
"Bagaimana situasinya?" Tanya Bawi kapada Bahri yang telah kembali dari mengintai markas itu.
"Masih belum ada celah, Tapi apakah kau ingat ada satu jalur rahasia yang pernah kita buat dulu?" tanya Bahri
Kejutan terjadi diwajah Bawi, "Kenapa aku tidak terpikir hal itu, baik, Nanti malam kita akan menyusup kesana, aku penasaran siapa yang berani mengganggu urusan kita, Dia pasti tidak tau siapa yang ada dibelakang Red" Ucapnya dengan hawa dingin dalam tatapannya.
"Sebaiknya istrihat saja dulu, Baru nanti kita menggeledah markas itu" Ucap Sani menimpali.
"Selagi masih siang kita harus memanfaatkan waktu yang cukup untuk mengatur rencana" Imbuh Ucup.
"Kau benar Cup, Kita tak boleh gegabah hingga menyebabkan kita terperangkap disana" Bahri memuji Ucup yang tidak biasanya pintar. "Kapan kau belajar berpikir Cup? Biasanya kau yang tergesa gesa dalam bertindak" Ucapnya lagi.
...................
"Bagaimana pekerjaanmu, apakah betah di kantor Sadewa Group?"
"Jangan bahas hal pekerjaan dulu sayang, Lebih baik kita lanjut lagi, Sebelum ada pengganggu" Ucap Zai lalu mulai menggelitik daun telinga Alisya dengan lidahnya. dan setelahnya dia meraih buah melon dengan satu tangannya lalu memainkan ****** yang ada di tengah yang mencuat.
Alisya mengarahkan Bibirnya untuk pertemuan selanjutnya dan mereka bertukar air liur dengan sangat intens. Hingga rabaan Zai sampai ke parit yang terbelah secara Vertikal dan memanjang seperti daun bambu.
"Dimana kamu belajar memanjakan wanita?"
Zai mengembangkan senyumnya, "Kau tak perlu tau aku belajar darimana, Yang kamu harus tau bagaimana menghadapinya" Selesai berucap Zai menekan sedikit dengan gosokan yang memutar di Area yang sudah terbuka......
Hingga malam pun tiba, Sesi panas mereka akhirnya berakhir pula..
__ADS_1
..................
Sebuah Mobil melaju mendatangi Gerbang besar markas Red Devil, Penjaga gerbang melihat dan langsung membukakan Pintu karna mereka sudah mengetahui Mobil siapa itu.
Torax menurunkan kaca Mobil samping kirinya dan berkata "Kumpulkan semua orang, Ada yang ingin ku sampaikan, Dan tutup rapat gerbang serta beri Gembok yang kuat" Pintanya lalu Udin melajukan mobil menuju halaman tengah.
Udin menghentikan Mobil yang dia kendarai dan segera turun kemudian membuka bagasi dan mengeluarkan nasi padang yang sudah dibungkus lebih dari seratus bungkus.
Beberapa menit kemudian semua orang berkumpul dengan membuat dua buah lingkaran dan Torax berdiri paling tengah.
"Tenanglah kalian, aku hanya ingin menyampaikan satu atau dua hal, Yang pertama Bos memberikan kita makanan dan uang sebagai Bonus atas keberhasilan kita menguasai Organisasi ini, Dan hal yang kedua adalah Bos ingin kita memperketat penjagaan karna dia memiliki firasat akan adanya tamu yang tak diundang, itu saja. Udin, Amat bagikan makanan yang sudah disiapkan tadi"
"Baik" sahut dua orang itu dan langsung membagikan makanan di bantu oleh yang lainnya juga.
"Jika ada yang ingin nambah makanannya ambil saja disini" Ucap Udin lalu menaruh Nasi bungkus yang tersisa di tengah dekat dengan torax.
Meskipun mereka makan hanya beratap langit dan berkursi bumi tapi kebersamaan sangat terasa dan itu melebihi segala alasan yang dipertanyakan.
............
Empat orang terlihat mengendap ngendap dengan perlahan berjalan menyusuri tembok yang menjulang. Dengan kecakapan dan kecepatan mereka bergerak dapat dipastikan mereka adalah orang yang terlatih dengan baik, Mungkin saja mereka mantan polisi, Tentara atau yang lainnya.
"Apa kau yakin disini tempatnya?" Tanya Bawi.
"Aku yakin, Meski sudah puluhan tahun, Ingatanku masih tidak berkurang" Sahut Bahri yang langsung menyibak putri malu yang menutupi jalan rahasia itu.
__ADS_1
"Nah kau melihatnya bukan?" Ucap Bahri lalu menarik Penutup pintu rahasia itu dibantu oleh Sani.
Pintu beton itu mulai tergerak, Lalu Ucup membantu menyungkilnya dengan kayu yang dia temukan dekat dengan mereka. entah itu kebetulan atau tidak, Ucup tidak memikirkan hal itu.
Dengan Pelan mereka menggeser pintu hingga tergeser sepenuhnya, Dan mereka pun masuk kedalam satu persatu.
"Awal nya aku membangun jalan ini hanya karna kesal saja dengan ketua yang melarang kami untuk keluar dari markas sebelum pindah" Ucap Bawi menjelaskan kepada Sani dan Ucup, karna mereka tergolong baru dan bergabung ketika Ketua sudah berada di kota jakarta..
"Hal itu mengingatkan aku akan kenangan kita ketika masih berempat dulu, Kamu, Aku, Parno dan juga isam yang sudah mati lebih dulu" Ucap Bahri terkenang masa remaja mereka.
"Kau benar, Kita hanyalah anak panti yang terlantar setelah keluar dari panti dan selalu di ganggu oleh orang lain, Jika bukan karna kita di tolong oleh Ketua, Mungkin kita masih mengemis dijalanan. Sejak saat itu aku memutuskan untuk mengabdi kepadanya apapun rintangannya, akan tetap menjadi tamengnya"
"Sudah hampir dua puluh lima tahun yaa, Kini hanya kita berdua yang mengikuti bos, Karna Parno dipilih menjaga markas ini" Ucap Bahri.
"Sssssssttttt.. Sepertinya penjagaannya sangat ketat" Ucap Bawi yang melihat beberapa kelompok yang berpatroli.
"Mungkin kah Parno sudah?" Kalimatnya terhenti ketika tangan besar milik Bawi menutup mulut Bahri.
Dari kegelapan dua orang terus saja memperhatikan pergerakan empat orang penyusup.
"Apakah kita tangkap segera" Tanya Jani kepada Sadam yang bersandar pada tembok.
"Tunggu saja dulu, Biarkan mereka bermain sebentar, Kabari torax untuk memainkan Trix" Ucap Sadam.
Jani langsung melesat dan melompat dalam kegelapan..
__ADS_1