Sistem Konglomerat

Sistem Konglomerat
Target


__ADS_3


Zai bersiap untuk pulang dan menunggu Juli sebentar di kamar sambil berbaring santai dengan kaki meyilang.


Pintu terdorong, kepala Juli muncul dengan sebuah senyuman yang membagongkan 'jangan jangan dia mau lagi?' Zai membatin.


Juli langsung menutup pintu rapat dan mengunci nya. Lalu berbalik dan langsung melepaskan baju nya. 'Ah sial Janda ini kenapa ketagihan, kenapa dia masih punya banyak energi untuk melakukan Hal ini' Zai terus saja membatin hingga tak sadar Juli sudah mengangkat paha sebelah kanan dan menaiki tubuh nya.


"Jangan bilang kamu tidak mau, Aku sudah lima tahun tidak seperti ini, Jadi tolong puaskan aku seharian ini" Ucap nya berbisik di telinga Zai.


Dengan terpaksa Zai meladeni Juli kembali.


Bi Ati sangat Frustasi, dari pagi ketika dia mau mengantar Rendy untuk sekolah, Hingga datang dari sekolah, Suara mendayu dayu terus saja keluar dari pintu kamar yang dia lewati.


Dan hingga petang menghampiri, Saat Rendy tertidur lagi, mereka masih melakukan aksi.


Untung saja Rendy belum mengerti, Jika tidak akan bingung bagaimana cara membohongi..


Kita tinggalkan kesibukan mereka yang seperti pengantin baru..


-


-


-


Dua orang sedang berbincang serius di ruang pribadi Shanghai Palace.


"Aku tak mau tau bagaimana caranya, Aku ingin membalas perbuatan nya kepada anak ku, mata dibalas mata" Ucap lelaki setengah tua.


Di seberang tempat duduk nya yang terhalang oleh meja, duduk dengan santai dua orang sambil mendengarkan apa yang di pesanan oleh orang di seberang nya.


"Jika harga nya pas, Maka kami akan melakukan nya!" Sahut salah satu dari dua orang itu.


Dia biasa di panggil mata elang, Karna mata nya tajam mampu menembak dari jarak ratusan meter, Atau biasa di sebut penembak jitu.


Dan satu nya lagi Kucing Orange, Karna dia paling suka warna orange dan memiliki kumis memanjang ke samping, Seperti polisi india.

__ADS_1


"Aku akan memberikan kalian lima ratus juta, Akan ku kirim setengahnya, dan jika sudah selesai akan ku berikan cash lagi setengah nya, Bagaimana?"


"Kita sepakat" Ucap Mata Elang. Lalu berdiri mengajak Kucing Orange untuk membuat rencana.


"Tunggu kabar selanjut nya" Ucap Kucing Orange sebelum keluar.


Dengan modal informasi yang di berikan oleh pemesan nya.


Mereka berdua mulai melakukan rencana mereka, di mulai dari orang terdekat si target.


-


-


-


Sedangkan Zai tidak tau bahwa dirinya sudah menjadi target seseorang..


Malam itu dia pulang dengan wajah lesu dan kusam, Seharus nya ada keceriaan karna dapat memberi kenikmatan pada Janda yang haus kasih sayang.


Benar kata orang sesuatu yang berlebihan tidak lagi menjadi kenikmatan..


-


Pagi kembali datang menyapa, suara dering telpon membangun kan nya. Zai mengambil ponsel yang masih berada di saku celana nya, Dia lupa mengeluarkan ponsel nya saat tertidur.


Zai melihat id penelpon lalu menjawab nya "Hallo Sayang!"


"Besok jum'at jangan lupa, Kita akan ke kampung halaman ku" Ucap suara lembut yang mengema di telinga.


"Oke sayang, Kapan berangkat nya?"


"Kalau bisa pagi saja lebih baik"


"Baiklah, Aku ingin tidur lagi" Ucap Zai.


"Uuh dasar pemalas, Ya sudah istirahat sana, Aku masih dengan Aisya di Sky Paviliun, jika ingin kesini datang saja" Ucap Alisya terdengar malu malu, selesai berucap dia langsung memutuskan sambungan telpon nya.

