Sistem Konglomerat

Sistem Konglomerat
Membeli Rumah 2


__ADS_3

"Jangan menilai orang sebelum kita tahu dengan benar, Siapa yang tahu kalau menantunya itu yang orang kaya. tapi dia tidak ingin menjadi pusat perhatian jadi meminta mertuanya untuk membawa Mobil miliknya" Sahut Anji, Orang yang mengejutkan mereka berdua menasehati, Anji berjalan setelahnya membawakan minuman karna dia bekerja sebagai OB dan tugasnya melayani tamu dan memberikan minuman meskpun tak diminta asalkan orang itu duduk menunggu.


"Permisi Pak, Silahkan diminum Kopinya" Ucap Anji.


"Terima kasih banyak, Dari sekian banyak orang hanya kau yang perhatian denganku, Apakah kau mau bekerja denganku?" Ucap Zai. dia mendengar apa yang dibicarakan oleh dua orang sebelumnya. dan dia salut kepada pemuda dihadapannya ini yang tak memandang orang dengan cara penilaian sekilas.


Tidak dengan kedua orang itu. "Bagaimana dengan penawaranku? kau akan mendapat posisi yang layak sebagai kriyawan dan Bukan OB. bukan aku menghina pekerjaanmu, Tapi jika ada hal yang lebih baik mengapa tidak di ambil. ingat kesempatan itu jarang terjadi. sekali terjadi jangan dilewatkan" Zai bertanya lagi setelah memperhatikan pemuda dihadapannya itu sedari tadi termenung dan tak henti dia menawarkan pekerjaan.


'Apakah ini mimpi' batin Anji. dia sedikit terkejut dengan apa yang dikatakan oleh pemuda yang dikatakan menantu miskin, Dengan mimik wajahnya yang berubah dengan kejutan lalu dia berkata "Tapi kerjaan saya disini juga cukup baik, Sepertinya tidak bisa" Ucapnya menolak dengan halus.


"Aku tidak bercanda. dan aku yakin dengan kepintaranmu. hanya masalah kesempatan saja untuk mendapatkan gaji yang cukup besar. Seharusnya kau tidak menolak. pikirkanlah dengan baik. ini kartu namaku" Zai memberinya kesempatan lagi. dia juga tidak ingin menyiakan orang yang begitu baik dan dia yakin hanya masalah waktu dan kesempatan saja untuk membuat pemuda itu sukses.


"Terima kasih Pak." Anji mengambil kartu nama itu dengan sedikit gemetar lalu berbalik dengan nampan yang berada didadany.


"Apa yang dia katakan kepadamu? sepertinya kau sedang gemetaran!!" Tanya Yanto.


"Aku hanya terkejut saja, Dia menawariku sebuah pekerjaan sebagai kariayawan dikantornya. apakah kalian percaya hal itu?" Tanya Anji menatap Yanto dan Andi.


"Aku sih percaya saja jika mertuanya sekaya itu, Pasti dia menjadi direktur disalah satu perusahaan mertuanya" Sahut andi


"Bagaimana denganmu Yan?" Tanya Anji penasaran dengan jawaban Yanto.


"Yang menurutmu baik tentu akan baik, Aku percaya dengan penilaianmu Bro" Tepuk Yanto di bahu Anji dengan tersenyum. dia juga iri dengan tawaran itu. jika dia yang diberi kesempatan. saat itu juga dia akan meng-iyakan. Tapi nasib orang berbeda-beda dan keberuntunganpun berbeda-beda meski pekerjaan sama.

__ADS_1


"Terima kasih kawan, aku akan menerima penawaran ini." Sahut Anji lalu berbalik ke arah Zai. tapi sayang, Orang yang dicari sudah tidak ada lagi ditempat semula. Namun dia masih memiliki karti nama sebagai kartu as-nya.


Zai menggendong Rendy dan Juli mengalungkan lengannya dipinggang Zai dan tersenyum bahagia sambil berjalan mendatangi kedua orang tuanya yang tak kunjung memilih rumah. yang ada hanya saling bicara tapi tidak bisa memutuskan yang mana.


