
Malam sudah mulai larut. Hiruk pikuk kehidupan malam tetap berjalan sesuai dengan kata semakin malam semakin asik untuk Kota Jakarta.
Dua buah Mobil yang berisi enam orang masih memperhatikan Arah sebuah Cafe yang masih terlihat lalu lalang manusia keluar dan masuk. Namun mereka masih terus menunggu target yang mereka incar.
"Apakah didalam belum ada kabar?" Parno bertanya kepada seseorang yang berada diluar Mobil yang terus berkonsentrasi. "Kalian yakin tidak sih orang yang kita incar ada didalam, Atau jangan-jangan kita hanya menunggu kafilah yang berlalu"
"Temanku masih memantau Bos, Entah mengapa mereka berdua masih juga belum keluar dari Cafe itu." Sahut orang itu. Dia sedikit kesal terus dikoceh. Namun dia tentu tidak berani untuk mengatakan kekesalannya.
Sedangkan di Mobil satunya dengan kesal juga Anton berkata "Harus berapa lama lagi menunggu? apa tidak bisa langsung menangkap orangnya?" tanyanya kepada satu orang yang juga berada diluar. dia sudah hampir satu jam menunggu kepastian target dan dia juga sudah tidak sabar untuk menghukum target karna begitu berani mengguncang kaki naga yang sedang tidur.
"Kami ke Toilet dulu sayang!" ucap Aisya mengajak Alisya setelah meminta ijin kepada Zai.
Sedangkan Zai menatap pelayan wanita yang masih melihatnya dengan intens.
"Itu saja pesanannya. Aku ada suatu hal yang harus dikerjakan, Antar saja langsung makanannya ke meja ini" Ucap Zai yang juga langsung berdiri
Dia melihat ada dua orang yang begitu mencurigakan, Terus mengawasi dirinya diseberang sana. Lalu dia berjalan ke arah pojokan dan pura-pura menelpon seseorang dan menghadap ke dinding.
Seperti yang dia perkirakan dua orang itu mendatanginya dan langsung menyerang dirinya dari belakang. Namun Zai sudah bersiap dengan antisipasi. Dia segera membalas ketika pukulan salah seorang tidak mengenainya. Pukulan beruntun dia berikan di arah perut.
Bugh bugh bugh. Tiga kali gedebuk membuat orang itu langsung jatuh berlutut.
__ADS_1
Sedang yang satunya ingin berlari, Tapi Zai tidak membiarkan semua berjalan mudah. Dia melempar satu jarum dan itu mengenai punggung dan mengunci jalur darah.
Hingga orang itu langsung terjatuh.
Di sisi yang berbeda. Anton, dia sudah tidak sabar lagi untuk menunggu, Dia mendorong pintu Mobil yang dia naiki lalu berjalan sendiri " Jangan ada yang mengikuti. Kalian cukup pantau saja dari jauh, Biar aku yang menyelesaikannya" Ucapanya cukup nyaring agar yang lain mendengar.
Dia pun memasuki Cafe tersebut dan disambut oleh keramaian yang banyak pasangan sedang bersantai menikmati Kopi. Dan kebetulan itu malam minggu, Malam yang panjang untuk kaum jomblo.
Dia melihat dua wanita yang sama persis dengan yang ada di ponsel Si-Hitam, Rupanya dia sempat mengambil momen untuk memotret duo cantik itu. Hingga memudahkan mereka dalam pencarian. Karna Anton adalah anak angkat dari Bos besar sekaligus penguasa dunia bawah. Mudah untuknya melacak seseorang, Asalkan dia memiliki cukup ciri yang spesifik dan juga setidaknya Photo.
Dia mendekat ke arah Dua wanita yang sepertinya datang dari Toilet. Merasa dirinya juga tampan dia mendekat. Terpana memang, Siapa yang tidak terpana melihat duo kecantikan itu berjalan bersama. "Ahem" Anton beredehem untuk membuat mereka berdua menoleh.
Tapi sayang yang dilakukannya tidak membuahkan hasil. Kemudian dia berbicara langsung dengan pedenya "Darimana kah duo bidadari ini, Sempat-sempatnya mampir dicafe" Niat hati ingin memuji agar jebakannya dapat dilakukan. Namun siapa sangka, Hanya salah satu yang menoleh dan berkata.
