gila jika seperti" teriak nya dari dalam kamar...
Sehabis dari dapur mencari cemilan, Ferdinan kembali kekamar nya yang bersebelahan dengan kamar adik nya. Tapi dia Mendengar suara teriakan dari kamar adik nya dan dia langsung mendorong pintu dengan keras. "Apa yang terjadi?" Tanya nya sambil melangkah mendekati adik nya yang berdiri di atas kasur
"Eh...! Tadi ada kecoa Kak, tapi kini sudah pergi" Ucap nya berbohong. Tak mungkin kan dia mengatakan yang sebenar nya, Bisa bisa dia akan habis di marahi oleh Kakak nya itu, Karna memang dia yang salah masuk kamar laki laki lebih dulu.
"Ooh, kalau beegitu Kakak tinggal dulu, Kakak mau kembali ke kamar, Jika ada apa apa panggil saja kakak" Ucap Ferdinan setelah mendengar jawaban Adik kesayangan nya itu.
"Oke kakak" Sahut nya tersenyum 'Fuih, Hampir saja' Vera menghela nafas lega setelah kakak nya keluar dan menutup pintu kamar nya.
__ADS_1
Di sisi yang berbeda..
Juliana Xiao tampil cantik dengan pakaian nya. Emang jika pada dasar nya cantik memakai pakaian apapun tetap cantik. Dia berkaca dan merias wajah nya. Dia menampilkan pesona kematangan dari seorang wanita.
Meski janda, Tapi janda yang menggoda. Siapa yang bisa tahan..
Dia mengambil ponsel nya dan melakukan panggilan, Dering telpon terdengar dua kali sebelum terjawab.. "Bos tidak lupa janji hari ini kan?" Tanya nya dengan lembut.
"Tentu tidak, nanti akan ku jemput, acara nya di mulai jam berapa?" Tanya Zai.
"Pukul 19:00" Sahut Juli sambil melentik kan bulu mata nya.
"Sebentar lagi aku akan kesana!" Zai langsung memutuskan telpon nya.
Juli keluar dari kamar dan mendapati anak nya bermain game dengan ART. "Rendy, Ibu akan Reunian sebentar, kamu dirumah sama bi Ati ya, ingat jangan nakal, Nanti ibu akan belikan apa yang kamu suka" Ucap nya sambil membungkuk dan mencium kening anak nya yang berusia lima tahun itu.
"Eh...!" Juli terkejut mendengar kalimat itu, lalu dia memandang ke arah Bi Ati dengan mata melotot, tapi dia tak mungkin memarahi Bi Ati, "Bi, Jaga Rendy ya"
"Ok Nyoya..!!" Sahut nya. Bi Ati ini tidak lah terlalu tua, dia Cukup muda dan juga seorang janda. tapi kita tidak perlu membahas dia. Karna dia hanya figuran semata.
-
-
"Kamu sangat cantik" Puji Zai saat Juli masuk kedalam mobil nya. Juli hanya tersipu malu, entah mengapa dia tak tahan dengan pujian dari Bos nya itu.
Hotel Rattan Inn Banjarmasin bertempat di jalan Ahmad Yani Pemurus dalam...
Sudah banyak puluhan mobil mewah terparkir disana, tapi yang paling terlihat mewah tentunya milik Zai.
__ADS_1
Mereka berdua keluar dari mobil dan menuju lobby Hotel dan Juli menyerahkan kartu undangan, Dan pelayan mengarahkan mereka ke tempat acara di adakan.
"Aku akan ke toilet dulu" Ucap Zai, melihat Juli mengangguk dia langsung meninggalkan nya sendiri di sana.
"Hay Juli, Kamu sangat cantik malam ini, Sini gabung dengan kami!" Ucap salah satu wanita disana dia mendekat dan menarik tangan Juli.
Juli mengikuti nya dan mereka pun bergabung. Hay teman teman, Lama tidak bertemu" Ucap Juli menyapa, Mereka berpelukan dan cipika cipiki, Sesama perempuan itu sudah biasa.
Semua mata lelaki yang ada di tempat itu memandang ke sosok Juli yang begitu cantik malam itu, di balut dengan pakaian yang cukup ketat menampilkan dua tonjolan depan dan belakang yang begitu menggoda.
"Sudah hampir sepuluh tahun kita tidak bertemu, Bagimana kabar mu sekarang? Juli!"
"Aku baik saja, kamu gimana San?" Tanya Juli.
"Aku juga baik saja, Kini aku menikah dengan seorang pengusaha, Ku dengar kamu jadi janda sudah lima tahun, Kenapa tidak mencari pengganti almarhum?" Tanya Santi yang memang orang nya agak kepo sejak dulu.
"Nanti aku pikirkan, Tidak usah membahas itu lagi" Sahut Juli dengan wajah yang kehilangan senyum.
"Maafkan aku Juli, Aku tidak bermaksud" Ucap Santi yang melihat perubahan mimik wajah Juli.
"Hay Juli, Kamu tetap cantik seperti biasa nya!" Ucap seseorang lelaki yang baru datang bergabung ketempat mereka.
Zai memandang dari jauh, Dia hanya berperan sebagai lelaki sewaan, Jadi dia harus datang di waktu yang tepat.
Juli berpaling dan wajah nya terlihat gelisah, Orang yang baru datang ini yang paling ingin dia hindari. Dia terus terusan mengejar nya, dari masih SMA hingga sekarang.
Jika Juli tidak tau lelaki itu suka bermain dengan banyak wanita, Mungkin dia juga akan terjerat oleh nya. Tapi untung nya Juli cukup pintar, Dia mencari tau lebih dulu informasi nya. Hingga dia bisa menolak orang itu.
Sosok itu tampan, dan juga generasi kedua orang kaya di kota banjarmasin ini. Banyak yang memimpikan untuk bersama nya, Tapi Juli tidak, yang dia perlu bukan hanya kaya, tapi bahagia.
Tidak ada yang menolak uang, Hanya orang munafik jika ada, Tapi dia berbeda, yang dia ingin bukan uang saja. Tapi kebahagiaan dan kenyamanan itu harus seimbang..
__ADS_1
"Hay juga Rendra.."