
"Ayah, Ibu!" Gaby langsung melompat ke pelukan keduanya. Ketika kerangkeng tempat mereka dikurung terbuka. Tidak ada penjagaan didalam. Sebab jalan keluar hanya satu arah saja.
"Bagaimana keadaanmu nak?" Tanya mamanya Gaby seraya memeluk erat. Mereka bertiga berpelukan.
"Aku baik-baik saja. Sebaiknya kita keluar dari sini!" Kata Geby lalu melonggarkan pelukannya.
Zai memandang mobilnya. Itu hanya memiliki empat kursi. Mungkin muat lima orang tapi itu pun dengan ukuran yang duduk dibelakang memiliki standar badan sedang. Kalau sebesar ayahnya Geby itu pasti tidak akan muat.
"Tapi mobil tidak akan muat" kata Zai.
"Aku akan ambil mobil yang lebih besar! Tuan muda tidak perlu khawatir. Disini masih ada banyak Mobil Van" kata Daniel. "Izin pamit dulu!" Katanya membungkuk kepada Zai.
"Mm" Zai menganggukan kepalanya.
Tidak begitu lama. Sebuah mobil berwarna hitam datang. Zai meminta kedua orang tua Gaby sekalian dengan Gaby untuk pergi lebih dulu.
"Ayo kita pergi bersama!" Pinta Gaby.
"Pergilah lebih dulu. Aku sudah memenuhi janjiku. Harus ada yang menahan mereka. Jika tidak! Kalian tidak akan bisa keluar dari tempat ini." Kata Zai. "Daniel! Bawa mereka semua. Antarkan ke tempat aman!" Perintahnya.
Ketika mobil yang dikendarai Daniel hendak keluar. Mereka sudah dijaga oleh semua orang yang sebelumnya ada di luar. Sebab mereka sudah mengkonfirmasi kepada ketua. Tentang Daniel yang berkunjung membawa tamu.
Ada beberapa mobil yang disusun berlapis untuk menahan tabrakan. Jika Daniel memutuskan untuk menabrak pintu yang tertutup, maka sudah pasti tidak akan bisa. Namun Zai yang melihat menggunakan mata emas miliknya mendahului mobil yang dikendarai oleh Daniel dan menghalanginya dijalan. Lalu melemparkan bom yang berguling ke tembok.
Boom! Getaran keras meruntuhkan tembok. Zai langsung meminta Daniel untuk keluar dari sana. Dia sudah memeriksa bahwa dari balik dinding itu juga bisa keluar dan langsung menuju jalanan kota.
"Sial! Mereka ngebom tembok. Ayo kita kejar!" Ucap seseorang yang bertugas menghadang.
Akan tetapi mobil Zai masih berada disana. Dia keluar dari mobil. Kemudian melompat ke atas mobil dan berdiri lalu sebuah senjata Ak-47 muncul di tangannya. Dengan senjata itu dia menembaki beberapa mobil yang mendekat ke arahnya. Siapapun? Tanpa pandang bulu!
__ADS_1
Melihat hal. Sebagian ada yang memundurkan mobil mereka agar terlepas dari jangkauan tembakan yang berkemungkinan mencapai tiga ratus meter itu.
Salah satu mengabari ketua mereka yaitu Brian tentang kondisi yang terjadi di markas cabang Black Devil.
Tentu Brian marah mendengarnya. Dia segera menyuruh anggota yang lain untuk datang dengan membawa senjata yang lengkap pula.
"Ketua meminta kita untuk bertahan. Ambil senjata yang ada di penyimpanan senjata. Lalu kita sikat habis orang ini"
"Baik!"
Puluhan orang sudah mati. Hanya dengan satu senjata yang dimiliki. Ketika pelurunya habis. Zai melemparkannya. Lalu melompat turun dari atap mobil. tanpa bersembunyi dia berjalan.
"Orang ini sangat gila. Dia seolah merasa seorang manusia super dengan berjalan seperti itu"
"Sudah biarkan saja kalau dia memang sok hebat. Kita tembaki saja. Dan berikan kemenangan kepada ketua Brian. Hanya satu orang saja sudah merepotkan begini. Dan sepertinya dia sudah tidak memiliki senjata"
"Hati-hati. Kita tidak tahu apakah dia masih memiliki senjata lain di balik lengannya." Kata dua orang yang berdekatan itu.