Anton jelas naik pitam ketika dia dikatakan seperti biayawak, Wajahnya memanas dan dia mengayunkan tangannya untuk menampar Aisya. Namun Aisya gerak cepat. Dia sudah melihat gelagat itu, jadi dia menghindar lebih dulu.
"Gadis pintar" Gumam Zai yang melihat semua itu. Dia sekarang berada disudut dan membekuk dua orang yang sedari awal masuk Cafe mengikuti mereka.
Zai mengeluarkan ponselnya lalu berkata setelah tersambung. "Kalian tunggulah didalam, aku ada urusan sebertar saja!" Pinta Zai
"Mm" Sahut Aisya pelan, Lalu memutuskan sambungannya dan menikmati keindahan layaknya orang lain yang bahagia. Meski dia merasa tidak enak pada hatinya. Namun dia hanya bisa berdoa untuk keselamatan Zai. Mereka kompak berdoa dengan perasaan yang hampir sama.
__ADS_1
Zai membiarkan dua orang itu pingsan di ujung koridor yang tidak terlihat cctv. Seandainya dua orang itu tidak bertindak, Hanya menunggu, Tentunya Zai tidak akan bisa membekuk mereka.
Zai mengikuti sosok muda yang terlihat lebih kuat dari pada Alvaro yang telah dia bunuh. Dia masih tidak tau apa yang akan dilakukan oleh Orang itu. sepertinya orang itu juga mengincar wanitanya.
Hingga sosok itu sampai pada meja yang dimana Aisya dan Alisya duduk. Dia segera berkata "Kalian berada dalam pengawasanku" Ucapnya lalu menjauh dari tempat itu. Dia keluar dari Cafe.
Zai mendengar apa yang dikatakan oleh pemuda itu, Namun dia tidak ingin membuat rusuh di tempat orang. jadi dia tidak mengambil keputusan yang merugikan orang lain. Meskipun dia bisa menggantinya. Akan tetapi, Itu usaha orang akan tutup jika sebagian hancur.
"Ayo kita pergi" Ajak Zai yang datang.
"Oke.." sahut keduanya
Zai segera membayarkan semua makanan yang dikonsumsi lalu dengan segera keluar dan mendekati Mobil. Tapi, ada beberapa orang yang sedang menunggunya dan duduk diatas Kap mobil Xenia miliknya.
Zai tidak terlalu perduli, Dia segera menekan Tombol kunci dan langsung menyuruh kedua wanitanya untuk masuk kedalam Mobil.
"Aku tidak tau siapa kalian, Dan aku tidak peduli kalian mau berbuat apa? Tapi jangan ganggu aku saat hatiku sedang tidak ingin diajak bercanda." ucap Zai santai.
Empat orang yang duduk di Kap Mobilnya masih tidak berpindah. tapi Zai sudah tidak menghiraukannya lagi. dia membuka pintu namun melihat ke arah Ban Mobilnya yang bocor. Segera amarah dalam dirinya bangkit. dan dia menutup pintu lagi dan berkata. "Tangan siapa yang melakukannya?" dia berkata pelan. Namun benar-benar membuat Zai kesal. mereka bahkan tidak menjawab. Bagai patung yang ditaruh di Kap Mobilnya. "Baiklah jika kalian memang menginginkan kekerasan aku akan mengabulkannya"
Zai mengeluarkan Empat buah jarum Pembalik dan langsung melemparkannya secepat kilat. Tanpa mereka sadari jarum itu melayang kearah leher mereka dan mengunci jalan darah mereka.
__ADS_1
Hingga dua tarikan nafas Empat orang itu terjatuh dari Kap Mobil dengan tubuh yang bergetar, Memiliki mata yang melotot dan mengeluarkan busa dimulut.
Zai mengambil dongkrak dan mengganti Ban dengan cepat. Setelah menyelesaikan urusannya dia segera masuk ke Mobil dan meninggalkan empat orang yang hendak menghembuskan nafasnya...