
Zai duduk di balkon rumah lantai dua dengan santai. Menghirup udara yang sejuk dengan pemandangan yang cukup asri. Ada begitu banyak pohon pinus yang berukuran rendah namun memiliki banyak ranting dan daun. Ada pula bonsai yang berjejer rapi di pekarangan.
Dia melihat beberapa pelayan yang beraktivitas dari atas. Ada yang berjemur pakaian. Ada Pula yang memetik buah dan sayur dan ada lagi tukang bersih taman serta memberi makan ikan dikolam.
Sungguh pemandangan yang menyejukan mata. "Ingin rasanya memboyong semua istri pindah ke sini" gumamnya.
Dia mengambil ponsel dan menelpon Selly, sebelumnya mereka sudah bertukar kontak.
"Hallo… Kamu jadi datangkan? Mobilmu juga sudah selesai diperbaiki!" Ucap Zai dari sambungan telepon.
"Oke. Aku akan siap-siap lebih dulu, aku sudah meyakinkan ayah dan aku juga akan membawanya. Jadi aku harap ini tidak akan mempermalukan kami berdua" kata Selly. Dia sedikit bersemangat.
Setelah mendapat cecaran begitu banyak pertanyaan dari ayahnya dan dimarahi habis-habisan. Sebab sekarang bisnis ayahnya sudah berada di ujung tanduk hanya dengan satu kata dari manajer Owen saja.
Namun dia berhasil meyakinkan ayahnya untuk datang langsung ke perusahaan internasional Group. Dan mengatakan bahwa kenalannya yang memiliki mobil Bugatti diluar itu mengenal bos dari perusahaan itu.
Seandainya dia tahu bahwa Zai lah pemilik perusahaan itu, entah apa yang akan dilakukan sebelumnya?
"Tidak masalah, datang saja. Aku sudah membicarakan masalah itu dengan kenalanku" ucap Zai.
Setelah itu mereka berbincang sebentar lalu Zai memutuskan untuk mengakhiri panggilan.
Zai bersiap untuk pergi dengan pakain biasa saja. Dan menyimpan pakaian bermereknya diinventori.
Lalu dia turun dari lantai dua. Dan menyapa beberapa pelayan. Kemudian pergi menggunakan Mobil Lamborghini milik Selly.
……
Jam masuk kantor belum tiba. Zai memberikan tanda dengan menekan klakson dua kali untuk security membukakan pintu gerbang.
Satu orang Security keluar dari posnya, dia yang tidak mengenal mobil itu segera mendekat dan berkata dengan sopan. "Selamat pagi Pak" ucapnya di samping pintu mobil.
__ADS_1
Zai menurunkan kaca Mobil dan berkata. "Apakah belum ada yang datang?"
"Belum ada pak, bapak mau bertemu dengan siapa?" Tanya security itu yang bernama Delon.
"Aku ingin bertemu dengan bos atau pemilik perusahaan ini. Aku sudah ada janji dengannya hari ini" kata Zai.
Delon mengernyitkan keningnya. 'Bos datang?'
"Kalau begitu, silahkan masuk Pak!" Delon segera mendorong pintu besar dan membukanya lebar lalu mengatur parkir untuk mobil itu.
Di perusahaan itu, mobil jenis lamborghini memang tidak banyak tapi juga bukan tidak ada disana.
Zai memarkirkan mobil sesuai arahan di tempat parkir tamu yang disediakan.
"Terima kasih Pak" ucap Zai setelah dia keluar dari Mobil dan memberikan beberapa lembar pecahan seratus dolar lalu berkata. "Untukmu buat beli Kopi"
"Terima kasih!" Kata Delon. Dia langsung memasukan uang itu tanpa melihat berapa yang diberikan. Karena itu sangat tidak sopan. Lalu dia kembali ke tempatnya
Zai menunggu Demon datang pagi itu. Karena sebelum berangkat ke perusahaan dia sudah menelpon dan mengatakan bahwa pagi itu dia akan datang.
"Selamat pagi Pak Zai" Demon setengah membungkuk "Ayo masuk ke dalam Pak! Biar ku tunjukan kantor bapak.
Demon adalah wakil Direktur di perusahaan itu. Dan tidak ada yang tau siapa pemilik dari perusahaan internasional Group sebenarnya.
