Sistem Konglomerat

Sistem Konglomerat
Menemani gadis


__ADS_3

Selepas pemuda itu pulang dengan Mobil Rolls Royce yang dia berikan. Sakti masuk kedalam rumah dengan langkah yang menggetarkan dada yang memandangnya. Sedari tadi dia menahan amarahnya hanya untuk tidak membuat kecewa tuan mudanya.


"Apa kalian tidak tau, dia itu adalah orang besar! dan kalian menyinggungnya. Tidak tau besok masih adakah lagi keluarga Anggoro di jakarta ini? Kalian sungguh perusuh" Sakti meraung marah, segera dia tinggalkan tempat itu dan mendorong Anggoro kembali ke kamar.


Anggoro hanya diam dengan kepalan tangan yang masih tergenggam. Di Dalam kamar dia baru bersuara. "Apakah kamu tahu tentang pil ini?" Tunjuknya seraya membuka telapak tangan.


"Itu" kejutan nampak di wajah Sakti "itu pil yang pernah aku ceritakan kepadamu. Apakah tuan muda Zai yang memberikannya?" Tanya Sakti segera.


"Benar, sebelumnya dia menyelipkan ini ditelapak tanganku. Karena aku ragu dengan hal itu jadi aku menunggu kamu untuk bertanya di dalam kamar. Apakah efeknya akan sama?"


"Yakinlah ayah! Penyakit ginjalku yang dikatakan dokter tidak akan sembuh saja bisa sembuh hanya karena pil ini, dan jika kau mengkonsumsinya sekarang. Kita bisa tau apa efeknya. Tidak ada salahnya mencoba yang terbaik" kata Sakti.


"Baiklah, aku akan melakukannya. Ambilkan aku segelas air!" Perintahnya kepada Sakti. Sakti gegas mengambilkan dan menyerahkannya.


Semangat hidupnya kembali menyala. Dia melemparkan pil itu ke mulutnya dan langsung menegak dengan air. Seharusnya itu akan meleleh jika sudah menyentuh air liur. Namun karena keterbatasan pengetahuan. Anggoro menelannya dengan bantuan air.


Seketika, desiran panas mengalir di dalam darahnya dan melancarkan segala bentuk darah yang menggumpal di setiap nadinya. Menghancurkan dan memperbaikinya. Meregenerasi dengan sangat cepat.


Anggoro yang merasakan hal itu berteriak dengan keras. Namun Sakti malah tersenyum, Itu karena dia tau efek obat bekerja dengan sangat baik. Seperti halnya dia sebelumnya yang juga merasakan itu semua.


Sedangkan Alfi tidak tau apa yang terjadi didalam kamar orang tuanya. Dia membawa anaknya yang kesakitan kerumah sakit terdekat untuk mendapatkan penanganan tercepat. "Akan ku balas kau nanti. Biar bagaimanapun aku adalah orang yang cukup berpengaruh. Siapapun itu tidak boleh menyinggungku." Gumamnya di depan bangsal bersama istrinya menunggu dokter keluar dari ruang perawatan anaknya.


Brak! Pintu bangsal terdorong cukup keras. Dua orang suster keluar dan di belakangnya ada dokter paruh baya.


"Bagaimana keadaan anakku Dok?"


"Kakinya mengalami retak pada tulang kering dan hal itu bisa mengakibatkan dia susah untuk berjalan nantinya." Sahut sang dokter.


"Apakah tidak bisa disembuhkan?" Tanya Hesti dari samping


"Jika kalian mau. Aku bisa saja memotong retakan itu dan menyambungnya lagi dengan alat. Tapi hal itu tidak terlalu efektif. Kakinya tidak akan berjalan normal seperti sebelumnya. Tapi hanya itu yang bisa dilakukan. Jika terlambat, maka dia bisa selamanya duduk di kursi roda." Terang Dokter itu.


"Apapun lakukan saja. Aku tetap ingin melihat dia berjalan" ucap Alfi. Meski ada rasa sakit dihati.


"Kalau begitu, saya akan membuatkan prosedurnya. Nanti bapak akan mengurus administrasinya" ucap dokter itu lagi sebelum meninggalkan mereka berdua yang dalam kecemasan.

__ADS_1


"Sayang! Bagaimana ini? Kau harus membalas dia yang sudah menyakiti anak kita, bahkan kita bertiga. Sedangkan ayah dan Kak Sakti tidak peduli." Ungkap Hesti kesal dan marah.


