
Waktu terus berlalu hingga jam dinding menunjukkan jarumnya diarah delapan, Maira membuka kelopak matanya, Zai yang memperhatikan gerakan pada bulu mata lentik itu langsung tersenyum dengan bersemangat.
Tanpa melepaskan genggamannya pada telapak Tangan Maira! dia berkata. "Maaf!" Hanya kata itu saja yang ingin dia keluarkan, Karna perbuatannya tadi membuat beban mental bagi Maira, Mungkin Maira akan takut nantinya dengan dirinya. makanya sebisa mungkin dia akan menghilangkan efek itu dengan awalan kata Maaf.
Maira menatap langit-langit kamar itu, Dan seketika dia sadar bahwa itu bukan kamarnya. dan merasakan hangat yang mengalir pada telapak tangannya dia pun menoleh dan segera telinganya di dengarkan kata Maaf,
Dengan lekat Maira menatap senyum yang terlukis diwajah Zai itu, dengan bibir yang melengkung sangat mempesona hatinya, Dia pun tersenyum.
Akan tetapi, Ketika kilas balik tentang sifat Zai yang kejam terlintas dalam benaknya dia segera merasa ketakutan dan mundur. "Jangan mendekat!" teriaknya histeris
Untungnya kamar Zai dilengkapi dengan fasilitas kedap suara jadi dia tidak panik ketika Maira berteriak seperti itu.
__ADS_1
Zai mengikuti apa yang diminta oleh Maira, dia mundur dan duduk disofa panjang yang juga ada dikamarnya. lalu berkata "Maaf Mai, aku bersikap seperti itu hanya ingin melindungimu, Jika tidak begitu mereka pasti akan membunuhku, dan entah apa yang bakalan terjadi kepadamu jika aku sudah tidak ada. mungkin mereka akan melecehkanmu" Ucapnya sambil saja matanya menatap Maira dengan beberapa kedipan.
"Tenanglah Mai, Aku tidak akan menyakitimu, Malahan aku sayang kepadamu!" Ucap Zai dengan Skill merayu yang mampu meluluhkan siapapun yang mendengar ucapannya. Jelas Maira tersentuh karna tangannya memang disentuh oleh Zai, Entah bagaimana caranya Zai bisa berpindah tempat hanya dengan satu kedipan mata Maira.
Namun Maira tidak menepis tangan Zai yang mulai mengangkat tangannya untuk dikecup, Dia kembali merasakan kehangatan ditelapak tangannya, Itu karna Zai mengalirkan energi Qi miliknya untuk merileksasikan tekanan darah yang meningkat ditubuh Maira hingga dia merasa hangat dan nyaman.
"Maafkan aku juga Zai" Ucapnya sambil menghapus air mata diwajahnya sendiri, Hatinya berbunga ketika Zai mengatakan kata Sayang untuknya. "Tapi jangan lakukan hal itu lagi, Aku sangat takut!" Tambahnya lagi sembari merebahkan kepalanya pada bahu Zai
Suara itu cukup nyaring membuat kejutan dikepala dua orang itu, Dan mereka langsung menoleh bersama dan mendapati sosok tua yang berdiri dengan kedua tangan yang berkacak pinggang.
__ADS_1
"Eh ada Nenek! Kami tidak ngapa-ngapain kok Nek" Maira lebih dulu menyahut dan segera memindahkan tubuhnya yang sebelumnya berada dalam pelukan Zai.
Ini seperti dua orang yang sedang terciduk melakukan hal yang mesum, Mereka bertingkah lucu.
Zai hanya nyengir saja melihat Nenek Maimunah yang terlihat marah, Dia tau itu hanya Akting saja, lalu berkata kepada Maira, "Sudah malam, Aku akan mengantarmu pulang!" Katanya
"Mm" Maira mengangguk lalu mendekat ke arah Neneknya Zai dan mengulurkan tangannya. Maira bersalaman sambil mencium tangan Neneknya Zai lalu berkata "Nek! Aku akan pulang, Nanti aku akan bertamu kembali" Ucapnya.
Maimunah pun tersenyum lalu mengusap pucuk kepala Maira dengan penuh kasih sayang lalu mencium pipi kanan dan kiri Maira secara bergantian, Kemudian berkata "Hati-hati! Jaga kesehatan, Jangan sampai pingsan lagi"
Maira sedikit bingung namun dia tidak memikirkan hal yang berlebih lagi, dia mengikuti Zai karna tangannya sudah ditarik.
__ADS_1