
"Beri dia air" ucap Zai
Tidak berapa lama. Saddam datang membawa sebotol air dan langsung mengalirkannya di kepala Leon.
Hal itu langsung menyadarkan Leon dari pingsannya. Segera dia membuka mata dan mencari tahu keberadaannya.
Matanya mengitari beberapa orang yang kini mengelilingi dirinya. Dengan kebingungan dan banyak pertanyaan dibenaknya. Dia terus menggerakkan netra dan kepalanya hingga menemukan sosok yang tidak asing sedang duduk di kursi menatap ke arahnya.
'Sial, rupanya aku yang terkena target' batin Leon. Dia mulai meraba-raba saku celana. Dan perlahan memasukan tangannya untuk memastikan posisi ponselnya ada dimana?
"Kau mencari ini?" Tanya Zai. Dia menunjukan sebuah ponsel berwarna hitam dengan gigitan apel di bawah kamera tepat berada di tengah.
"Kembalikan ponselku!" Leon ingin meraihnya. Namun Saddam mengulurkan tanganya dan menarik rambut Leon hingga terdongak.
"Lepaskan!" Leon memberontak. Tapi mau apa. Meskipun dia cukup ahli dalam taekwondo tapi lawan adalah ahli dari bidang yang lebih baik dari itu.
"Kau menginginkan Amanda, istriku! Siapapun berhak mati jika berani sepertimu. Namun aku memberikan pengecualian kepadamu, aku tak kan membunuhmu jika ada yang bisa kamu tawarkan untukku demi menukar kehidupanmu" kata Zai memainkan trik memeras.
Akan selalu ada keuntungaN yang didapatkan jika dia harus bertindak langsung.
"Aku bisa memberimu apapun, harta atau kekuasaan!" Ucap Leon segera 'sial! Orang ini ingin memeras. Awas jika aku bisa hidup setelah ini. Akan ku balas' batinnya sangat marah
"Aku ingin kau menjual perusahaan ayahmu kepadaku, kau tenang saja. Aku juga tidak terlalu serakah. Aku akan tetap membayar dengan sejumlah uang beserta kebebasanmu dari tanganku, bagaimana?" Zai mengalihkan netranya dan berkata " Lepaskan dia!" Perintahnya kepada Saddam.
__ADS_1
Leon yang terbebas rambutnya dari tarikan yang menyakitkan itu. Akhirnya dapat menggerakan kepalanya sedikit bebas. Terasa ada beban yang menghilang dan terdengar bunyi gemeretak ketika dia memutar lehernya.
"Demi hidupku, baiklah. Serahkan ponselku! Aku akan memberikan saham milikku kepadamu, saham itu cukup untuk menghidupimu dan anak buahmu" katanya sedikit keras.
Zai mengambil ponselnya. "Apa kau sudah selesai menyiapkan berkasnya?" Zai bertanya langsung ketika sambungan telepon terhubung.
"Sudah selesai, kemanakah aku harus mengantarnya?" Tanya Monte yang belum tau keberadaan Zai.
"Markas bawah tanah. Secepatnya!" Kata Zai sebagai penutup sambungan.
Lima belas menit kemudian. Terlihat seorang lelaki datang membawa sebuah koper lalu mengeluarkan secarik kertas tipis. Dimana di dalamnya tercetak banyak tulisan. Monte memberikan kertas itu dengan satu pena.
Zai menyambut dengan senang hati. Lalu dia memberikan itu kepada Leon.
"Apa ini?" Tanya Leon bingung di suguhkan kertas.
Langkah kakinya begitu ringan, layak menyandang gelar orang yang berkekuatan dan kekuasaan yang bisa menekan siapa saja.
Kini dia telah sampai pada mobilnya bersandar dan menikmati bintang-bintang malam dan dinginnya udara yang terasa membekukan jiwa.
Apakah dia akan hidup seperti itu saja? Dia terus berpikir banyak setelah melewati perjalanan panjang. Dengan keindahan dan juga kesedihan yang dalam.
Monte terlihat berjalan dengan santai. Juga dengan satu tangan yang berada di saku. Dia berdiri di samping Zai dengan tenang, bukan sebagai bawahan tapi sebagai seorang teman.
__ADS_1
"Apakah kau akan ke luar negeri? Tanya Monte.
"Sepertinya. Jika aku tidak bergerak lebih dulu, aku yakin akan ada yang akan mengusik kehidupanku disini. Di sini mungkin aku adalah yang terkuat, di luar aku belum tau" katanya
"Kau benar, masih banyak kekuatan yang tersembunyi dari dunia luar. Dengan segala teknologi milik mereka yang canggih. Tapi aku yakin kepadamu, bahwa kau pasti bisa menundukan semua orang dengan dominasi yang kau miliki. Saham milik pemuda itu adalah awal kau untuk memasuki pasar mereka. Jangan tunjukan di awal bahwa kau adalah pemilik dari Pt Megah Jaya yang ada disana. Hanya takut saja. Ada yang akan mengincar perusahaan itu dan menghancurkannya dari dalam." Monte mengingatkan Zai tentang hal itu.
"Kau. Tapi aku masih punya banyak cara. Bagaimana dengan pemuda itu. Apakah Saddam sudah menyelesaikannya?"
"Sepertinya sudah dilakukan. Bibit dendam harus dihancurkan hingga ke akarnya. Jadi aku harus mencari tahu lebih dalam tentang lawanmu yang akan datang, aku akan ikut denganmu ke amerika. Karena disana aku masih ada keluarga dan koneksiku cukup baik. Kau bisa mengandalkanku sementara" ucap Monte.
Mereka pun saling memandang bintang dan merasakan hembusan angin dingin..
Saddam pun muncul tidak lama setelah itu. Mereka bertiga saling bercerita satu sama lain tentang pengalaman. Monte sudah tau asal dari Sadam dan sepuluh orang lainnya. Namun yang dia tidak tahu mengapa Saddam bisa bergabung dan menjadi bawahan Zai. Meskipun dia juga menjadi bagian yang sama tapi dia dalam era yang sama. Sedangkan mereka tidak pada era yang sama.
Zai pulang kerumah setelah beberapa jam berada di dunia luar.
Alisya yang terbangun waktu itu, melihat kedatangan Zai langsung mengambil kesempatan.
"Sayang! Dari mana?" Tanya Alisya.
"Dari sebuah tempat, ada yang diurus! Apa yang membuatmu terbangun?" Zai menjawab sekalian bertanya.
"Emmm, bisa tidak malam ini aku dapat jatah?" Tanyanya malu. Sebab malam ini adalah milik dua wanita yang baru dinikahi Zai. Sebagai istri pertama, Alisya merasa mencuri kesempatan dalam kesempitan.
__ADS_1
"Untukmu! Apa yang bisa kutolak" kata Zai yang langsung mengangkat Alisya dan membopongnya ke sebuah kamar.
Tidak menunggu lama. Jalinan tangan terajut. Rintih surga yang didamba terdengar sudah. Mengantar malam yang sepi. Gelora panas membakar jiwa. Meronta di hadapan lelaki tampan yang menggoda