Zai hanya tersenyum lalu dua buah pistol di kedua tangannya muncul dan mereka semua memulai baku tembak. Tanpa ragu Zai mengaitkan kedua telunjuknya dan terus melepaskan tembakan sambil memutar tubuhnya. Dia seolah memakai pelindung baja di tubuhnya. Sebab tembakan yang mengarah kepadanya tidak ada yang dihindari.
Satu, dua, tiga. Satu persatu berjatuhan. Hampir setiap orang yang ditembaknya terjengkang dan mati.
Tidak ada teriakan yang bertahan lama. Sebab Zai membidik di kepala dan kini hanya tersisa beberapa orang saja.
"Dia memang sangat gila! Tapi mengapa tidak ada peluru yang menembus tubuhnya? Ini sangat aneh bukan?"
"Kau benar. Mungkin itulah yang membuatnya begitu percaya diri dan berani berjalan ke jarak tembak kita" sahut sang teman yang masih dengan hati berdebar bersandar pada tiang penyangga
"Lantas kita harus apa kalau dia begitu kuat?"
__ADS_1
"Entahlah. Sepertinya kita harus lari jika ingin selamat" selesai berkata orang itu benar-benar lari. Namun Zai melihat pergerakan itu dan langsung membunuhnya dengan dua tembakan
Door! Dua kali ledakan di ujung pistol keluar tembakan.
Aakh! Orang itu langsung mati ditempat.
Yang lainnya tidak berani membuat gerakan. Salah satu berkata menyerah dengan mengangkat tangan keatas dan membuang senjata di tangannya. Namun Zai langsung menembak mati orang itu.
"Maaf aku tidak mendengar dengan jelas sebelumnya!" Kata Zai tersenyum. Dia dapat merasakan niat orang itu. Niat jahat yang terselubung dari kata menyerah.
Tersisa satu orang dengan celana yang basah keluar dia pasrah akan hidupnya dan berjalan. Dia sudah memeriksa yang lainnya dan tidak mendapati orang lain lagi selain dirinya yang hidup.
"Aku akan mengikutimu tuhan, jika kau membiarkan aku hidup!" Kata orang itu.
"Hemm" Zai memejamkan mata lalu berkata.
"Pergilah! Dan hiduplah sederhana" kata Zai. Zai melemparkan sejumlah uang sepuluh ribu USD. Dia dapat melihat kedalaman hati yang sedikit baik. "Buka usaha. Suatu hari aku akan mencarimu!" Ucap Zai.
"Baik tuan!" Orang itu langsung berlari dan pergi dari tempat itu.
Notifikasi tidak terhitung jumlahnya didapatkan oleh Zai. Uang segitu hanyalah beberapa ratus poin dari membunuh orang-orang ini.
Ketika dia hendak kembali ke mobilnya. Deru mesin terdengar begitu banyak, bergerombol masuk beberapa orang dengan rompi anti peluru yang terpasang di tubuh mereka. Serta perisai seperti milik polisi. Entah dimana mereka mendapatkannya. Tapi yang pasti mereka bukanlah polisi atau satuan khusus dari negara.
"Poinku. Datanglah lebih dekat!" Gumam Zai. Seraya merentangkan tangannya.
Pasukan khusus itu langsung mendekat namun memasang perisai dengan berbaris dan senjata yang pistol yang di sisipkan di antara celahnya.
Tapi Zai hanya melambaikan tangannya ke udara. Mereka yang melihat itu begitu bingung dengan apa yang dilakukan pemuda itu.
__ADS_1
"Apakah dia orang gila. Gila karena akan mati?" Tanya salah satu di antara puluhan orang itu.
"Mungkin saja. Tapi kau lihat mereka semua dibantai oleh orang yang kau anggap gila itu. Namun tidak ada luka yang didapatkan olehnya. Dia pasti memiliki suatu trik. Waspadalah!" Yang menyahut adalah pemimpin dari pasukan khusus yang dibangun oleh Brian sebagai senjata perang dan rencananya serum kekuatan yang di pesannya akan diberikan kepada pasukan khusus itu.