
"Awas yang punya Mobil datang" kata salah satu dari wanita yang memegang ponsel. Semunya yang berjumlah ada sepuluh orang di dua Mobil itu bergeser.
Zai memberikan kunci Mobil itu ke tangan Orlando. dan Orlando dengan sigap mengambilnya. dia masuk kedalam Mobil bersama dengan Istrinya.
"Kirana pulang dengan siapa?" tanyanya setelah tidak ada tempat untuknya duduk.
"Iyaya Pah! anak kita pulang pakai apa? mana Ayla butut kita?" Tanya Rianti kepada Orlando.
Orlando menatap Zai. "Kemana Ayla?" Tanyanya
"Aku kasih sama teman Om! Tapi aku Nanti aku ganti. maaf aku lupa mobil ini tidak untuk tiga orang yang besar" Ucap Zai menggaruk kepalanya. dia terlihat malu. "Begini saja. kita beli Mobil saja. bagaimana?" Zai bertanya.
"Tidak perlu nak!" Sahut Orlando cepat. "Aku tak ingin membebankanmu terlalu banyak.
"Emmm.... Bagaimana kalau Mobil ini aku ambil. Tapi aku ganti dengan dua Mobil yang lumayan mahal, Gimana menurut Om dan Mamah?" Zai bertanya meminta solusi.
"itu lebih baik, Om juga tidak terlalu terbiasa dengan Mobil semahal ini" Sahut Orlando "Bagaimana denganmu sayang?" Tanya Orlando kepada Rianti.
"Aku oke-oke saja sih. Nak Zai juga kasian, Sudah mau belikan Rumah. beri Mobil dan juga memberi perusahaan untuk kita. tentu aku akan setuju dengan apa yang direncanakannya" Sahut Rianti, dia lalu menatap Zai calon menantunya itu dengan tatapan lembut. "Ayo kita beli yang baru dan tukar yang ini!" Katanya kepada Zai. sambil menunjuk Mobil Bugatti Chiron.
"Kita duduk disana saja" Tunjuk Zai kearah taman dan disana terlihat ada tempat untuk duduk santai.
"Gak jadi ke dealer?" Tanya Rianti bingung.
"Kita nunggu Mobilnya datang kesini! Kita pesan, Mamah mau yang mana?" Zai yang kini bertanya
"Aku mau HRV keluaran terbaru" Ucap Rianti tanpa malu. "Kirana! Kau mau Mobil apa?" Tanya Rianti menatap Kirana.
__ADS_1
"Terserah Kak Zai saja" sahut Kirana malu.
Zai membuka internet dan mencari Mobil yang diinginkan oleh calon mertuanya itu. Lalu dia memesannya dan tinggal menunggu pesanan datang.
Setengah jam menunggu. Tiga buah Mobil yang sama hanya berbeda warna saja datang ke halaman Resto itu. Dan Zai berdiri untuk menyambut manager yang katanya mengantar sendiri pesanan miliknya.
Dia menelpon manager yang pernah mengantarkan Honda Gold Wing saat itu kerumahnya yang ada dibanjarmasin dan kebetulan dia sedang dipindah tugaskan berkat promosi penjualan Honda Gold Wing milik Zai itu.
Sekarang dia turun dari Mobil dan menyapa Zai. "Apa kabar Pak Zai! sudah lama sekali tidak bertemu dengan anda. dan terima kasih banyak anda mempercayakan kembali pemesanan melalui saya." Hery mengulurkan tangannya.
Zai langsung menyambut uluran tangan itu dan berkata "Aku baik saja Pak Hery. untung ada bapak. jika tidak aku akan kesulitan kalau harus pergi ke dealer"
"Ini juga merupakan sebuah berkah untukku pribadi, terlebih karna bisa menjual kembali Dua buah langsung Mobil baru ini. Jika Pak Zai tidak sibuk kita bisa berbincang panjang lebar dan menjelaskan beberapa bagian penting. Tapi jika tidak ada waktu. Mari kita selesaikan saja urusan ini agar aku tidak menyita terlalu banyak waktumu" Ucap Hery sambil tersenyum.
"Kita selesaikan saja secepatny. karna aku juga ada urusan yang lainnya" sahut Zai.
