
Zai memutar handle pintu dan ingin menutupnya namun kaki terulur menghalangi pintu "Aaa sakit!" Kata itu keluar dari mulut wanita yang kakinya tengah terjepit di sela pintu.
Dia dapat lepas karena menendang kedua pria yang memaksanya itu di kantong menyan mereka masing-masing.
Karena mendengar ada teriakan kesakitan Zai membuka sedikit lebih lebar pintu dan seorang wanita langsung masuk ke kamarnya.
"Apa yang kau lakukan?" Zai mengernyitkan dahinya lalu membuka pintu yang wanita itu tutup.
"Aku mohon jangan! Mereka akan menangkapku dan memperkosaku!" Kata wanita itu memohon dengan telapak tangan yang disatukan.
"Tapi aku tak ingin masuk dalam sebuah masalah yang kau hadapi. Keluarlah!" Pinta Zai. Dia menggeser tubuh wanita yang sekarang menahan pintu dengan punggungnya lalu menarik handle pintu dan membukanya cukup lebar.
Dua orang yang sebelumnya terkapar menahan sakit perlahan bangkit namun masih dengan mengapit burung mereka yang terpenyek akibat kaki yang masuk menghantam dua telur yang dimiliki pada masing-masing orang.
Mereka menunjukkan wajah beringas dan ingin sekali menjejali mulut wanita itu dengan burungnya bahkan menjilati telur yang sakit hingga reda. Namun mereka harus mengatasi lelaki yang muncul dari balik pintu lebih dulu.
"Kami tidak akan mengganggumu. Hanya saja, berikan wanita itu kepada kami" tunjukkan kepada wanita di belakang Zai.
"Aku berencana untuk menyerahkannya. Tapi melihat tingkah kalian maka aku urungkan. Pergilah sebelum aku berubah pikiran!" Kata Zai menatap keduanya dan dengan lambaian tangannya.
"Kau berani mengusir kami? Dasar bocah tidak tahu dimana bisa menempatkan diri yang aman, Ayo bro kita pukuli sampai mati!"
"Mm" gumaman terdengar dari kawan sebelahnya.
Keduanya langsung mengayunkan tinju. Satu dengan tangan kanan satunya lagi dengan tangan kiri yang digabungkan.
Wush! Ada desiran angin. Zai mengangkat kedua tangannya untuk menangkap tinju itu. Setelah menangkapnya. Kedua orang itu berteriak
Aakh! "Lepaskan!" Teriak keduanya. Mereka memaksa menarik namun tak bisa lepas.
Zai memberikan lekukan tangannya ke bawah dan menekannya hingga terdengar gemeretak tulang yang patah.
__ADS_1
Ekspresi keduanya langsung berwajah merah menahan sakit yang datang begitu cepat.
Begitu pula dengan wanita di belakangnya yang terkejut bahwa lelaki di depannya itu bahkan lebih kuat dari dua orang yang ingin menangkapnya.
Zai memberikan tendangan pada kaki dua orang itu dan membuat keduanya terlempar menghantam tembok.
Keduanya segera bangkit dan berlari dengan sakit yang teramat menyiksa. Biasanya mereka yang menindas orang lain. Sekarang giliran mereka yang ditindas. Karma memang bisa datang tanpa diduga.
"Awas. Tunggu saja!" Teriak salah satunya.
Zai tidak menghiraukan ancaman mereka. Jika mereka datang tinggal habisi saja lagi.
Dia berbalik dan menatap wanita itu kemudian berkata. "Pergi Lah! Kau sudah amankan?"
"Bisa tidak aku bermalam disini satu malam saja. Besok pagi-pagi sekali aku akan pergi tanpa mengganggumu, aku masih khawatir mereka akan menangkapku lagi jika aku kedapatan oleh mereka berjalan sendirian" ucap Wanita itu.
Zai cukup lama mempertimbangkannya. "Jangan naik ke ranjang, aku tidak ingin kau menyentuhku" kata Zai dengan dingin. Dia seolah orang yang berbeda. Apakah dia memang ingin menampilkan karakter yang berbeda dari biasanya yang selalu mengambil kesempatan yang ditawarkan oleh wanita?
Kamar itu berisikan satu set tempat tidur. Sofa, televisi dan balkon yang cukup besar untuk menikmati pemandangan New York.
Zai membuka baju dan berjalan ke kamar mandi.
