
Zai melangkah memasuki pintu besar dan mendorongnya. Dia sudah mengabari akan kedatangannya.
Sudah dia pikirkan untuk tidak menjadi seorang pendendam dengan menghancurkan keluarga sendiri. Meskipun itu sedikit bertentangan dengan hati nurani. Akan tetapi dia sudah memikirkan untuk menjebloskan Alfi dan Hesti ke penjara sebagai bentuk hukuman. Hanya itu saja.
Sakti menyambut Zai dengan sebuah senyuman, sekarang dia terikat antara tuan dan budak, namun mereka tetap sejalur darah. Hal itu membuat Zai terkadang merasa bersalah.
"Silahkan masuk tuan muda. Ayah menunggumu didalam" kata Sakti.
Zai mengangguk saja dan langkah kakinya mengikuti Sakti yang membawa ke ruang Tamu.
Ada dua orang yang sedang dia cari juga berada disana.
"Kau-" tunjuk Alfi dengan tatapan tajam.
"Kenapa paman tidak suka melihat keponakan sendiri datang berkunjung. Apakah kau akan mengulang cerita masa lalu. Tapi maaf aku bukan bocah lemah seperti dulu" Zai langsung membuka jati dirinya yang sebenarnya. Tidak lagi menutupi karena semuanya tetap akan terungkap suatu saat. Kenapa tidak sekarang jika masih bisa. Zai duduk dikursi.
Anggoro yang mendengar pengakuan itu seketika merentangkan tangan. Tapi Zai mengangkat tangannya. "Tunggu!" Katanya.
Ada rasa sakit di hatinya ketika cucu yang sudah dia rindukan sejak lama. Bahkan berada di hadapannya tak dapat dikenali dan tak mau dipeluk.
"Aku hanya penasaran, mengapa paman menyuruh orang membunuh ibuku dulu?" Dengan Blak-blak Zai bertanya dihadapan Anggoro dan sakti.
"Apa yang kau katakan, Hah!? Apa kau kira dengan memfitnahku seperti ini akan menguntungkanmu?" Alfi merasa ada kejutan yang dalam di hatinya ketika pertanyaan itu dilayangkan.
Awalnya dia hanya takut bahwa Stella akan melaporkannya kepada ayahnya tentang penggelapan dana yang telah dia lakukan serta rahasianya dengan Hesti yang juga membantunya dalam pemindahan dana akan terbongkar, saat itu baru menikah.
Jadi dia memfitnah Stella, ibunya Zai. Yang telah menyelewengkan dana perusahaan lebih dulu. Ditambah dengan sebuah alasan yang menguntungkannya. Bahwa stella jatuh cinta kepada lelaki tak berharta yang kuliah bermodalkan beasiswa.
__ADS_1
Dengan itu dia mendesak keluarga untuk mengusir Stella dan calon suaminya itu. Lambat laun, hatinya masih tak tenang dan dia putuskan untuk meminta seseorang melakukan penusukan dengan alasan membegal.
Zai menaruh Ponsel di atas meja. "Ini adalah rekaman dimana orang yang kau suruh untuk membunuhku, mengakui semua perbuatannya. Kau tak pandai mengelak"
Segera sebuah suara terdengar tentang seseorang yang mengakui bahwa dia adalah suruhan alfi untuk membunuh Zai dan juga yang telah membunuh Stella, ibunya.
Zai tersenyum ketika suara itu diperdengarkan, karena dia sudah mengatur orang untuk bicara sesuai apa yang dia dengar dari pembunuh itu.
"Apa-apaan ini, ayah! Bisa saja dia mengarang cerita. Mana mungkin aku yang menyuruh orang membunuhnya" alfi gelagapan. Dia terlihat gugup dan itu sangat mencerminkan apa yang dikatakan dalam sebuah rekaman suara itu benar adanya.
Baam! Seseorang bergerak cepat dan melayangkan tinjunya tepat di hidung Alfi, membuat Alfi terpental ke belakang lima langkah. Sangat keras pukulan itu.
Pukulan itu datang dari sakti yang tak terima adiknya Stella ternyata sudah meninggal dan pembunuhnya adalah saudara sendiri. Betapa ini tidak memalukan dan memilukan?
"Kau, bangsat! Jika kau tidak mengakui kebenarannya. Aku akan mematahkan kaki dan tanganmu" Sakti berteriak cukup nyaring
Sakti mengangkat kaki Alfi cukup tinggi. "Jika kau tidak mengakui hal itu, aku akan mematahkannya!" Teriak Sakti.
