Sistem Konglomerat

Sistem Konglomerat
Ancaman


__ADS_3

Ketegangan terjadi di resto itu. Banyak yang mulai mendekat untuk melihat lebih jelas dan memasang kamera ponsel mereka hanya untuk kesenangan. Seharusnya mereka melerai bukan malah mencari keuntungan dari kesialan orang lain.


Itulah dilema kehidupan manusia sekarang. Rasa peduli terhadap orang lain sangat menipis. Yang ada di pikiran hanyalah konten untuk sosial media.


Terdengar gesekan gigi dari mulut Fredy, menandakan dia sangat marah dengan perlawanan pemuda yang duduk dengan santainya seraya memanfaatkan situasi dengan memeluk pujaan hatinya.


"Lepaskan tangan kotormu dari pinggang Selly" Fredy menunjuk dan berkata kasar kepada pemuda yang tidak lain adalah Zai.


"Mengapa kau begitu iri, ckckck seharusnya kau pulang dan mengambil kaca di rumah. Untuk memaksa pacarku menjadi istrimu, itu sangat tidak mungkin" Kata Zai. Dia begitu cakap lama aktingnya sebagai pacar pura-pura, sebab ini bukan untuk yang pertama kali buatnya. Sesuatu yang menguntungkan dan menyenangkan tidak akan ditolak sama sekali.


"Bro, biarkan aku menghajar mulutnya itu agar tidak bisa lagi bicara seenaknya!" Ucap kawannya Fredy yang berada di belakang.  Dia sangat kesal melihat sang kawan setia di permalukan.


"Tahan Bro, kita berada ditempat umum sekarang. Meskipun aku tidak takut menghajarnya disini. Tapi, ada banyak kamera yang menyorot kita saat ini" bisik Fredy.


"Kalau begitu, kita akan mengeksekusinya diluaran nanti!" Jawabnya berbisik.


Fredy mengangguk dan berkata " ayo mundur!" Katanya kepada kawannya. Lalu Fredy memandang dua orang yang tak beranjak dari tempat duduknya semula. "Tunggu saja kau!" Ucapnya . Setelah itu keempatnya pergi meninggalkan resto.


"Yah tidak ada kejadian seru! Hanya omong kosong saja!" Ucap seseorang, dia salah satu orang yang menunggu momen perkelahian di tempat itu. Tapi harus kecewa mendapati kenyataan.


Semua orang yang sebelumnya berkumpul segera bubar. Karena harapan mereka tidak terjadi..


"Niat hati hanya ingin bersantai. Tak taunya melihat pilu pujaan hati bersama orang lain. Sangat kasihan!" Entah siapa siapa yang bicara. Tapi keempat orang itu mendengarnya.


Salah satu melototkan matanya ke arah kerumunan itu sambil berlalu.


"Sabar Bro. Kita akan membantu untuk menghukum bocah itu, dia tidak tau saja dengan kita"


"Panggil semua rekan yang lainnya. Kita akan berpesta. Aku tidak akan membiarkan rasa sakit ini berlarut-larut!" Amarahnya berapi.


"Aku akan menelpon Sandi" segera yang berbicara sebelumnya mengambil ponsel pada sakunya. Dan mengabari kepada gengnya yang lain untuk berkumpul disuatu tempat.

__ADS_1


Di Dalam Resto.


"Maafkan aku melibatkanmu!" Selly terlihat sedih seraya membetulkan duduknya, sebelumnya dia membaringkan tubuhnya agar terlihat tidak berpura-pura pacaran.


"Tidak masalah sama sekali, aku bukanlah orang yang terlalu memikirkan masalah!" Kata Zai seraya tersenyum. "Yang terpenting bagaimana denganmu sekarang, apakah tidak masalah dengan ayahmu?"


"Entahlah, aku juga masih bingung. Tapi aku benar-benar tidak menyukainya sama sekali"


"Tak perlu bingung, aku akan membantumu keluar dari masalah ini. Tinggal katakan bagaimana masalahnya?"


"Waktu itu aku menghadiri acara makan malam bersama ayah dengan teman bisnisnya. Aku tidak tahu bahwa malam itu ayah sengaja membawaku untuk menjodohkanku dengan lelaki itu. Dia adalah anak dari manajer umum International Group. Siapa yang tidak ingin berhubungan baik dengan perusahaan besar seperti. Perusahaan terbesar di dunia yang memiliki triliunan penghasilan perbulan.


