Sistem Konglomerat

Sistem Konglomerat
Melepaskan


__ADS_3

Beberapa orang yang tersisa ingin kabur ketika melihat Fredy sudah meraung kesakitan.


Tidak ada untungnya bagi mereka bertahan disana. Jika ingin hidup, maka pilihan satu-satunya adalah lari dari tempat itu. Namun pemuda yang mereka tangkap dan tertawakan sebelumnya tidak membiarkan semua itu berlalu begitu saja tanpa adanya pertanggung jawaban.


Zai melambaikan tangan. Seutas Qi muncul dan menutup pintu keluar, mereka berteriak meminta untuk dilepaskan, namun Zai hanya memberikan lirikan mata kepada mereka.


Zai menatap kembali Fredy, lalu mengirimkan tendangan untuknya hingga melengkung tubuh Fredy dibuatnya. Untung bagi Fredy, Zai tidak memberikan tendangan dengan kekuatan penuh. Jika tidak? mungkin dia akan menjadi bubur sekarang.


"Aku memaafkanmu kali ini, sebagai peringatan aku akan memberikan tanda lebih" Zai menginjak pergelangan tangan Fredy hingga terdengar gemeretak yang menjadi pertanda, bahwa. Tangan Fredy telah patah.


Dia kali ini tidak berteriak bukan karena sanggup menahan sakitnya. Tapi karena sudah pingsan.


Zai menggelengkan kepalanya lalu meninggalkan tempat itu. Untuk membunuh mereka hanyalah seperti menginjak semut saja, namun tidak dia lakukan. Dia ingin memberi kesempatan semuanya berubah menjadi lebih baik.


"Ingatlah… ini hanyalah peringatan awal. Siapapun dari kalian jika bertemu aku ketika melakukan kejahatan, saat itu umur kalian akan habis. Ingat itu!!" Zai menekankan kata terakhirnya agar mereka mau bertaubat dari sikap buruk.


Mereka masih sangat muda, lebih muda dari Zai tentunya. Tapi sayang pergaulan mereka yang salah membawa kearah yang salah pula. Dan itu pasti terjadi kepada siapapun.


Maka ada pepatah yang mengatakan. Berteman dengan orang yang memakai minyak wangi, maka akan ikut menerima wanginya.


Seperti itulah hidup jika kita pandai berteman dengan orang baik..


"Kami mengerti, kami tidak akan mengulang kembali kesalahan kami. Terima kasih Kakak telah mengampuni!" Salah satu memberanikan berkata, dari enam orang itu hanya dia yang paling berani menjawab.


Zai meninggalkan tempat itu dan memberikan titik koordinatnya. Tidak berapa lama, dua buah datang salah satunya Mobil lamborghini berwarna merah milik Selly. Hendri membawa mobil itu sendiri karena sudah selesai diperbaiki dan diganti apa yang perlu diganti.


Mobil berhenti di dekat Zai berdiri. Hendri segera keluar dari dalam dan berkata. "Apakah ada hal yang perlu aku bereskan, tuan?!" Tanyanya


"Aku besok ingin pergi ke International Group. Tolong carikan Laila, kemana dia dan dimana sekarang!" Ucap Zai. Tentu dia masih memikirkan Laila meskipun sudah ada wanita lain lagi yang dekat dengannya.

__ADS_1


"Baik tuan, kalau begitu! Aku akan pergi dulu mengaturnya!" Jawab Hendri.


Setelah itu Zai pergi dari tempat itu dengan mengendarai mobil milik Selly. Lalu dia menggunakan ponselnya untuk menelpon seseorang dan mengadakan pertemuan di sebuah tempat nongkrong.


Tiba ditempat yang dijanjikan, Zai memarkirkan Mobilnya dengan tenang.


Dua wanita terlihat mendatangi mobil yang dinaikinya dan mengetuk pintu lalu salah satunya berkata "Selly!"


Zai menurunkan kaca mobil. Keduanya terkejut karena salah orang. Namun mereka terpana akan ketampanan pemuda itu. "Apakah kalian temannya Selly?" Zai bertanya.


"Iya, ini benar mobilnya Selly bukan?" Satu wanita bertanya kembali.


"Benar!" Jawab Zai. Sambil mendorong sedikit pintu dan dua wanita itu mundur perlahan.


