Sistem Konglomerat

Sistem Konglomerat
Misi Khusus


__ADS_3

Tidak ada cahaya matahari yang masuk kedalam ruangan yang telah ditinggalkan itu. Hanya angin yang terkadang kecil terkadang besar yang mencoba mengusir debu yang masih beterbangan di udara.


Mata menyapu seluruh ruangan yang kini hampir tertimbun oleh reruntuhan. Zai menemukan laboratorium.


"Untuk apa mereka membangun ini?" Gumam Zai yang terus menyibak reruntuhan yang sebagian menghalangi jalannya.


"Sepertinya mereka ingin membuat suatu hal yang tidak mungkin menjadi mungkin. Seperti dirimu yang ingin menjadikan sel-mu sendiri agar semua wanita yang kamu miliki bisa bertahan untuk waktu yang lama dalam hidup" ucap Laila.


"Kau benar. Tapi sepertinya semua sudah dibawa kabur dan sebagian lagi dihancurkan agar tidak ada tersisa bukti, sebaiknya kita pergi. Tidak ada yang dapat diambil dari laboratorium ini"


"Mm" Laila menganggukan kepala "tapi simpan saja semuanya daripada terbuang sia-sia. Siapa tau akan cocok dengan laboratorium milikmu" ucap Laila memberi saran.


"Kau benar, tentu akan ada hal baik meskipun terkadang kita menganggap sesuatu itu tidak baik dan patut ditinggalkan" kata Zai. Menyedot semuanya ke dalam ruang inventory.


Setelah itu mereka pergi dan mengikuti jalan keluar yang memang sudah terbuka.


Mereka keluar dengan cahaya matahari yang sudah condong ke barat menyinari tubuh mereka. 


"Sepertinya kita cukup jauh dari markas Black Devil." Kata Zai.


"Sepertinya iya. Dan kita harus mencari kendaraan untuk pergi dari tempat ini." Ucap Laila "atau kita terbang saja?" Tanyanya.


"Tidak perlu. Kita jalan kaki saja. Jika kamu capek. Sini gendong!" Kata Zai merendahkan tubuhnya agar Laila bisa naik ke punggung Zai. 


Meskipun Laila tidak merasakan capek sama sekali. Tapi dia juga ingin memiliki perasaan layaknya manusia yang diperhatikan oleh pasangan.


Sejauh ribuan langkah Zai berjalan dengan seorang bidadari tanpa sayap di punggungnya yang menempel. Banyak pembicaraan yang mereka bicarakan. Banyak candaan yang telah di candakan. Hingga mereka semakin intens. Laila memberikan pelukan hangatnya dari belakang.


Mereka sampai pada pinggiran kota. Laila meminta untuk turun. "Lebih baik kita mencari makan saja. Bagaimana menurutmu?" Tanya Zai seraya menoleh ke samping. Menatap pipi yang menggemaskan untuk dicubit.

__ADS_1


"Tidak masalah" jawabnya sambil tersenyum. Laila lebih dulu melayangkan tangannya untuk mencubit hidung Zai. Setelah itu dia berlari. Zai tentu mengejarnya. Waktu yang dilalui begitu indah. Bagaikan dunia milik mereka saja dan yang lain ngikut.


Zai menemukan sebuah resto dengan makanan indonesia. Segera keduanya memasuki resto itu dan memesan makanan.


"Setelah menyelesaikan misi ini. Misi apa yang akan datang menurutmu?" Tanya Zai kepada Laila yang duduk hanya terhalang meja kecil.


"Nanti akan diberi tahu bila sudah selesai"


[Ting… Misi khusus. Membantu seorang ibu yang tak bisa membayar makanan!"


Mendengar seruan dari notifikasi sistem. Zai langsung menggerakan kepalanya. Memanjangkan lehernya untuk melihat apakah ada seorang ibu-ibu yang sedang kesusahan dalam membayar makanan. Dan benar saja. Di tempat kasir ada sedikit kegaduhan.


"Aku akan mengurus misi sebentar!" Kata Zai. Segera dia pergi meninggalkan bidadari tak bersayap itu.


Di meja yang lainnya. Ada empat orang yang memandang ke arah Laila.


"Benar-benar cantik bukan?"


"Sepertinya kita akan mendapatkan untung yang berkali lipat!"


"Maksudmu?" Satu yang tidak memahami bertanya.