Zai datang dengan suaranya. "Hai kamu kesini" lambainha kepada satu sales yang sejak tadi hanya diam dengan browser ditangannya dan bersandar pada tiang karna tak dapat bagian dalam menawarkan.


"Aku Pak?" Sahutnya tersadar.


"Ya kamu! kesini sebentar" Ucap Zai lagi. lalu bertanya setelah sales wanita itu berada dihadapannya. "Menurutmu dari perumahan yang ada dikawasan elit ini. yang mana yang paling bagus? dan paling baik desainnya?"


"Yang ini Pak!" Tunjuknya ke arah nomor dua. "Rumah ini memiliki tiga tingkat dengan enam kamar dan kamar mandi masing-masing yang tersedia. ada ruang tamu yang didesain sangat elegan dan kolam renang yang cukup luas serta kitchen set juga sudah disediakan. anda hanya cukup membawa pakaian saja. karna semua prabotan sudah ada.


"Mengapa tidak nomor satu?" Juli bertanya penasaran.


"Kalau begitu, Aku akan ambil ini saja" Ucap Zai.


Kalimat itu langsung mendiamkan semua orang yang sedari tadi ribut menawarkan harga kepada orang kaya didepannya.


"Maaf ya! menantuku sudah memilih rumah terima kasih atas waktu kalian" Ucap Orlando, Segera dia meninggalkan para Sales yang terdiam kini.


"Sial!" Teriak seseorang, menghempas browser yang dipegangnya kelantai dengan kesal. "Aku menyesal berebutan, Tidak taunya! bos besarnya yang ada disana"


"Kau benar, Capek ngejelasin. dia hanya manggut-manggut saja. Eh ternyata dia hanya figuran semata bukan tokoh aslinya" Sahut yang lainnya yang juga ikutan kesal.

__ADS_1


Orlando mendekati Zai dan bertanya "Yang mana yang kau pilih?"


"Nomor dua Yah! ayah suka tidak?" Tanya Zai


"Tentu suka" Sahut Orlando tersenyum.


"Bailah Nona, urus pembayarannya. Zai memberikan kartu Atm Miliknya.


"Bapak tidak nanya Harga dulu?" Tanya sales muda itu.


"Tidak perlu, Langsung bayar saja" Sahutnya dengan mantap. karna dia sudah membuat pengaturan dengan bantuan sistem untuk mengatur uangnya. jika tidak cukup maka sistem yang akan bertindak.


Dia akan malu jika membeli harus bertanya dulu tentang harga dihadapan mertua. jika tidak ada mertua mungkin itu akan dilakukannya.


"Baik Pak, Silahkan tunggu didalam ruangan. karna ini akan saya serahkan ke manager dulu untuk mengurusnya." Sahut gadis muda itu, dia bergegas berjalan ke dalam ruangan menuntun mereka berlima. setelah itu dia pergi ke keruangan manager dan memberitahukan hal tersebut.


"Karina mana Jul?" Tanya Rianti yang sejak tadi tidak melihar Anaknya yang satu itu.


"Aku juga tidak tau Mah. tadi dia terlihat jalan-jalan disekitaran sini. Biar aku cari saja" Ucap Juli.


"Aku akan ikut, Biar Ayah sama Mamah yang ngurus berkasnya." Ucap Zai. mereka berdua berjalan beriringan sedang Rendi ditinggal lagi sama Omanya.


Di depan pintu dia bertemu lagi dengan Sales tadi dan ada seseorang yang cukup tua tapi berpenampilan cukup menarik dengan setelah jas yang rapi dan terlihat sangat sopan. "Anda yang ingin membeli Rumah 'kan?" Tanya orang itu." Perkenalkan Namaku Dedi! Manager disini" Ucapnya mengulurkan tangan. dan Zai tentu menyambutnya pula.

__ADS_1


"salam kenal juga. Aku Zai! panggil saja seperti itu. tentang urusan rumah. sama ayahku saja, dia ada didalam menunggu. aku ada sedikit urusan. maaf meninggalkan.." Ucap Zai lagi dan berlalu


__ADS_2