"Kau siapanya, mengapa kau menggunakan mobilnya?" Wanita yang bertanya sebelumnya cukup mudah bicara kepada orang asing hingga mengajukan pertanyaan kembalim


"Aku temannya, sebelumnya ada insiden, aku menabrak Mobilnya dan dia sekarang membawa Mobilku. Aku baru membawanya setelah diperbaiki" jawab Zai jujur. "Kalian nongkrong disini?" Giliran Zai yang bertanya.


"Aku Zai!" Zai menyambutnya.


"Aku Felicia! Kamu berasal dari indo ya?" Tanya Felicia.


"Iya, apa kau pernah ke indonesia?" Zai bertanya juga.


"Beberapa kali, disana ada adik dari ibuku!" Jawab Felicia.


"Apakah tidak ngobrol dulu sambil duduk!"


"Tidak perlu. Kami juga masih ada urusan, aku minta nomer wa, boleh?" Felicia mengeluarkan Ponselnya dan memberikan kepada Zai.

__ADS_1


'Beh… dia mengambil kesempatan lebih dulu, sial aku terlambat!' Fany membatin.


Zai memasukan kontaknya lalu memberikannya lagi kepada Felicia "sudah!" Kata Zai, dia tersenyum seperti biasa.


Felicia segera menyambut ponselnya dan menarik tangan Fany yang juga ingin memberikan Ponsel. "Apa yang kau lakukan Fel? aku juga mau tau!" Fany berkata pelan.


"Ponselku sudah ada kontaknya. Lalu untuk apa kau meminta lagi, kita bisa berbagi" ucap Felicia, padahal dia hanya ingin menghilangkan kesempatan Fany untuk meminta kontaknya Zai.


Zai cukup mendengar apa yang mereka bicarakan meskipun sudah jauh. Felicia melambaikan tangannya dari kejauhan. Zai juga membalasnya, lalu masuk ke cafe tersebut, dimana dia sudah membuat janji dengan seseorang.


Zai duduk dan memesan kopi di salah satu kursi yang ada disana. Sambil melihat pemandangan kota yang tak pernah sepi dalam dua puluh empat jam.


Seorang lelaki paruh baya masuk ke sebuah Resto. Dia menyapukan pandangannya ke segala arah, segera dia mendekat ketika sudah mengkonfirmasi ciri-ciri orang yang dicarinya.


"Dengan bapak Zaidul Akbar?" Tanya lelaki paruh baya itu.


Zai mendongakan kepalanya dan melihat lelaki itu. Kemudian dia menjawab. "Benar, silahkan duduk!" Kata Zai mengayunkan tangannya ke arah Kursi.


Lelaki itu menarik kursi dan duduk dengan tenang. Menaruh sebuah tas di meja dan mengeluarkan laptopnya.


"Jadi sesuai dengan apa yang pak Zai minta sebelumnya, aku sudah menyelidiki data dari Pak Owen, manajer umum perusahaan yang bapak curigai. Selain bekerja diperusahaan dia tidak memiliki bisnis lainnya. Tapi dia memiliki lima buah rumah dari dalam kota dan luar kota bahkan luar negara. Ada juga beberapa mobil sebagai asetnya. Dan seperti yang Pak Zai perkirakan bahwa dia berkemungkinan mencuci uang, aku juga sudah menyelidikinya dan ini semua buktinya!"


Pak Demon menunjukan semua bukti yang ada di laptopnya.


"Besok aku akan mengeksekusinya, perusahaan tidak membutuhkan orang seperti dia dan juga siapkan dua orang polisi untuk menangkapnya di perusahaan agar menjadi pelajaran kepada yang lainnya"


"Baik pak Zai, aku senang dapat melayanimu dengan baik!" Ucap Demon. Dia tak menduga bahwa hanya seorang pemuda yang memiliki perusahaan terbesar di dunia. ' Apakah ini tidak gila?' Demon menghela nafas perlahan. "Lalu apakah ada lagi yang bisa aku lakukan untukmu!"


"Siapkan sebuah kontrak besok untuk perusahaan dibidang properti atas nama Boston Reality Property, namun yang harus menandatangani hanya nama Selly" ucap Zai.

__ADS_1


"Baik pak Zai, senang saya bisa bertemu dengan anda. Perusahaan akan terus berkembang!" Demon berdiri dan segera pergi dari tempat itu tanpa sempat pesan minuman.


Sedangkan Zai hanya tersenyum melihat kepergian Demon...


__ADS_2