Alfi menangis dengan air mata ketakutan melihat Sakti yang tak pernah dia lihat marah begitu marah. Bahkan pukulannya sangat kuat. Tidak ada yang menyangka hal itu.
"Maafkan aku!" Kata Alfi mengakui. "Aku khilaf" katanya lagi.
"Sayang! Mengapa kau mengakui hal yang tidak kau lakukan?" Teriak Hesti yang tak ingin terseret. "Kau begitu pengecut, kita cerai saja" katanya lagi lalu berdiri menuju pintu.
"Wanita sialan, ini juga karena kamu. Jika bukan kamu yang mendesak. Aku takkan menyakiti adikku sendiri" Teriak Alfi.
Mendengar itu, Sakti langsung bergerak kembali terdengar suara renyah.
__ADS_1
Plak!! Dua kali tamparan di pipi membuat Hesti terjatuh. "Dasar ipar tak tau diri"
Zai hanya tersenyum melihat mereka berdua. Baginya meskipun ini tidak bisa mengobati rasa sakit dan membayar lunas semua yang telah dia lalui selama dua puluh tahun sebelum pertemuannya dengan sistem yang mengubah alur hidupnya dari yang menyedihkan menjadi cukup nyaman dengan banyak uang serta harta yang diberikan.
"Kalian berdua memang sialan!" Sakti terus memaki. Hingga Anggoro bersuara baru dia berhenti.
"Hentikan Sakti!" Katanya. Lalu dia memandang Zai, cucunya itu. "Apa yang harus kakek lakukan untuk penebusan dosa dimasa lalu karena telah mengusir ibumu dan tak pernah memberikan kelayakan hidup kepadamu" anggoro menurunkan kedua lututnya ke lantai. Namun sebelum lututnya benar-benar jatuh. Zai mengalirkan sejumlah Qi di tangannya lalu menahan agar lutut itu tidak menyentuh lantai.
"Jebloskan mereka ke penjara. Hanya itu saja yang ku inginkan. Aku tidak ingin membunuh mereka walau hatiku masih tidak terima. Tapi demi sebuah keluarga. Akan aku kesampingkan hal itu. Hari ini aku datang. Hanya ingin mengucapkan selamat tinggal kepadamu. Dengan kau mengkonsumsi pil yang ku berikan. Aku jamin kau masih dapat hidup puluhan tahun lagi. Dan kau pasti bisa melihat cicit mu nanti di banjarmasin. Aku akan menikah segera" Zai berdiri lalu dia menuju pintu. "Maaf jika aku tak pernah memanggilmu Kakek. Datanglah di hari pernikahanku. Seminggu lagi" ucap Zai.
Setelah itu dia pulang kerumah dan menyuruh Juli serta Maira untuk datang kerumah.
Sebelum keduanya datang. Zai menelpon seseorang.
"Pak Han! Apa kabar disana?" Zai bertanya setelah telepon tersambung dengan Handoko.
"Saya Baik saja Pak Bos. Apakah ada yang bisa saya bantu?" Tanyanya.
"Buatkan sebuah panggung megah di Sky Pavilion. Aku akan menikah satu minggu lagi. Ku harap semua beres dengan semua undangannya." Kata Zai.
"Saya siap melaksanakan tugas Pak Bos" sahutnya dengan cepat dan bersemangat.
"Baiklah" kata Zai langsung dia putuskan sambungan telepon.
Datang dua wanita cantik dengan masing-masing memakai mobil sendiri. Mereka datang dengan senyuman yang mengembang. Namun di sebuah halaman yang cukup luas itu. Mereka saling menautkan mata. Keduanya tidak saling bertanya. Namun masuk kedalam rumah beriringan. Tidak ada kata sapa atau tanya yang keluar dari mulut mereka. Namun ada kegelisahan di hati Alma Maira.
"Eh ada wanita cantik. Ayo duduk!" Maimunah meminta mereka untuk duduk. Meskipun dia tidak mengenal siapa wanita satunya. Tapi dia tetap mempersilahkan. Sebab dia tau, cucu angkatnya itu banyak memiliki wanita.
__ADS_1
Mungkin besok akan menjadi akhir dari perjalanan Zai. karna untuk Arc dunia dengan sistem Konglomerat sudah berakhir. Jika ada kesempatan untuk melanjutkan cerita ini dengan buku baru, pasti akan dengan judul yang baru pula.