
Zai tersenyum mendengar perkataan itu. "Tapi maaf, aku sungguh tidak bisa. Bagiku kekuatan ataupun kekuasaan tidak untuk disombongkan" ucapnya seraya menatap orang yang bernama Leon itu.
"Yah sayang sekali" ucapnya mengangkat sedikit bahunya. Lalu duduk dan menyilangkan kaki dan berkata lagi. "Di amerika kekuatan dan kekuasaan adalah sebuah kesombongan yang harus ditonjolkan. Jika tidak! Kita sebagai penduduk asli tidak akan bisa berdiri tegak, aku berencana ingin membawa Amanda pulang ke Amerika, karena dia sangat dibutuhkan dalam tim kami untuk memenangkan kejuaraan tingkat dunia yang akan diadakan setengah bulan lagi" ucap Leon seperti tidak menghargai Zai sama sekali.
Zai memandang Amanda. "Apakah kamu akan meninggalkanku, padahal aku ingin mengajakmu untuk menikah" kata Zai berpura-pura sedih. Namun dalam hatinya tertawa. Meskipun Amanda ingin pergi dia pun pasti akan mengikuti. Tapi Zai yakin! Amanda akan memilih tinggal.
"Benarkah? Tapi mengapa kamu tidak melamarku dalam suasana yang romantis?" Amanda sedikit cemberut.
Zai mencolek hidungnya. Dan berkata. "Rencananya memang di saat yang romantis. Tapi kamu kan mau pergi, jika tak ku katakan sekarang. Bisa saja kau meninggalkanku untuk pergi bersama dia" Zai mengusap dadanya.
"Kenapa dadamu?" Amanda sedikit tertipu dengan tingkah Zai.
"Sakit!"
"Ayo kita kerumah sakit!" Kata Amanda, dia memapah Zai membantunya untuk berjalan keluar.
Sesampainya di luar, Zai pun memindahkan tangannya yang berada di bahu menjadi ke pinggang Amanda.
"Aku tau kamu berbohong. Tapi aku senang kau dapat menyelamatkan aku darinya. Dia selalu mengejarku, meskipun kami bersahabat cukup lama. Tapi sekarang aku sedikit merasa tidak nyaman lagi dengannya. Terima kasih sayang!" Amanda langsung memberikan ciuman di pipi Zai.
"Hanya disini?" Tanya Zai dengan cemberut.
"Nanti dilihat orang!" Ucap Amanda seraya tangannya mencubit pinggang Zai.
"Aahh aahh aduh, sakit!" Zai bermanja dengan Amanda, dia menjatuhkan kepalanya di bahu Amanda yang tinggi badannya sedikit lebih tinggi dari Zai.
__ADS_1
Mereka pun duduk di pekarangan rumah, Zai berdiri ketika melihat ada bunga mawar lalu memetiknya dan memberikan bunga itu kepada Amanda. "Kamu mau kan menikah denganku?! Meskipun aku memiliki wanita lainnya?" Tanya Zai sambil berlutut sebelah kaki dihadapan Amanda yang tengah duduk
"Aku terima lamaranmu, meskipun kamu sudah memiliki istri yang lainnya!" Sahut Amanda. "Aku mengira kau tidak akan mau menikahiku. Karena tidak menghubungiku waktu kamu menikahi banyak wanita di kota banjarmasin" tambah Amanda.
"Aku selalu mengingatmu, karena kau sudah jadi wanitaku, tentu aku akan menikahimu, ikutlah bersamaku, ada satu wanita lagi. Mungkin setelah itu tidak akan ada lagi wanita yang lainnya!" Ucap Zai bersungguh-sungguh.
Di balik pintu, Leon melihat kemesraan yang ditampilkan oleh keduanya. Murka dalam hatinya. Tak pernah sedikitpun dia menduga, bahwa dia telah menjaga jodoh orang lain. Betapa sakitnya hal itu.
"Awas saja kau Amanda, terutama lelakimu itu. Aku akan membunuhnya, sebab sudah berani menyentuhmu. Sakit hati ini tidak akan termaafkan sebelum kau merengek di bawah kakiku!!" Leon mengepalkan tinjunya dengan erat hingga kukunya masuk menembus kulit dan mengeluarkan darah. Matanya memerah dengan sorot mata yang tajam. Lalu dia mengambil ponselnya.