"Kau bodoh ya. Kita akan menangkapnya. Menyetubuhinya hingga puas lalu kita jual. Bagaimana menurutmu, Untung tidak!?"


"Jelas untung kalau kayak begitu"


"Tapi kita harus menyingkirkan lelaki itu terlebih dahulu agar tidak menyulitkan. Dan kau Alan. Kau tahan lelakinya bersama dengan alvin. Aku dan Axel akan menculik wanita itu, apa kalian berdua paham?" Tanya Archi.


"Kami siap bos!" Jawab Alan. Lalu mereka berembuk membuat sebuah rencana matang menurut mereka. Tidak akan mereka menduga bahwa yang dibicarakan mendengar apa yang mereka rencanakan. Sebab terhalang beberapa tiang dan meja.

__ADS_1


Zai tidak tahu rencana orang lain. Sebab dia sekarang berada di dekat seorang ibu yang menggendong anak laki-laki berumur kurang lebih enam tahun.


"Ayolah pak! Aku bukannya tidak punya uang, namun hanya tidak cukup dan izinkan aku untuk pulang mengambilnya di rumah. Tolong bapak pahami. Anak saya ada yang masih kecil dirumah ingin makan secepatnya" ibu itu memelas. Sedangkan kekurangan uangnya tidak lah banyak. Hanya beberapa dolar saja.


"Kau pembohong. Jika aku tidak sering memperhatikanmu yang selalu kurang ketika membawa uang. Aku tentunya akan memahami. Namun kenyataan apa. Kau selalu begini dan mengulang siklus yang sama setiap waktu Kau belanja disini. Aku sudah menduga sebelumnya bahwa kau tidak akan mampu membayar. Jadi aku mengurangi pesanan kamu. Tapi kamu masih tidak bisa membayar sisanya. Sudah pergi sana!" Ucap seorang manajer yang ada di resto. Dia sedikit memberi dorongan kepada wanita itu. Namun tidak sampai terjatuh.


Zai yang melihat dan sudah mendengar semuanya. Tidak menyalahkan manajer bersikap seperti itu wajar memang karena manajer itu juga digaji dan dia tetap ingin bekerja. Namun Zai tetap membantu ibu itu. Dia menahan tubuh anak kecil itu agar tak terhempas ke lantai licin.


"Anakku!" Wanita itu memandang ke arah Zai yang tengah memegang anaknya. Lalu berkata "terima kasih banyak. Maaf merepotkan!" Wanita itu berkata sopan.


"Tidak apa bu!" Zai meraih seribu dolar dari sakunya dan menyerahkan ke tangan wanita itu setelah menurunkan bocah kecil dan membantunya berdiri sempurna. Namun rupanya bocah itu tidak bisa berdiri sempurna. Sebab salah satu kakinya ada yang pendek.


Ibu itu menolak uang setelah tersadar dari keterkejutan bahwa ada orang yang memberinya seribu dolar. Itu uang yang cukup banyak menurutnya


Zai merasa sangat kasihan dengan hal itu. "Ambil saja Bu. Kau kan lebih perlu!" Kata Zai lalu dia berjongkok dan bertanya kepada anak kecil itu "siapa namamu?"


"Ricky!" Sahut bocah itu.


"Bolehkah kakak melihat kakimu?" Tanya Zai kepada Ricky.


"Boleh! Tapi untuk apa?" Tanya Ricky kecil.


"Kakak akan menyembuhkannya!" Ucap Zai pendek.


Wanita itu lagi-lagi terkejut bahkan Ricky sendiri terkejut mendengar penuturan Kakak di depannya yang kini masih berjongkok. Kakak penolong itu sekali lagi ingin menolong kakinya yang pendek sebelah kanan. Hingga membuatnya terpincang jika berjalan. Cacat itu bawaan dari lahir.


"Apakah aku tidak salah dengar dengan apa yang kau katakan? Dokter saja tidak bisa menyembuhkannya"


"Orang lain mungkin tidak, tapi aku lebih jago masalah ini" kata Zai. Dia meraih kaki bocah itu. 

__ADS_1


Dan diperhatikan oleh banyak orang yang ada disana. Mereka sangat penasaran dengan metode apa yang akan ditampilkan oleh pemuda itu. Ada yang merekamnya untuk dokumentasi ada pula yang langsung menggunakan siaran langsung


__ADS_2