Ketika Delon melihat hal itu dari balik kaca Posnya. Dia terdiam dengan keringat dingin di keningnya. "Untung aku berlaku sopan kepadanya. Jika pak Demon saja begitu menghormatinya. Berarti dia adalah orang yang istimewa. Atau apa mungkin dialah pemilik sebenarnya dari perusahaanku bekerja selama ini?" Delon mengeluarkan uang dalam sakunya.
Ada lima lembar pecahan seratus dolar untuk membeli kopi. Ini cukup banyak menurutnya hanya dengan mengatur parkir mobil saja.
Zai mengikuti Demon masuk kedalam, dengan pakaian yang biasa saja, tidak mewah. Tapi juga tidak lusuh, hingga menimbulkan hinaan sebagai orang miskin atau pemulung.
Gedung setinggi 541 meter itu begitu mendominasi. Zai menuju lantai teratas bersama dengan Demon. Wakil direktur perusahaan itu. Menggunakan Lift khusus. Hanya dengan beberapa menit. Lift terbuka dan mereka sampai pada tujuan.
__ADS_1
"Ini adalah ruangan terluas dan tak pernah digunakan. Namun pak Zai tenang saja. Ruangan ini selalu dibersihkan setiap tiga jam sekali. Karena kebersihan tempat ini adalah hal utama bagi kami" kata Demon seraya tersenyum.
Zai melangkahkan kakinya. Dia melihat ruangan yang memang luas dengan beberapa furniture yang menghiasi. Tidak ada sekat di ruangan itu. Membuat itu terasa lebih luas.
"Aku cukup puas dengan ruangan ini!" Kata Zai. Segera dia duduk meja kerjanya.
"Aku akan mengatur sesuatu yang sudah Pak Zai perintahkan kepadaku kemarin. Jadi aku akan meninggalkanmu. Jika pak Zai membutuhkan sesuatu. Panggil lewat telepon saja. Aku akan segera datang" kata Demon, dia setengah membungkuk lalu pergi dari tempat itu.
"Demon, jika ada yang mencariku atas nama Selly. Langsung diarahkan ke ruanganku aja!"
"Baik pak!" Ucap Demon sambil menutup pintu.
Zai mengakses layar biru di hadapannya, memperhatikan detail keuangan yang cukup untuk beberapa keturunan. Meskipun tidak bekerja tidak akan kekurangan uangnya untuk beberapa keturunannya.
Dia menaruh tangan di belakang kepalanya kemudian bersandar dan melihat kebawah. Dimana banyak orang yang terlihat kecil berdatangan masuk ke dalam perusahaannya.
"Sebaiknya aku keluar dulu, dari pada sumpek sambil menunggu Selly datang" gumamnya.
Jadilah dia jalan-jalan. Hal yang pertama dia lakukan adalah berdiri kemudian berjalan keluar dari ruangannya.
Sementara itu di tempat lain. Seorang Owen mendapatkan panggilan dari Wakil direktur perusahaan. Disaat dia sedang berada dirumah sakit menjaga anaknya yang sedang sekarat dengan patah tulang kaki dan juga pergelangan tangan. Tentu dia lagi frustasi sekarang.
Fredy adalah anak satu-satunya yang dimiliki. Dengan hancurnya harapan kelangsungan keluarganya. Owen tidak akan mengampuni pelakunya. Meskipun dia belum tahu motif apa yang membuat anaknya menjadi seperti sekarang
"Tidak biasanya Pak Demon terus memanggil seperti ini, apakah ada hal yang begitu penting, sebaiknya aku jawab saja" gumamnya.
"Hallo Pak Demon. Apakah ada yang bapak butuhkan sehingga sepagi ini menghubungiku?" Tanya Owen.
"Ya! Kau segera ke kantor. Ada banyak masalah yang harus diselesaikan dan itu memerlukan kehadiranmu" kata Demon.
"Tapi aku sekarang berada dirumah sakit Pak, anakku masuk rumah sakit kemarin dan masih memerlukan penjagaan"
__ADS_1
"Jadi kau tidak mau? Kalau begitu aku akan bilang ke bos besar bahwa kamu tidak mau datang ke kantor" dengan nada membentak, Demon menutup sambungan telepon hingga yang terdengar di telinga Owen hanya bunyi
Tut… tut..