"Kirimkan aku pembunuh profesional yang kalian miliki. Aku ingin menangkap dan membunuh seseorang!" Perintahnya, entah kepada siapa? Yang pasti itu rencana yang buruk.
Leon keluar dari balik pintu dan berjalan menuju tempat dimana kedua orang yang sedang berpelukan mesra itu.
Zai tersenyum dan melambaikan tangannya.
"Hati-hati Leon!" Teriak Amanda.
Leon hanya mengangkat tangannya tanpa berpaling. Segera dia memasuki mobilnya dan menghilang.
"Kelihatannya dia sangat marah. Kamu harus berhati-hati. Dia memiliki koneksi yang baik serta keluarganya cukup berpengaruh di Amerika" Amanda mengingatkan.
"Kau tak perlu khawatir masalah itu. Aku juga memiliki cukup koneksi di amerika. Apalagi ada satu perusahaanku berdiri disana" kata Zai. "Ikuti aku" Zai menarik tangan Amanda dan masuk kedalam Mobilnya.
Ada satpam yang kini menjaga rumah besar milik Amanda itu. Itu pun orang dari anak buah Hendri gundul yang berada di perusahaan Zai. Zai memang yang mengaturnya.
__ADS_1
Perjalanan mereka cukup jauh dan semakin jauh, kota terlewat hingga desa dan jalan semakin mengecil hingga Zai melihat tulisan selamat datang. Dia pun sedikit menyunggingkan senyumnya.
Dia melirik ke samping, dimana Amanda sekarang tertidur dengan melingkar. Dia mengusap kepalanya sebentar dengan tangan kirinya sedang tangan kanannya masih berada pada setir.
Tidak berapa lama dia menghentikan mobilnya ketika ada para ibu-ibu yang sedang mengelilingi gerobak sayur.
"Permisi Bu. Apakah ibu tau rumah dari bapak Bao Lang dan istrinya Ling Ling?" Tanya Zai kepada salah satu dari mereka.
Seorang wanita yang masih cukup muda. Dia menoleh karena ditanyai. Menatap pemuda tampan yang ada di hadapannya dengan segala kesopanan berkata "Belok kanan, rumah berwarna hijau dengan sebatang pohon yang cukup besar berdiri di halamannya. Disitulah rumah mereka" katanya.
"Terima kasih banyak atas informasinya" ucap Zai. Lalu dia mengambil uang sepuluh lembar berwarna merah dan menyerahkannya kepada penjual sayur. "Berikan apa yang mereka semua mau. Secukup uang ini ya Pak!" Kata Zai. Setelah itu dia berbalik.
"Makasih banyak!" Para ibu-ibu itu langsung mengambil beberapa bahan lauk serta pauk yang mereka inginkan. Mereka ada delapan orang. Uang satu juta akan dibagi delapan. Itu lumayan banyak bagi mereka yang hidup dibawah garis
'Semoga kau selalu sehat nak! Hari ini beruntung bisa membelikan obat untuk istri yang sedang sakit dirumah. Jika tidak ada ini, para ibu-ibu ini akan sebagian ngutang' batin bapak penjual sayur dengan senyum senang mendapat rejeki.
Zai melajukan Mobilnya lagi sesuai arahan ibu itu. Dan benar tidak lama kemudian dia menemukan pohon besar yang ada di halaman rumah berwarna hijau. Segera mobil yang dikendarainya berhenti. Dia pun mengecup kening Amanda.
Dari balik kaca rumah. Tiga orang tengah bersantai menunggu seseorang yang katanya ingin datang. Ketika melihat sebuah Mobil yang berhenti di halaman rumah. Pintu segera terbuka.
Seorang wanita cantik berlari ketika melihat lelaki tampan keluar dari Mobil. Dia melompat dan lelaki itu menangkapnya. "Mengapa disini tidak ada sinyal ponsel? aku kesulitan menghubungimu!" Ucap Zai disamping telinga Mey Chan.
"Tak tau juga. Aku perlu naik bukit itu untuk menghubungimu" tunjuknya kepada bukit yang berada dibelakang rumah. "Ayo masuk, aku kenalkan kepada orang tuaku!" Ucapnya lagi.
"Tunggu sebentar, aku membawa seseorang di dalam mobil, semoga kamu tidak keberatan" ucap Zai, dia pun menurunkan Mey Chan dari dekapannya. Lalu menarik pintu. Dimana Amanda sudah bangun dari tidurnya.
__ADS_1