Sistem Konglomerat

Sistem Konglomerat
Introgasi


__ADS_3

Byuuuuuur.... Seember air dingin langsung menyadarkan mereka bertiga.


"Lepaskan kami, Lepaskan...!" Bawi berteriak lantang sembari menggerak-gerakan badannya untuk melonggarkan ikatan. Tapi sayang ikatan itu terlalu kencang, Ditambah dengan tenaganya yang kurang.


"Mat, Lepaskan satu orang dan bawa kehadapanku"


Lalu Zai duduk dikursi yang sudah dibawakan oleh Amat dengan santai dan menyesap Rokok yang kini sudah ada ditangan kirinya. (Kini Zai sudah bisa ngerokok, Entah siapa yang ajarin, Nggak ada yang ngaku) Dengan Santai dia menghembuskan asap itu.


Amat berjalan mendekati tiga orang itu dan melepaskan satu ikatan yang terhubung dengan ikatan lainnya. Kemudian dia meraih kerah baju seorang yang terlihat paling muda diantara tiga orang itu. Kenapa dia memilih yang muda Karna biasanya yang muda lah yang bermental tempe.


Segera dia membawanya kehadapan Zai dan menendang lutut bagian belakang agar Orang itu terduduk, Dengan tangan yang masih terikat dia tak bisa melawan. meski dalam hati Ucup penuh dengan dendam dan kebencian.


"Siapa namamu?" Zai bertanya dengan kedua tangannya kini bertumpu dilututnya.


Pemuda itu menggeleng dan tak bersuara.


"Mat, Ambilkan Tang dan cabut kuku jarinya, Jika dia tidak menjawab" Lalu dia mengarahkan lagi tatapannya ke arah pemuda itu dan berkata "Satu pertanyaan satu kuku akan terlepas jika tidak dijawab" Ancamnya.


Deg...! debaran jantung Ucup meningkat karna membayangkan bagaimana jadinya jika dia masih diam, Membayangkannya saja dia sudah menelan salivanya berberapa kali, Apalagi mengalaminya langsung.


Tubuhnya bergidik, Dan dua temannya pun yang mendengar kalimat itu bergidik, Ada jejak ketakutan diwajah mereka.


Langkah kaki Amat terdengar nyaring ketika mendekat dan terasa seperti dewa maut yang menghampiri dengan Tang yang berada di tangannya sangat mengkilap terkena cahaya lampu ditambah seringainya yang menggetarkan hati. (Bukan getar karna suka lebih kepada takut)


"Sekali lagi aku bertanya, Siapa namamu?"


"Su-supri, Biasa dipanggil Ucup" Dengan peluh yang mulai menetes membasahi punggungnya dia beranikan diri menjawab.


"Kamu berasal dari mana?"


"Jakarta selatan"


Amat mendekat dan meraih ibu jari Ucup, "Bukankah bila aku menjawab tidak akan dicabut Kuku ku?" Teriak Ucup sambil bertanya.

__ADS_1


"Dia hanya bersiap saja, Jikalau kau tidak menjawab pertanyaan selanjutnya, Tenanglah, Apa tujuan kalian datang kesini?"


'Huh bagaimana bisa tenang, Sial sekali, kenapa mesti aku yang mengalami nasib seperti ini? kenapa bukan mereka?'


Aaaaaa... Teriakan langsung terdengar kala Amat Mengapit kan Tang ditangannya kekuku jari Ucup yang terdiam dan menariknya dengan kesenangan.


"Aaaaampun....!" Teriaknya lagi, Dia berguling kesakitan dengan air mata yang jatuh dipupil matanya. darah keluar dari ujung jari kaki itu


"Itulah akibatnya kau terlalu banyak berpikir, Tinggal jawab saja apa susahnya" Ucap Amat dengan santai lalu membuang kuku yang ada di ujung Tang.


"Aku mengulangi lagi pertanyaan, Jika tak terjawab dengan cepat, Maka dua kuku jarimu akan hilang, Apa tujuan kalian datang kesini?"


"Ka-kami mendapat Misi untuk memeriksa keadaan Parno"


"Cup diam, Jangan banyak bicara lagi..... Bunuh saja kami" Bawi segera berteriak, Dia tak ingin identitas dermawannya terbongkar.


"Membunuh kalian itu mudah, Tapi aku hanya ingin tau siapa sebenarnya kalian dan kemana kalian membawa para wanita yang ditangkap oleh parno?" Zai menyesap kembali Rokok yang ada ditangannya lalu melempar dan menginjaknya hingga padam.


