Sistem Konglomerat

Sistem Konglomerat
Gempa


__ADS_3

"Apapun yang ibu mau akan aku berikan. Ibu tenanglah!" Ucap Zai menyenangkan hati mertuanya.


"Kau memang menantu yang pengertian. belum aku berkata kau sudah berkata duluan, Panggil aku mamah mulai sekarang. Agar kita terasa lebih akrab" Rianti berkata sambil memegang tangan Zai, Entah sadar atau tidak yang pasti Juli yang melihatnya agak aneh. "Kenapa Jul? kau memandangku seolah aku pelakor?" ketika dia menoleh, Dia mendapati wajah anaknya yang tidak suka melihat kedekatannya dengan calon menantu.


"Mamah terlalu lama pegang tangan Zai, Aku kan juga mau dipegang olehnya" Ucap Juli.


"Ih.. Kau seperti Abg saja! baiklah mamah mengalah. bersenang-senanglah! jangan lupa buatkan Mamah cucu yang baru" katanya lagi, Kemudian berlalu mengajak Rendy masuk kembali. padahal Rendy baru keluar dari kamar.. "Jangan ganggu Mamahmu." Ucap Rianti sembari menggendong Rendy


Dua orang yang ditinggalkan terlihat canggung, Apalagi ketika mendengar permintaan ingin dibuatkan cucu secepatnya.


Juli segera menarik Zai dan membawanya ke kamar. "Kita bisa melakukannya, aku sudah tidak bisa menahannya lagi." ucap Juli, dia langsung mendorong dada Zai ke atas kasur dan mengunci pintu.


Kirana dengan wajah yang marah pulang kerumah. dia bersungut dan bergumam tak jelas, dia sudah menggunakan cara untuk menghancurkan hubungan Juli dan calon suaminya dengan membuat video yang akan membuat Juli marah. tapi malah tidak dibuka oleh Juli. hal itu membuat Kirana frustasi.


Stelah pulang matanya langsung disuguhkan dengan hawa panas. dia malah melihat Juli menarik Zai menuju kamar dan terdengar oleh telinganya bahwa Juli mengunci pintu. bagaimana dia tidak bertambah frustasi dengan kondisi itu?


Dia menghentakkan kaki berjalan menuju kamar Rianti. "Mom! Kenapa kau biarkan Juli berada satu kamar dengan seorang lelaki?" nadanya sedikit tinggi. Sedang Rianti yang sedang bermain dengan Rendy hanya melirik sebentar saja tanpa menyahut. "Mom! Mengapa kau diam? apa tidak ada yang bisa kau katakan kepadaku?" Tatapnya, dia masih tak bisa menahan emosinya.


"Kau kenapa sih? Apa kau iri dengan Juli yang menemukan calon suami yang kaya? datang-datang langsung teriak-teriak. aku ini yang melahirkanmu. biarpun aku sering berkata kasar. tidak sepantasnya kau berkata kasar pula kepadaku!" teriak Rianti sembari berdiri.

__ADS_1


Kirana yang merasa bersalah langsung duduk menghempaskan pantatnya di kasur dan menarik nafas yang dalam. "Iya aku iri, Bahkan aku cemburu dengan hidupnya." Kata itu keluar dari mulut Kirana. dan dia menunduk dengan wajah yang di benamkan diantara pahanya. "Mengapa aku selalu dibandingkan dengan prestasi dia. kecantikan bahkan keberuntungan dia, Mom?" keluhnya.


"Jangan berkata seperti itu Nak!!" Rianti dapat merasakan kesedihan yang dialami oleh Kirana. Dia duduk perlahan dikasur dan mengusap rambut Kirana yang masih setia menunundukan kepalanya dikedua pahanya, Rianti kembali berkata dengan lembut "Hidup itu terkadang memang tidak sesuai dengan harapan. Tapi percayalah semua yang terbaik dilahirkan untukmu, Kau hanya perlu bersabar menunggu hal itu datang kepadamu" Rianti memberikan saran yang baik untuk anaknya itu.