__ADS_1


Sedangkan Zai tidur kembali, Rasa nya hari dia ingin bermimpi saja.


Dua jam kemudian Zai kembali terbangun, tapi bukan karna dering telpon, tapi karna suara genderang yang ada di perut nya.


Dia berjalan keluar kamar sambil menutup mulut yang menguap. Langkah nya terus membawa nya kedapur dan disana dia melihat dua orang wanita sedang memasak. Satu muda dan satu nya lagi cukup matang dalam segi usia.


Zai menghentikan langkah nya dan mendengarkan mereka berbicara sambil tersenyum.


"Bi Diah, Apa saja makanan kesukaan nya Tuan Muda?" Tanya sang gadis yang cantik jelita.


"Kalau biasa nya itu, Tuan muda selalu minta masakan yang bibi suka masak aja, Dia tak pernah meminta hal khusus, Memang nya kenapa, Kamu mau buatkan makanan untuk Tuan Muda? Atau kamu naksir dia?"


"Ih bibi apaan sih, Ga gitu juga, dia kan nolong aku jadi aku ingin masak sebagai tanda terima kasih yang tulus untuk nya" Ucap nya sambil menunduk malu.


"Kamu ini ya! Kamu kira Bibi tidak tau, Bibi juga pernah muda seperti kamu, Jika ketemu seseorang yang tampan dan juga pahlawan di hati, Uh rasa nya seperti ingin selalu bersama nya, memandangnya, memeluk nya" Ucap Bi Diah terkekeh melihat wajah Vera yang semakin memerah "Tu kan jadi seperti tomat pipi nya" tambah Bi Diah lagi kali ini dia tertawa lepas.


Vera menghentak kan kaki nya kelantai karna kesal di ejek oleh Bi Diah, "Aku balik saja kekamar, Bibi ngejek aku terus sih" Dengan wajah cemberut dia berbalik,


"Eh malah ngambek" Gumam Bi Diah tapi dia tersenyum senyum sendiri melihat anak muda jatuh cinta, mengingatkan nya kepada masa muda nya. Dia juga bersikap seperti itu ketika di ejek oleh teman teman nya.


Langkah Vera terhenti ketika dia melihat siluit seseorang yang berada di dekat pintu. Dia tak jadi melangkah maju, dia terpaksa berbalik karna malu 'Mungkin gak ya Tuan muda mendengar pembicaraan ku dengan Bi Diah' Vera membatin dan terus berjalan tanpa sadar dia menabrak sesuatu.


"Aduuuh..!"


Teriakan gadis itu terdengar oleh Bi Diah, Bi Diah hanya tertawa melihat kebodohan Vera, "Noa Vera yang cantik, Itu kenapa kepalanya bisa ngejedot lemari? Bukan kah jalan keluar dapur arah kesana!?" Bi Diah berjongkok untuk membantu Vera bangun.


Tapi tangan Zai lebih dulu mengambil lengan kecil Vera dan menarik dengan pelan, 'Kenapa wajah ku semakin terasa panas ya' Batin Vera yang melihat dewa di hadapan nya.


"Eh tuan muda, Tuan mau di masakin apa?" Tanya Bi Diah yang melihat Zai menolong Vera.


"Apa saja boleh Bi" Sahut nya kepada Bi Diah, setelah itu dia mengalihkan pandangan nya ke arah Vera yang masih menunduk dan memegang kepala nya yang sedikit benjol.


Mengingat kejadian mereka tempo hari membuat Vera semakin malu.


"Apa kau tidak apa apa?" Tanya Zai sambil menyentuh benjolan di kening Vera dan mengeluarkan sedikit energi nya untuk mengempeskan benjolan itu.


Tentu Vera merasakan hangat di kening nya yang di sentuh oleh Zai dan dia tidak lagi merasakan sakit, 'Memang dewa penolong' semakin bertambah rasa suka di hati nya. "Aku sudah baikan" sahut nya.

__ADS_1


"Hati hati makanya kalau jalan, Liatin jalan dan jangan melamun" Zai menasehati nya.


__ADS_2