Tapi sayangnya aku harus menjadi korban dari keinginan besar ayah yang ingin mengikat bisnis keluarga dengan perusahaan itu.


Jika dia benar melapor ke ayahnya. Maka bisnis ayahku akan ditekan bahkan bisa berakhir bangkrut karena pembatalan kontrak" Bulir air mata menitik di wajah cantiknya. Tentu Zai mengulurkan telunjuknya untuk menyeka.


"Untuk masalah itu sangat gampang, kebetulan kau bertemu orang yang tepat yang bisa membantumu dalam mengatasi hal itu"


"Aku ada kenalan dengan bos dari international Group!" Kata Zai.


Selly tentu tidak semudah itu percaya. Sebab tidak ada yang tau dengan betul bagaimana wajah dari pemilik perusahaan itu.


"Kau tidak membual?" Tanya Selly. Biar bagaimanapun dia baru mengenal dengan Zai. Dan ada rasa kecurigaan jika dia mengatakan mengenal bos dari international Group.


"Kau tidak percaya kepadaku? Ckckck aku beneran bisa membantumu Loh! Begini saja. Besok kau datang ke perusahaan itu. Aku akan mengenalkannya padamu!"


Selly ingin bersuara. Tapi ponselnya berdering. "Pulang!" Sebuah suara terdengar ketika Selly menyambungkannya. Dia sedikit menjauhkan ponsel itu dari telinganya. Sebab dia tau suara ayahnya sangat nyaring ketika marah.


Selly menghela nafasnya. Membuang perasaan yang menyesakan dadanya. "Aku akan pulang dulu, ayah sepertinya sangat marah!" Selly berdiri dari tempat duduk. Bahkan makanan belum dimakan setelah tersaji.


"Makanan ini apakah dibiarkan saja begini?" Tanya Zai.

__ADS_1


"Terserah saja. Aku akan pulang secepatnya"


Zai menyerahkan kunci mobilnya dan berkata "pakailah milikku, aku mudah saja untuk pulang, jangan lupa besok untuk datang ke perusahaan internasional Group"


"Makasih" Selly meraih kunci itu dan memberikan Kiss di pipi kanan Zai. "Aku akan datang besok. Kau jangan membodohiku" ucapnya.


"Tenang saja! Aku orang yang menepati janji" kata Zai, dia tersenyum menatap Selly.


Selly melambaikan tangannya dan segera pergi dari tempat itu.


Zai memanggil pelayan untuk membungkuskan makanan. Sambil menunggu semua di bungkuskan Zai memainkan ponselnya berencana untuk menelpon Hendri. Namun ketika dia mengingat bahwa Hendri sibuk, niat itu pun dia urungkan.


Zai keluar dari Resto dengan langkah yang tenang dan menunggu didepan dengan beberapa bungkus makanan di tangannya. Tak lupa dia memberikan tip kepada pelayan yang sudah bersedia membungkus makanan itu.


Dijalanan dia melihat ada seorang kakek yang tengah mendorong sepeda. Dia pun menunggu Kakek itu mendekat.


"Kek! Ini ada makanan untukmu" ucapnya.


Kakek itu menoleh dan tersenyum melihat seorang pemuda yang baik hati " terima kasih Nak, semoga rezekimu dilancarkan dan dimudahkan segala urusan" dia meraih bukusan itu dan mengaitkan di sepedanya.


"Terima kasih atas doanya Kek, semoga bermanfaat!" Ucap Zai seraya berjalan santai.


Tidak jauh dari tempatnya sekarang. Dua mobil Van berjaga dengan mesin yang tidak dimatikan.


"Apakah dia orang yang dikatakan oleh ketua Fredy?" Tanya salah satu.


"Benar, sepertinya dia hanya gembel. Jika tidak! Untuk apa jalan kaki?" kata Anjas.


"Di tikungan sebelah sana akan sangat sepi. Disana saja kita lakukan eksekusi!" Kata yang lainnya.


"Ide bagus. Kita bawa ke markas Geng kita dan kita siksa dia. Hahaha" Anjas tertawa.

__ADS_1


"Tentu, biar dia tahu sedang berhadapan dengan siapa?" Ucap yang lainnya menimpali. Mereka tertawa bersama. Dan mobil perlahan berjalan mengikuti Zai yang berjalan sendirian.


__ADS_2