"Ada apa dengan rumah ini? Apa kau merasakannya?" tanya Rianti kepada Kirana. "Seperti ada gempa bumi, Apakah mungkin?" gumamnya lagi setelah tidak mendapat jawaban dari anaknya itu. dia segera mengambil remote dan menghidupkan televisi untuk mencari berita. namun tidak ada berita dari Bmkg. "Apa hal yang membuat rumah ini berguncang?" Dia menatap pintu yang sedikit bergetar


............


Sedang di salah satu kamar yang ditempati oleh dua orang. Mereka tidak menyadari sedikitpun atau merasakan getaran gempa, karna memang pusatnya ada pada mereka.


Satu jam mereka menggetarkan rumah itu. dan kini mereka saling memeluk satu sama lain setelah menyelesaikan pertarungan yang sudah lama tak dilakukan. Janda memimpin jalan pertarungan tapi tidak mendapat kemenangan. Karna Zai adalah lelaki yang tangguh. yang tak mungkin mudah untuk kalah dan runtuh.


Juli membuatkan minuman untuk Zai. sedang Zai berbincang dengan Orlando yang entah datang dari mana. "Aku mendengar perusahaan Om sedang dalam masalah, jika aku bisa bantu akan aku bantu" Ucap Zai, Setelah Orlando duduk bersandar dengan memijit kepalanya.


"Tidak perlu Nak, Aku malu!" sahut Orlando, Menolak kebaikan yang ditawarkan oleh calon menantunya itu.


"Tak perlu malu Om, Kita juga akan menjadi keluarga!" ucap Zai yang ingin sekali membantu permasalahan dari Orlando. "Atau begini saja. aku punya sebuah perusahaan yang baru di bangun, Om bisa menjalankannya, Itu juga ada dalam mahar yang sudah aku ucapkan untuk Juli" Ucap Zai lagi.


"Kamu sangat baik Nak. tapi aku tidak bisa menerimanya begitu saja"

__ADS_1


"Terima saja ayah!" ucap Juli, Dia datang membawakan dua gelas Kopi dan cemilan ringan. Dia tau ayahnya sedang berbicara dengan Zai sebelumnya, Jadi dia membuatkan lagi satu gelas kopi.


"Tapi Nak-"


"Ayah! ini demi kebaikanmu dan mamah dan juga berkembangnya keluarga kecil ini. Apa ayah mau keluarga kita terus terpuruk" Bujuk Juli. yang membuat luluh Orlando dan mau menurunkan egonya. matanya berkaca-kaca dengan kebaikan anaknya itu. tentu pembicaraan mereka terdengar oleh kirana dan juga Rianti, pastinya! mereka juga ikut terharu mendengarnya.


'Hanya aku yang selalu berpikiran Kakak itu yang menghancurkan keluarga, karna menikah dengan seorang suami yang dari hanya kalangan menengah. sekarang setelah dia menemukan kembali suami dari kalangan atas. dia ingin mengangkat nama keluarga lagi. dan dari pengalaman ini. aku mengetahui keluarga yang berarti dan yang mana yang menghargai, Tidak seperti mereka yang mengatakan keluarga besar. namun bersikap tidak menganggap, Maafkan aku Kak!'


Rianti menarik tangan Kirana dan membawanya keruang tengah dimana tiga orang berbincang berada dan mereka duduk dis sofa juga.


"Mamah!" Panggil Juli dan dia segera memeluk ibunya itu yang duduk disebelahnya. begitu pula yang dilakukan oleh Rianti.


"Maafkan Mamah yang selama ini memaksakan kehendak. Mamah hanya ingin kamu hidup cukup dan bahagia..


"Aku juga akan membelikan sebuah rumah, kalian mau tinggal dimana, nanti ku belikan" ucap Zai. dia punya cukup uang, Jadi wajar dia berbicara seperti itu.


"Aku tidak menunutut lagi Nak, aku hanya ingin Juli bahagia saja" sahut Rianti. dia sebenarnya orang yang cukup baik, hanya saja tekanan yang diberikan keluarga kepadanya memaksa pikirannya untuk mencarikan yang terbaik, pasangan untuk anank-anaknya. Jadi dia tidak sepenuhnya salah disini. dan Zai tentu memahami hal itu.


"Kalau begitu. besok pagi kita akan mencari rumah baru untuk kalian" Ucap Zai lagi dengan mantap dan tak ingin ditolak

__ADS_1


__ADS_2