
Dalam sebuah mobil yang melaju dengan cukup cepat. Dikejar oleh beberapa buah Mobil yang begitu ingin mendapatkan wanita itu.
"Apa sebenarnya masalahmu? Ku lihat mereka begitu ingin menangkapmu!" Zai membuka pembicaraan yang beberapa waktu sangat senyap.
"Akhirnya kau mau juga bertanya! sedari tadi aku menunggu, kau tau?" Ucap wanita yang sudah tidak muda lagi dalam penampilan. "mereka mau menjualku ke om-om kaya. Tentunya aku tidak mau! Namun orang tuaku banyak berhutang kepada mereka. Entah itu benar atau tidak? Aku pun ragu tapi sekarang orang tuaku disekap oleh mereka. Jika kau bisa menolongku. Aku akan sangat berterima kasih kepadamu!" Kata wanita itu. "Oh iya. Namaku Geby! Kita belum sempat berkenalan" ucap wanita itu, sembari berpindah posisi dari belakang ke kursi depan.
"Aku Zai!" Zai menyambut uluran tangan wanita itu.
"Eh mengapa kau jalan ke arah sini? Ini tempat sunyi!" Geby terlihat panik. Karena mobil yang ditumpanginya sedang diikuti oleh dua buah mobil yang tentunya dia sudah tau siapa.
"Kau tenanglah. Bukankah kau ingin menolong orang tuamu? Aku akan bertanya. Apakah mereka anggota Black Devil?"
"Tentu aku ingin, tapi apakah tidak bisa dengan langkah aman. Ini namanya kamu cari kematian! Aku tidak tau pasti anggota apa mereka. Namun yang pasti mereka orang-orang yang kuat. Cepat putar balik!" Geby meraih setir dan mencoba memutar kemudi. Namun Zai menginjak rem serta Handbriek membuat mobil langsung berhenti ditempat.
Dimobil yang berbeda. Ada tawa senang yang terdengar menggema melihat mobil itu berhenti tepat dihadapan. Entah apa yang terjadi. Tapi orang yang tertawa itu merasa sangat beruntung dengan kejadian itu. Segera dia membuka pintu dan berjalan dengan percaya diri. Sebuah pistol berputar di ibu jarinya.
"Hati-hati Kak Frengki! Dia juga memiliki pistol!" Satu orang memperingati. Sebab dia mengalami sendiri melawan pemuda itu.
"Kau tenanglah! Aku mahir dalam mengelak" sahutnya.
Kepercayaan diri itu memang penting. Tapi keselamatan jauh lebih penting. Itu sering terjadi. Ketika hal tidak seperti yang seharusnya di inginkan.
Zai mendorong pintu dan keluar dari Mobil. "Kau tetaplah disini. Jika kau keluar satu langkah saja! Aku tak akan menjamin keselamatanmu lagi" ucap Zai. Wajahnya menatap serius. Dengan dingin dia mendengus menatap seseorang yang kini berhadapan dengannya sejauh sepuluh meter. Tidak ada pistol di tangannya sedangkan lawannya tengah memutar pistol terus menerus menandakan dia ahli dalam adu tembakan.
"Menyerahlah anak muda! Sayangi hidupmu dengan menjadi anggota geng kami dan serahkan wanita itu!" Frengki berkata lantang memerintahkan pemuda dihadapannya.
__ADS_1
Zai begitu tenang. Dia terus melangkah hingga jarak hanya berada dua meter saja. Dan sebuah pistol muncul di tangan terulur dari lengan bajunya.
Frengki melihat itu tertegun sejenak lalu dia berkata "kau sangat pintar bisa bermain sulap. Ketua akan senang jika menerimamu sebagai anggotanya"
"Hmm jika aku boleh tau. Anggota dari geng apa kalian? Ini untuk aku berpikir. Apakah akan masuk atau tidak!?!" Ucap Zai.
"Kami adalah anggota mafia terhebat di New York, Black Devil!" Ada kebanggaan ketika dia menyebutkan nama gengnya.
Kesombongan kadang tercipta ketika manusia merasa hebat dan berpikir dia lebih mampu dari orang lain dan ingin dilihat, dipandang dan dipuja.