Zai langsung saja. tidak ambil ribet. dia memberikan tanda tangannya.
"Nanti jika bapak Zai perlu sesuatu lagi tentang Mobil. silahkan menghubungiku. Aku akan senang jika mendapat pesananan dari Pak Zai lagi" Seraya tersenyum dan bersalaman kembali, Setelah itu dia berbalik dan masuk kedalam Mobil dua orang anak buanya juga masuk kedalam Mobil yang dia kendaraai. dia memberikan satu Klakson kepada Zai.
"Om ini kuncinya" Zai memberikan dua buah kunci Hrv keluaran terbaru.
"Makasih banyak Nak, Aku tidak bisa berkata apa lagi yang dapat menggambarkan kebaikanmu, Hanya doa yang dapat ku berikan. Semoga kau dan Juli akan selamanya bersama." Ucap Orlando menitikan air mata. dia menatap putri sulungnya itu lalu berkata "Jangan pernah kau lepaskan dia Nak, Karna dia sangat baik" Pesan Orlando kepada Juli.
Juli mengangguk memeluk ayahnya itu dan juga ibunya yang mendekat dan mereka bertiga berpelukan. Kirana mengikuti. "Maafkan aku Kak yang selama ini menyusahkanmu" Ucap Kirana tulus.
"Iya. Kakak tau kau berhati lembut." Sahut Juli dengan senyum khas miliknya.
__ADS_1
"Sayang, Aku ada kesibukan yang lain. sepertinya aku tidak bisa mengantarmu. di kartu ATM yang ku berikan kepada Om ada cukup uang untuk beli rumah. Kamu bisa bantu dulu" Ucap Zai kepada Juli, dia memberikan kunci Mobil Bugatti Chiron kepadanya.
"Makasih banyak sayang. Maaf aku terlalu banyak menyita waktumu" Ucap Juli kemudian mengecup pipi Zai dan memeluk sebentar.
"Om, Mamah! aku pulang dulu" Ucap Zai bersalaman satu persatu. dia memeluk Rendy sebentar dan mengusap kepalanya. "Ayah akan sering berkunjung jika kau tetap di Jakarta" Ucap Zai kepada Rendy.
"Nanti kita main lagi ya ayah!" Kata Rendy tersenyum dengan barisan gigi yang hilang diatas. "Kamu jangan terlalu sering makan coklat, Nanti tambah hitam giginya" Canda Zai, dia langsung berbalik dan pergi. dia mengemudikan Bugatti Divo miliknya dan melaju dengan cepat.
..............
Langit mulai gelap. Namun jalanan kota tidak pernah sepi oleh pengendara ataupun pejalan kaki yang melintas.
Jaya seorang mantan Kultivator dari jamannya yang telah mati dan di bangkitkan lagi berkat sebuah sistem. kini sedang mengendarai Mobil Ayla berwarna merah cerah. dia mengikuti sebuah Mobil yang melaju dengan cukup cepat. dia mengikuti dengan kecepatan yang hampir sama. namun masih menjaga jarak dengan dua buah Mobil yang menjadi penghalatnya. itu dia lakukan agar tidak dicurigai bahwa dia mengikuti. dia sudah memikirkan banyak cara untuk menaklukan atau berteman dengan orang yang dia ikuti.
Meskipun dikatakan orang yang bernama Neil ini adalah kultivator. tapi bagi dia. kultivator di bumi ini hanya bagai semut. walaupun kekuatan dia tidak seperti di dunia asalnya. tapi pengalamannya dalam melakukan pertarungan sangat mahal harganya..
"Apa ketua merasa kita di ikuti?" Tanya Konoy yang mengemudi.
Neil melirik ke belakang. "Mobil yang mana?" tanyanya.
"Ayla warna Merah" kata Konoy yang melirik spion.
"Tes saja kita menepi. apakah dia memang mengikuti atau tidak" Ucap Neil.
Segera Konoy menepikan Mobil dengan berpura-pura singgah di sebuah kios.
Mobil merah melewatinya tanpa memperlambat laju kecepatannya.
__ADS_1
"Tidak terbuktikan. Mungkin dia memang satu arah dengan kita. jangan terlalu takut begitu" Ucap Neil lagi