Sistem Konglomerat

Sistem Konglomerat
Pedang yang bertemu


__ADS_3

"Menginaplah disini malam ini" Ucap Rianti menawarkan.


mendengar ucapan Mamanya, Kirana Memasang wajah yang cemberut. dia segera bertanya "Aku tidur dimana Mom jika Kak Zai menginap?"


"Haha mama Lupa kalau rumah ini hanya memiliki kamar dua saja, Maaf!" Ucap Rianti. Namun Kirana masih memasang wajah cemberutnya.


"Tidak perlu Mah! rumahku tidak terlalu jauh juga dari sini. Aku akan minta jemput teman" Ucap Zai, Dia kemudian berdiri setelah cukup lama berbincang dan juga sudah memakan kue basah yang di suguhkan oleh Juli.


"Hati-hati Nak. maaf ya!" Rianti kembali bersuara sambil melambaikan tangannya. Sedang Juli berinesiatif untuk mengantarkan Zai. dan tentu Zai tidak menolak.


Didalam Mobil. Zai yang duduk disamping hanya menatap Juli yang fokus melihat jalan. sembari kadang dia memberikan lirikan kepada Zai. "Apa matamu tidak lelah memandang aku yang sudah cukup tua ini? kita kan beda umur hampir lima belas tahun" Juli langsung mengajukan pertanyaan.


Zai melengkungkan bibirnya tersenyum khas miliknya dan berkata "Umur tidaklah terlalu penting bagiku, Yang penting apa kau sanggup jika bersamaku? untuk sisa hidupmu!"


Juli pun tersenyum senang mendengarnya. ingin dirinya memeluk dan bermanja. Tapi sayangnya dia harus fokus dan tetap pada posisinya.


"Akau senang mendengarnya. Setidaknya dihari tuaku nanti. aku masih memiliki cinta yang masih muda yang bisa menjagaku" kata Juli mengungkapkan isi hati.


Tidak berapa lama Mobil itu sampai di depan pagar rumah Zai.


"Rumah kamu sangat besar" Juli terkesima melihatnya. Meskipun rumah Opanya juga besar tapi dia tidak pernah memiliki rumah sebesar itu.


"Aku kenalkan dengan orang yang didalam, Ayo masuk... Go!!" Zai menarik tangan Juli dan menuntunnya masuk tanpa sempat Juli berkata. akhirnya langkahnya mengikuti langkah Zai yang terbilang cepat.


Zai mendorong pintu dan berteriak. "Nek! dimana Kau?"


Tidak ada jawaban karna waktu juga sudah cukup malam, Sudah pukul 10:13. tapi Zai terus berteriak hingga Maimunah keluar dari kamar. "Nek, Apakah aku menggangu istirahatmu?" Dia bertanya seolah itu tidak!


"Aku tadi nonton televisi, Ada apa memangnya?" Tanya Maimunah sembari melirik wanita disamping Zai. "Siapa lagi ini?" Tanyanya lagi.

__ADS_1


"Ini calon istriku, Nek! kenalkan" sahut Zai dan menarik Juli untuk maju.


"Salam Nek, Aku Juli!" Ucapnya memeluk Maimunah dan cipika-cipiki sebentar.


"Kenapa kau mau dengan cucuku yang Playboy ini Nak?" Maimunah bertanya sambil memegang kedua tangan Juli dan melirik Zai untuk melihat mimik wajah Zai akan seperti apa? Namun nyatanya tidak ada perubahan sedikitpun. Zai hanya tersenyum mendengar kalimat yang diucapkan oleh Maimunah. sedang Maimunah mendesah dalam hatinya. 'Anak ini begitu menipu wanita' Dia menggelengkan kepalanya.


"Kenapa Nek? Aku suka sama dia, tidak ada batasan dengan hal itu. Aku yakin jika hanya aku, dia tidak akan puas. jadi aku biarkan saja dia berpuas diri dengan syarat tidak meninggalkan yang lama untuk mengganti yang baru" Sahut Juli dengan wajah tenang. "Dan jika hanya menambah. aku tidak mempermasalahkannya" Tambahnya lagi.


"Haih" hela nafas terdengar pelan dari mulut Maimunah. "Terserah kamu saja, Kamu adalah orang ke empat yang dikenalkannya kepada Nenek" Ucap Maimunah. dan Juli langsung memandang Zai.


"Coba kenalkan kepadaku secepatnya tentang mereka." Ucap Juli sembari menatap Zai meminta.


