
Malam itu tiga orang manusia, dua berjalan dan satu berada dalam gendongan.
Zai kecil dibawa oleh ayahnya Zaydan Akbar dan ibunya Stela Anggoro untuk pertama kali dalam usianya yang menginjak Enam tahun. Untuk bertemu dengan keluarga besar sang ibu.
Meskipun dihati ada rasa takut, tapi Zaydan selalu menggenggam tangan Stela.
"Ibu! Mengapa ibu terlihat takut" tanya Zai kecil dengan polosnya saat itu.
"Kamu akan mengerti setelah bertemu Kakek, kita hanya sebentar disini setelah itu kita pulang kebanjarmasin" kata sang ibu menjawab. Meski ada kesedihan yang nampak. tapi Zai kecil belum mengerti hal itu. jika ibunya sedih, dia pun akan sedih. itulah perasaan anak kecil sangat peka terhadap apapun.
Dengan pakaian yang memang tidak pantas untuk' berkunjung ke keluarga besar yang menjunjung tinggi nilai dari kekayaan. Mereka melangkah kan kaki terus hingga sampai diteras rumah.
(Satpam membiarkan masuk karna mengenal dengan Stela Anggoro)
Dua orang. Satu laki-laki, satunya lagi perempuan bertepatan keluar dari dalam rumah dan mendapati mereka bertiga.
"Untuk apa kau kesini Stel? kakimu tidak diijinkan lagi menyentuh lantai rumah ini, jadi pergilah sana!" Alfi menatap dengan sorot mata yang tajam kepada Stela "Kau sudah memberi malu keluarga dengan menikahi gembel seperti dirinya" tunjuk Alfi kepada Zaydan "Lalu kau datang untuk mengemis kesini? Sudahlah pergi saja! tidak akan ada yang memperdulikanmu" tambahnya.
Stela bersimpuh dihadapan Alfi, meminta bertemu dengan Ayahnya Anggoro. Alfi malah mendorongnya hingga terjatuh ketanah dan terus mengusirnya tanpa memandang kekeluargaan lagi. Zaydan membangunkan Stela dan langsung membawanya pergi. "Maafkan aku, ini karna kau menikah denganku" kata Zaydan seraya menangis melihat istrinya. Dia tak ingin melawan bukan karna takut tapi dia tak ingin memperkeruh keadaan yang sudah keruh.
Zai kecil pun ikut menangis saat itu.
"Ini bukan salahmu, aku kira setelah kita memiliki anak, Maka keluarga akan menerima. Tapi nyatanya tidak. Ini memang tidak pantas disebut keluarga" ucap Stela yang memandang kaca yang dia yakini ayahnya sedang berada disana memperhatikan dibalik gorden.
Tak mungkin tidak mendengar perdebatan mereka, ketika Alfi berteriak dengan lantang mengusir mereka. sedangkan yang lain datang untuk melihat. hanya wajah ayahnya saja yang tidak muncul.
"Ayo kita pulang" kata Stela lagi mengambil Zai kecil dari gendongan suaminya. Dan mereka segera berlalu.
Dan malam itu mereka menginap di bandara menunggu penerbangan ke banjarmasin..
__ADS_1
Setelah beberapa bulan orang tuanya meninggal. Dan Zai tinggal seorang diri. dia mencari belajar mencari uang dan bekerja keras hingga harus putus sekolah. padahal saat itu tahun pertama dia sekolah.
Setelah terkumpul cukup untuk membeli tiket ke Jakarta. dia meminta seorang tetangga yang baik hatinya untuk ditemani ke Jakarta dengan alamat yang tertulis dikertas. Alamat yang memang dibuat oleh ibunya sebelum kematiannya.
Sampai di Rumah yang pernah dia diusir bersama orang tuanya. Sekali lagi dia diusir dan ditendang hingga terjatuh oleh orang yang sama, yaitu Alfi. Ditambah oleh anaknya yang juga memukuli Zai.
Melihat hal itu, Tetangga yang baik hati membawanya pulang lagi ke banjarmasin, Meski harus memakai uang simpanannya. dia tak tega melihat anak sekecil itu diperlakukan buruk.
Akhirnya Zai kecil pulang lagi ke Banjarmasin. Namun naas, Kecelakaan terjadi kepada mereka ketika didalam taxi. Tetangga baik itu meninggal karna ada begal yang menusuknya diperut.