"Aku akan menghubungi seseorang dulu" kata Alfi. Dia mengeluarkan ponselnya dan langsung mendial kontak.


Terhubung.


"Aku memerlukanmu untuk sebuah tugas" katanya langsung ketika terhubung.


"Aku kira kau melupakanku Bos! sudah lama aku tidak melakukan tugas darimu. Terakhir menabrak seseorang dimasa lalu" katanya.


"Ini juga mudah seperti dulu, kau hanya perlu membunuh seorang pemuda yang telah mematahkan kaki anakku. Dia membawa lari Mobil Kakakku yang baru dibeli" ucap alfi.


"Kamu tenang aja Bos. Asalkan uangnya lancar, semua urusan pun akan lancar" sahut orang itu


"Jangan sampai gagal. Uangnya akan aku transfer segera setelah selesai, dia mengendarai Mobil Rolls Royce dengan nomor BxxxxST"


….


Zai pulang kerumah. Dimana neneknya menunggu dengan santai di ruang tamu dengan seorang gadis yang ditemani.


Zai mendorong pintu dan masuk seperti biasa.


"Makasih Nek!" Katanya


"Haaaaaa!...." gadis itu mengejutkan Zai. Tapi yang dikejutkan malah tidak terkejut dan hanya tersenyum.


"Kenapa tidak terkejut?" Tanya gadis itu.


"Emang aku harus expresi terkejut biar kamu senang?" Zai menatap mata gadis itu dan bertanya.


"Huh gak asyik! Setidaknya hargailah usahaku untuk membuatmu terkejut" kata gadis itu dengan bibir yang manyun setengah centi.


"Hahaha" Zai tertawa melihat itu dan langsung mengayunkan dua jarinya dan berhenti pada hidung gadis itu, kemudian mengapitnya dan menggoyangkannya.


"Aduh, sakit tau!" Katanya menyingkirkan tangan Zai yang begitu kencang menjepit hidungnya.

__ADS_1


"Apakah sudah lama disini?" Tanya Zai. Dia melepaskan hidung mancung itu.


"Tidak juga. Ajak aku jalan-jalan dong, udah lama nih gak nongkrong berdua"


"Aku akan mandi dan ganti pakaian dulu" ucap Zai.


"Nek. Apa nenek mau dibelikan sesuatu?" Zai bertanya seraya bersalaman dan mencium tangan Maimunah.


"Kau selamat pulang saja aku sudah sangat senang, tak perlu repot" sahut Maimunah.


"Baik Nek, aku akan transfer uang belanja bulan ini" Zai berkata sambil berjalan menuju kamar.


Dia mandi dan berpakaian dengan sangat cepat. Tidak sampai sepuluh menit Zai keluar menemui Alman Maira yang menunggunya di ruang tamu dengan masih ditemani oleh Maimunah.


"Mai, sekarang saja keburu tengah malam. Aku takut dikatakan penculik anak gadis orang nanti" kata Zai mencandai Alma Maira.


"Oke" sahutnya tersenyum, lalu meraih tangan Maimunah dan menciumnya "aku pergi dulu Nek" katanya lagi.


Maira menggandeng tangan Zai dengan menempelkan kelembutan bukit sebelah kanannya.


"Waw mobil baru lagi nih!" Maira berseru kagum melihat warna mengkilap Rolls Royce yang terparkir di depannya itu.


"Jangan terlalu lama ternganga! Nanti kemasukan lalat" kata Zai membukakan pintu sebelah kiri. Maira masuk tanpa berkata lagi. Lalu dia berputar dan masuk disebelah kanan, kemudi.


"Siapa yang mengantarmu, sebelumnya?"


"Aku tadi kebetulan ikut ke rumah teman yang dekat dengan rumahmu, waktu pulang aku minta antar ke rumahmu saja. Sekalian ingin mengajakmu jalan-jalan"


"Apa kau sudah makan?" Tanya Zai.


"Belum. Apa kamu mau traktir?" Tanya Maira menatap Zai


"Gampang. Mau makan apa?"


"Apa aja boleh, asalkan makanan enak" sahutnya.

__ADS_1


Zai menyapukan pandangannya ke sisi kanan dan kiri mencari tempat yang enak buat nongkro sembari mendengar live musik dari para pengamen yang disewa tempat nongkrong untuk menghibur pengunjung


"Sana saja, sepertinya pemandangan disana lumayan bagus" Maira menunjuk sebuah bangunan yang terbuka atasnya dengan banyak kursi yang berbaris dengan ketinggian tiga lantai


__ADS_2