Wanita itu pun melepaskan pakaian luar, sekarang dia hanya memakai tanktop dan dalaman pendek yang super ketat. Tubuh putih mulus yang tersembunyi sebelumnya kini terlihat seperti lukisan indah.
Dia memiliki perawakan yang bagus dengan tinggi seratus tujuh puluh delapan sentimeter. Memiliki rambut panjang lurus tapi tidak lepek. Dengan wajah tidak terlalu bulat namun memiliki warna mata kecoklatan dengan garis ditengah seperti mata kucing. Alis cukup tebal dan bibir halus dan tipis. Jika tersenyum akan sangat mempesona.
Zai keluar dari kamar mandi dengan pakaian lengkap. Wanita itu melihatnya dengan sedikit bingung dan pertanyaan di benaknya. 'Bukankah dia tidak membawa apapun ketika masuk kamar mandi selain celana panjang yang dipakainya. Tapi mengapa bisa dia keluar dengan pakaian lengkap' wanita itu tak habis pikir memikirkan bagaimana caranya. "Ah sudahlah. Tak perlu memikirkan itu. Mungkin dia pesulap!" gumamnya lagi lalu mengambil selimut untuk menutupi tubuh indahnya.
Zai membuka kulkas dan mengambil sekaleng minuman dingin lalu membuka dan meneguknya beberapa tegukan langsung. Setelah itu dia merebahkan tubuhnya di kasur.
'Sepertinya wanita itu kelaparan' Zai memiliki pendengaran yang cukup tajam setelah mendapat berkah dari sistem. Dia pun memesan makanan melalui ponselnya.
__ADS_1
Sepuluh menit menunggu, pesanan tiba. Zai mendapat notifikasinya dan langsung membuka pintu. Membayar sejumlah uang yang sudah ditukar dari rupiah menjadi dolar. Dia pun memberikan sejumlah tip agar orang lebih semangat dalam bekerja.
Zai menaruh makanan itu di meja dekat sofa "Aku memiliki pendengaran yang cukup baik dan aku tau kau lapar, makanlah!" Katanya. Setelah itu dia berjalan kembali.
Wanita yang sebelumnya hanya pura-pura tidur padahal perutnya sangat sakit karena belum makan. Namun dia malu mengatakannya. Perlahan mulai duduk dan membuka bungkusan plastik.
"Apa kau tidak mau?" Tanya wanita itu.
Zai tidak menjawab pertanyaan itu, dia asyik dengan dunianya sendiri. Dimana dia duduk bersila dengan konsentrasi memasuki keheningan.
"Terlalu dingin jadi lelaki, nanti kau tidak akan dapat wanita cantik" ucap wanita itu lagi.
Namun Zai tetap tidak menghiraukannya dan wanita itu lagi-lagi banyak berbicara dan bertanya.
Malam berlalu tanpa ada lawan bicara buat wanita itu, ingin dia bercerita banyak hal. Namun orang yang seperti balok es itu hanya diam saja.
Mentari pun datang menyapa, hampir semalaman wanita itu tidak tidur karna berbagai alasan.
Pagi itu. Dia berjalan ke kamar mandi menuju wastafel membersihkan wajahnya dengan air bersih. Lalu keluar lagi dengan pakaian minim yang dia kenakan.
"Kau mengotori mataku dengan pakaian seperti itu, cepat sana pakai pakaianmu!" Kata Zai yang bertemu dengan wanita itu didepan kamar mandi. Zai mengira wanita itu sudah pergi tapi nyatanya belum.
"Seolah kau berkata bahwa matamu suci! Cih" wanita itu berdecak. Dia mengibaskan rambutnya lalu berjalan meninggalkan Zai.
Zai memasuki kamar mandi. Setelah sepuluh menit dia keluar dengan pakaian yang berbeda lagi.
Tentu hal itu memancing pertanyaan dari wanita itu. Dia segera bertanya setelah rapi dengan pakaiannya. "Kau pesulap?" Tanya wanita itu polos.
"Bukan! Aku akan keluar, jika kau ingin disini terserah. Namun aku tidak kembali. Kamar ini sudah dibayar untuk satu minggu. Jadi kau bebas mau berbuat apa!" Kata Zai. Dia langsung pergi selesai berkata. Meninggalkan kesan yang dalam dihati wanita itu..
'Sepertinya aku harus membuatnya jatuh cinta kepadaku, pemuda yang dingin dan kuat bisa dijadikan tameng untuk menghadapi para bajingan itu'
__ADS_1