
Rasa yang tidak percaya merasuk menyakitkan kepala. Ketika mata menatap jelas selembar kertas ditangan. Zai langsung menyangga tubuh Amanda yang sepertinya kehilangan kendali atas dirinya dengan kenyataan yang tidak diragukan lagi.
"Ini pasti keliru, Aku ingin tes ulang!" Amanda menatap pak Salim dengan tatapan yang melotot. dia jelas tidak yakin dengan kebenaran itu. Jika ibunya ada, pasti akan mudah mengonfirmasinya.
Tak mungkin dia bertanya kepada batu nisan.
Zai meraih kepala Amanda dan membenamkan didadanya. Kemudian dia menatap Pak Salim. "Bolehkan aku meminjam tempatmu ini" Kata Zai mencoba dimengerti.
Salim segera berdiri. dia paham apa yang diinginkan oleh Zai. Tak mungkin juga dia melarang karna Rumah Sakit ini adalah sebagian besar milik Zai dengan pemegang saham terbesar.
"Permisi Pak Zai. Jika butuh bantuan, segera hubungi aku" Kata Salim.
Zai mengangguk saja. Sepeninggal Salim. Amanda menangis dengan sangat keras. Ada teriakan yang menggelegar. Dia hanya ingin meluapkan kekesalannya. Setelah itu Amarahnya terbuka. "Jadi selama ini aku dibodohi. Pantas dia hampir tak pernah memperhatikan aku, Jika aku bukan anak kandungnya. Pantas dia memberiku obat afrodisiak, Jika dia memang bukan ayahku. Ibu... Mengapa kau tak pernah bilang. hampir saja aku dimangsa oleh ular" dia berteriak sambil memukul-mukul paha Zai. Zai tidak mempermasalahkannya.
"Dengan kenyataan ini, Dendammu padaku tentu tidak mendasar lagi. Kita akan bahagia. aku akan membuat perhitungan dengan Bram. Ayo ikuti aku!!"
Amanda segera berdiri dengan masih mendekap tubuh bagian sebelah kiri Zai. Zai langsung memiringkan tubuhnya. Lalu mengangkat tubuh Amanda ala putri. "Sepertinya kau belum bisa berjalan dengan baik. biarkan aku menggendongmu"
Meski Amanda sedikit enggan tapi dia tidak menolak. dia hanya malu saja jika harus menjadi pusat perhatian seperti gadis manja.
Benar sekali, Mereka telah menjadi pusat perhatian ketika Zai membawa Amanda di lorong rumah sakit. Hampir setiap langkah Zai dipandang oleh orang lain.
Tapi Zai tidak menghiraukan pandangan itu. karna prioritasnya adalah membawa Amanda ke Mobil..
__ADS_1
Zai langsung membawa Amanda ke Markas Dark Moon. "Kenapa kita kesini?" Amanda sedikit bingung dengan tujuan Zai membawanya ke markas Dark Moon.
"Kau akan tau nanti" sahut Zai tersenyum, dia turun dan berputar. Lalu membukakan pintu untuk Amanda. Ini adalah bentuk perhatian seorang lelaki kepada wanitanya.
Amanda mendapati tujuh orang berada disana, Enam diantaranha duduk santai. Dan satu orang lagi duduk dengan tubuh terikat.
"Amanda!!" orang yang duduk dengan tubuh terikat itu segera memanggil wanita yang datang, Dia jelas mengenal wanita itu sebagai anaknya.
Amanda memperhatikan wajah yang babak belur itu dan dia mengenal siapa orang itu. Namun dia tak menyahut. Dia menoleh kearah Zai dan bertanya "Sejak kapan kau memerintahkan orang untuk menangkapnya?"
"Sejak sebelum kita bertemu, Sejak setelah kita bertemu, dan sejak kita bersama" Zai menyahut seraya bercanda dan tertawa pelan.
Amanda mendekat kearah Bram yang mengguncang tubuhnya agar bisa lepas dan berkata. "Sayang, bantu ayah lepas dari tali ini. Ayah sudah lelah." Bram mengeluh, mencoba membujuk Amanda. Dia masih belum tau hal yang sebenarnya antara hubungan ayah dan anak tidak lagi dipedulikan oleh Amanda.