"Cepat atau lambat kalian akan bertemu! Jadi nikmati waktu yang sekarang tanpa beban"


Mereka melanjutkan perbincangan sembari berjalan keruang keluarga. Disana ada Farhan yang sedang main Game sendirian. "Ka! Baru lagi nih? ajarin dong!" Pintanya


"Kamu ini harus belajar yang rajin, Jangan meniru kelakuan Kakakmu!" Ucap Maimunah langsung menjitak kepala Farhan.


"Alah, Gitu aja sakit, Kamu sudah mulai belajar berpura-pura ya, adik kecil!" Ucap Zai, dengan melototkan matanya.


Sedang juli hanya terkekeh melihat ke akuran mereka. dia merasa lucu dengan adegan itu.


"Jangan pedulikan dia, Anak kecil seperti ini memang masih menjadi ulat yang penasaran dengan pucuk." Ucap Zai bercanda.


"Terdengar seperti iklan minuman" ucap Juli yang mulai menahan tawanya, Dia takut akan terkencing ketika terlalu lepas tertawa.


"Far, ambilkan minuman buat Kakak cantik!" Pinta Zai, lalu dia duduk disamping Farhan dan menyenggolkan pinggulnya.


"Bentar Ka, masih tanggung nih!" Ucapnya ngeles dengan alasan, Tapi Zai tidak terima alasan. Dia lansgung mengambil ponsel Farhan. "Sayang, Kamu mau minum apa?" ucapnya kepada Juli.

__ADS_1


"Apa aja. Jangan terlalu manis!" sahut Juli yang juga menghempaskan pantatnya di Sofa.


"Nah, kau dengankan pesanan Kakak iparmu?" ucap Zai lagi menatap Farhan yang terpaksa berdiri. Tak mungkin juga dia menolak lagi.


"Iya, Oke... Tapi tambahin uang jajan Yah. aku mau ajak bela besok malam ke bioskop" Ucap Farhan sebelum jauh.


"Haih... sama saja kakak beradik" ucap Maimunah "Nenek akan ke kamar saja. jika melihat kalian seperti ini. darah tua nenek akan berubah jadi muda." ucap Maimunah lagi.


"Istirahat yang nyenyak Nek!" ucap Zai sedikit mengangkat nada suaranya agar Maimunah mendengar apa yang disampaikannya.


Selang lima menit kemudian, Farhan datang membawakan minuman, Hanya teh hangat yang bisa dia buat. "Tidak ada cemilannya Far?" Zai bertanya.


"Sepertinya stok habis Ka, Apa mau aku beli-in diluar?"


"Tak perlu, Istirahatlah, Aku ingin berduaan saja. nih ponselmu"


Namun Farhan tidak juga pergi dia malah menengadahkan telapak tangannya. dan berkata "Ga ada isinya nih telapak tangan?" tanyanya memasang wajah sedih.


Zai merogoh sakunya dan mengeluarkan uang lima lembar warna merah dan menaruhnya di telapak tangan Farhan.


"Salam untuk Bella" Ucap Zai setelahnya lalu mengaitkan ujung jarinya ke bawah dan melambaikannya menyuruh pergi. "Kau menginap saja disini. dan kita bisa melanjutkan lagi" Zai merayu.


"Nanti saja sayang! Kasian Rendy jika terbangun pasti nangis" Sahut Juli "Kita pemanasan saja, Bagaimana?"


"Kau yakin? mampu menahannya?" Zai mulai memainkan jarinya dengan bergerak perlahan menggelitik pinggang Juli.


Juli memiliki tubuh yang langsung bergetar ketika jari-jari Zai membuat rangsangan pada tubuhnya. Libidonya langsung naik. hingga tengkuknya merasa dingin dan merinding dan ada gemericik air yang keluar dari celah pribadi miliknya. menandakan hal itu sudah sangat menggodanya.


Zai terus menguasai jalannya, Hingga Juli mengangkat tangan keatas untuk menyerah. Namun Zai menganggapnya berbeda. Anggapan Zai, Juli membuka ruang untuk dilepaskan bajunya. hingga Zai mengaitkan tangannya dan mulai mengangkat baju Juli.

__ADS_1


Juli tak bisa menolak keinginan libidonya. dia memasraahkan diri dengan perlakuan Zai. cumbuan mereka terus meningkat dan semakin dalam perlahan berdiri dan berjalan menuju kamar hingga jeritan terdengar dari luar kamar.


Mereka melanjutkan lagi pertarungan mereka. dimana pedang telah bertemu dengan warangkanya..


__ADS_2