Sejak saat itu hidupnya terlunta-lunta tak tau arah. bahkan dia sering disiksa oleh orang-orang kampung. ada sebagian yang kesal. apalagi dari pihak keluarga tetangganya yang meninggal itu. mereka menyebut Zai kecil anak pembawa sial.
Bayangkan umur enam tahun lebih sedikit sudah merasakan penderitaan yang begitu berat.
................
Zai menatap sekeliling rumah besar itu. Bahkan dia tanpa sadar meneteskan air mata. Sakti bingung melihatnya karna memang dia tidak tau apa yang pernah dialami oleh anak muda itu.
"Apa yang terjadi kepadamu Tuan Muda?" tanya Sakti memberanikan diri.
"Aku hanya teringat sesuatu saja" sahutnya lalu melangkah lagi lebih kedalam seorang diri dan mencari kursi untuk duduk. Dia menemukan Sofa dan duduk disana netranya bergerak, Memandang photo keluarga yang sangat besar. Namun tidak menemukan photo ibunya ada disana. Padahan dia sangat ingin melihat gambar ibunya ada dirumah itu.
Sakti yang melihat Zai memandang Photo besar dengan bingkai berwarna kuning emas segera berkata "Itu adalah Phto keluarga besar kami" terangnya.
"Apakah tidak ada seorang wanita dikeluargamu?" Zai bertanya seraya memantik api dan menyalakan Rokoknya.
"Ada satu orang, tapi dia sudah tidak adalagi" sahutnya dengan sedikit perubahan pada wajahnya.
"Kemana anggota keluarga yang lain? Sepi sekali rumah ini" kata Zai.
__ADS_1
"Sebagian belum datang, Aku akan menanggil Ayahku dulu" Ucapnya lalu meninggalkan Zai disofa sendirian.
Zai berdiri mendekati photo keluarga besar itu. Dia memandang lekat wajah Alfi.
Sebelumnya ketika bertemu di Hotel dia tidak memberi pelajaran bukan karna tidak marah. tapi dia menunggu momen yang tepat. "Sepertinya malam ini akan menjadi malam yang indah" gumamnya.
Datang seorang lelaki muda yang kurang lebih seumuran dengan Zai. dia berteriak marah-marah tak jelas. Karna ada Mobil yang sembarangan parkir hingga mobilnya tidak bisa masuk kedalam garasi.
"Hei.. Apakah Mobilmu, Mobil sampah yang parkir sembarangan itu" teriak pemuda yang baru datang, ketika melihat ada orang asing diruang tamu. dia langsung melabraknya tanpa pandang bulu.
Zai melirik kesamping, dia menemukan lelaki yang mirip dengan anak kecil yang memukulinya. Hasrat membunuh muncul dimatanya. Ada kilatan dendam yang terpampang jelas dalam pandangannya.
"Tabrak saja, aku tidak masalah dengan itu" sahut Zai.
"Lalu nanti kau meminta untuk ganti rugi, Bagus" Pemuda itu bertepuk tangan "Ide-mu sangat bagus tapi sayang kau tidak akan mendapatkan apa-apa dariku ataupun keluargaku. dan mau apa kau kesini? siapa yang menyuruhmu berada disini?" pemuda itu menatap Zai dengan lekat.
"Salah kah jika aku berada ditempat yang memang seharusnya aku berada?"
Mata pemuda itu membulat sempurna.
"Ada apa Sandy, Kau bicara dengan siapa?" tanya Alfi yang datang bersama istrinya. dia tidak menatap pemuda yang bersitegang dengan anaknya. setelah memandang dia terkejut. "Kau-" lidahnya kelu untuk melanjutkannya.
"Ada apa ayah? apa kau mengenalnya?" tanya Sandi.
Hestu yang berada disamping pun menatap suaminya Alfi dengan lekat.
'Jika aku mengatakan bertemu dengannya dihotel. pasti ada pertanyaan lain lagi dari Hesti. tentunya dia akan marah besar, lalu apa yang harus aku katakan' Alfi membatin dengan perasaan resah.
"Hallo Paman! Paman yang minta uang kepadaku dihotel tempo hari kan?" Zai menyapa dan bertanya dengan wajah polosnya.
__ADS_1