Tapi Zai tidak menunjukan raut wajah terkejut. Wajah dinginnya hanya mendengus dan berdecak. "Begini saja!" Zai mengeluarkan isi peluru di pistol miliknya dan menyisakan satu. "Jika kau berani mengadu nasib denganku dengan satu kesempatan satu tembakan. Maka aku akan mengikutimu. Bagaimana?"
Mendengar itu. Frengki memiliki wajah yang rumit. Tidak pernah dia ditantang oleh seseorang seperti itu. Namun sebagai lelaki yang menyukai tantangan hatinya tergerak. Tapi yang dia takutkan adalah jika putaran peluru itu berada di pihak lawan jelas dia yang akan mati. Ini pertarungan hidup dan mati.
"Aku terima!" Sahut Frengki.
Zai melempar pistolnya ke tangan Frengki tanpa ragu. "Tembak aku lebih dulu!" Kata Zai.
Dia merentangkan tangannya. Frengki mengangkat pistol itu tanpa ragu. Hanya perlu satu tembakan saja. "Berharaplah ini bukan yang berisi peluru atau jika tidak, Kau akan mati!" Kata Frengki mengaitkan telunjuknya dan menaruh di dada Zai.
Ceklek! Tidak ada suara yang berarti Zai lepas dari kematian.
"Giliranku!" Kata Zai mengayunkan tangannya.
Namun Frengki melompat mundur. "Aku tidak sebodoh dirimu. Aku masih ingin hidup!" Ucapnya lalu mengacungkan pistol di tangan kirinya dan mengaitkan telunjuknya. "Matilah!" Teriak Frengki seraya tersenyum kemenangan.
__ADS_1
Duar!! Dua tembakan dilepaskan beriringan
Zai tersenyum. Padahal peluru sudah ditembakan kepadanya. Hal yang membuat semua orang yang ada disana bingung.
"Apakah dia kebal terhadap timah panas?" Salah seorang bertanya kepada temannya.
"Kemungkinan bisa saja. Sebab dia berani ingin beradu satu tembakan. Untungnya Kak Frengki tidak bertindak bodoh" sahut temannya sesama anggota Black Devil yang pernah lari ketika bertarungan dengan Zai digang sempit.
"Awas!!" Geby yang berada di dalam mobil berteriak. Dia sempat menutup telinga ketika mendengar tembakan itu dan kini dia menutup matanya ketika pemuda tampan yang baru dikenalnya akan mati.
"Apa dia begitu bodoh!" Geby menangis dengan sesenggukan. Dia tak menyangka. Ini juga akan menjadi akhir dari hidup damainya. Ketika dia ditangkap lagi. Sudah pasti akan dijual kembali. Dia memang cantik. Juga beetubuh baik namun nasibnya tidak sebaik itu.
Dan dia hidup tak pernah menyulitkan orang tua walaupun dia anak yang suka kebebasan. Dan kini dia harus menelan pil pahit yang akan menjerumuskan dia dalam kemunafikan.
Ketika hati tidak ingin melakukan tapi keadaan memaksa melakukan. Jika bukan munafik maka disebut apa?
Zai melambaikan tangannya dan menangkap dua peluru itu. Seolah itu hanya peluru mainan anak-anak yang di arahkan kepadanya. Bagaimana orang akan bisa menerima kenyataan itu. Dia menggengam dua peluru panas itu. Ada asap yang keluar disela jari renggangnya dan serpihan berjatuhan layaknya pasir ketika dia membuka telapak tangannya.
Frengki mundur melihat kekuatan itu dan segera lari mendekati mobil dimana ada beberapa orang yang berdiri kagum dengan apa yang dilakukan oleh pemuda itu sebelumnya. "Cepat lari, dia bukan manusia!" Teriak Frengki.
Braak! Zai memukul Frengki di punggung, membuat tubuh Frengki melengkung kebelakang.
Entah bagaimana caranya, tiba-tiba pemuda itu berada dibelakang Frengki. Padahal Frengki berlari kencang dan jarak mereka sebelumnya terpaut cukup jauh. Pikir mereka.
Namun itulah kemampuan Zai yang tak dapat dipahami oleh manusia biasa seperti orang-orang yang menyaksikan adegan itu.
__ADS_1