"Apa yang kau tanyakan ini, Bukankah aku yang merawatmu selama ini. Dari hal itu saja kau harusnya tau, Aku ini jelas ayahmu!" Bram meninggikan sedikit suaranya. Padahal dalam hatinya ada keterkejutan ketika Amanda menanyakan hal itu. tapi dia tetap menyangkalnya.
Amanda memasukan tangannya kedalam tas dan mengambil selembar kertas, Lalu membukanya lebar dan memperlihatkannya ke Bram. "Apa kau masih bisa melihat tulisan ini dengan jelas?" Tanya Amanda dengan sedikit marah yang tertanam pada pandangannya.
"Apa itu, Mataku kabur" Bram beralasan, padahal dengan jelas dia melihat tulisan itu. Tertulis tes DNA yang menyatakan dia bukan ayah biologis Amanda.
"Cih... kau pandai berkilah" cibir Amanda "Pantas kau memasukan afrodisiak kedalam minuman yang diberikan. agar aku bisa kau gauli setelah aku tak bisa mengontrol diri dan kau akan memanfaatkan itu dengan alasan aku yang meminta. Pikiranmu sangat kotor sebagai orang tua"
"Bukan seperti itu Amanda, lepaskan dulu Ayah. Biarkan ayah menjelaskan semuanya"
__ADS_1
Zai merasakan getar pada ponselnya. Segera dia mengambil dan menaruh ditelinga. "Ada apa Jay?"
Terdengar deru angin yang sangat cepat ditelpon. "Wanita tuan di culik, Aku sekarang mengikuti Mobil penculiknya"
Bagai guntur yang berdegum disiang hari. Mata Zai sedikit berubah dari asalnya. Ada warna merah yang menjalar dipupilnya. "Beri aku lokasimu" Ucapnya kepada Jaya. Setelahnya dia mendekat ke Amanda "Sayang! aku ada urusan mendesak. Jika kau perlu apapun. Kau bisa meminta mereka untuk mengurus keperluanmu, Atau jika kau ingin menghajar Ayah tak tau diri ini. mereka bisa membantumu." Zai mencium kening Amanda, setelah itu memandang Sadam. "Ikut aku!"
Zai berlari dengan cukup tergesa.
"Jaga orang itu dengan baik, Jika sampai lepas. kalian tanggung akibatnya" Ucap Sadam, Setelahnya dia berlari mengikuti Zai menuju Mobil.
Zai mengemudikan sendiri Mobil dengan Sadam disampingnya. Tidak berani dia bertanya, Bila melihat wajah cemas dan marah yang bercampur. berarti ini adalah hal yang sangat penting yang telah terjadi.
Mobil itu melaju dengan cepat, Menyalip beberapa Mobil. Hanya dengan Mobil Xenia. jika pengemudinya seperti orang gila menjalankan. orang lainpun akan mencari jalur aman.
Tidak ada yang ingin mendapat kecelakaan dijalan. Meski ada saja yang mengumpat ketika Mobilnya disalip. Sebuah Mobil Pajero Sport yang penadaran dengan pengemudi itu, Mencoba untuk menyalip dan sedikit menekan akselerasi Mobil Xenia. Tapi pengemudinya adalah Zai, dengan skill pembalap super. Tak mungkin dia kalah.
Namun Mobil pajero itu semakin penasaran. dia langsung menancap dan memperdalam pijakan Gas setelah memindah perseling ke gigi lima. dan mobil bisa mengimbangi.
Soal kekuatan kecepatan. Xenia memang bukan lawannya. Tapi Zai tidak habis akal. dengan gila dia membanting Setir kekanan dan menabrakan Mobil Xenianya ke Mobol Pajero. Pengemudi pajero yang tak menyangka akan disenggol Terkejut, dengan terpaksa dia membanting setir ke kanan juga untuk menjaga jarak lebih. Namun sayang sungguh sayang, Mobilnya terpaksa mencium pembatas jalan.
Zai tidak tertawa akan hal itu, Segera dia melesat dengan cepat. Sedangkan pemilik Pajero turun dan melihat Mobilnya yang penyok disebelah kanan hanya bisa mengumpat dan berteriak. "Bangsat" dan banyak hal lagi yang dia umpatkan. penasarannya berujung penyesalan.
Itulah kenyataan yang terkadang tidak sesuai dengan harapan....
__ADS_1