Kemudian dia berdiri dan memegang dagu Ucup dan berkata "Jawab dengan cepat"


Terpancar niat membunuh yang kejam ketika mendengar mereka mengekspor wanita muda ke Taiwan dan Zai tanpa sadar melayangkan tamparan yang keras ke wajah Ucup. membuat Ucup langsung pingsan.


"Aku ingin alamatnya dan siapa Nama pemimpin Dark Moon ini" Ucapnya kepada Bawi yang memejamkan matanya sembari menggertakkan giginya.


Dia menggelengkan kepala dan berbicara dalam hati 'Bajingan ini sungguh kejam' Rutuknya.


Zai meraih dagu Bawi dan mencengkramnya erat, "Jika kau tak mengatakannya, Maka teman disampingmu akan tersiksa..... Mat, potong jari teman satunya ini!!" Ucap Zai tanpa menoleh dengan tangan masih mencengkram kuat dagu Bawi "Lihatlah kebungkamanmu akan membuat temanmu merasakan mati tak mau, hidup pun susah"


Amat segera meraih jari tangan yang dimiliki oleh Sani, dan mengapitnya dengan tang hingga tanggal.


Segera teriakan pilu terdengar menyakitkan..


Zai meraih ponselnya dan berkata kembali "Berapa nomor kontak Bos mu, aku akan meminta tebusan untuk hidup kalian bertiga, Jika dia tak mau maka kau tidak berguna untuknya, Sebutkan berapa Nomornya"

__ADS_1


'Dasar bajingan gila, Jika tidak ku beri tahu, Sani akan semakin tersiksa' Dengan wajah yang marah dia pun menyebutkan beberapa angka dan Zai langsung mendialnya.


Beberapa detik menunggu baru telpon tersambung, Zai langsung meloudspeakernya.


"Siapa?"


"Hallo Bos... Empat orang anak buah tertangkap basah menyelinap di tempatku, Apakah kau mau menebusnya?" Tanya Zai yang kini duduk.


Terlihat Udin dari jauh datang dan membawakan minuman untuk Zai dan menuangkannya di cangkir kecil.


Zai tersenyum dan mengambilnya lalu menyesap sedikit menuman itu "Terima kasih"


"Jangan berani berdusta kepadaku, Aku bisa saja menghancurkan kamu dan seluruh keluargamu" Ucap Orang itu diseberang telpon.


"Bos To-tolong kami, Kam..."


Suara Bawi terhenti karna Zai menjauhkan ponselnya dan berkata lagi, "Bagaimana, Apakah kau mengenal suara itu?" Zai sekali lagi bertanya.


"Bangsat, Cepat lepaskan mereka"


"Hoo ternyata kau cukup emosian, Aku hanya meminta tebusan saja, Jika dalam lima menit kau tidak mentrasfer Uang, maka semua anak buahmu ini akan mati, Dan aku akan mengirimkan jasadnya ke markas besarmu"


"Jangan harap kau bisa mendapatkan uang dariku, Bunuh saja mereka" Ucap orang itu lalu memutuskan sambungan telpon.


"Apakah kamu mendengarnya dengan jelas sekarang, Kamu menjaganya setengah mati membungkam diri, Sedangkan kamu bahkan tidak dihargai sedikitpun"


Kecewa, Jelas hati akan kecewa, Disaat hati percaya tapi tidak lebih begitu berharga dari debu yang tertiup angin.


Menyesal, Jelas akan menyesal ketika kebenaran terungkapkan, Orang yang dipuja sebagai yang terbaik, Nyatanya membuang bagai barang tak terpakai.


Dengan wajah yang menunduk Bawi meneteskan air matanya, Dia benci mengakui bahwa dirinya tidak pernah dihargai, Tapi kenyataan jelas berkata. 'Aku akan membalasmu atas kematian kawan kawanku' Kebenciannya kini berpindah kepada Bos yang sekarang jadi mantan.


"Baik aku akan mengatakannya" Ucap Bawi dengan mata yang menyala karna dendam yang kini tumbuh di hatinya.

__ADS_1


Zai membeli tiga butir pil lalu memberikannya satu kepada Bawi, "Ini akan mengembalikan tenagamu yang hilang, Tapi setelah ini kau akan tunduk kepadaku, Tenang saja kau tak akan mengalami nasib ditinggalkan seperti bosmu terdahulu" Ucap Zai menjelaskan...


__ADS_2