
Impianku bukan impianmu, Dan impianku tak akan pernah sama dengan impianmu, tapi kita bisa merubah impian itu menjadi kesatuan yang bisa menyatukan perbedaan.
Karya ini hanyalah halu dari saya, Jika ada kesamaan nama dan tempat mungkin itu sudah direncanakan, Jadi maaf jika ada karakter nama yang disebutkan di karya ini merasa tidak senang...
Di jalanan yang mulai terlihat sepi, "Pak menepi sebentar, aku mau buang air" Ucap Bawi sambil mengedipkan mata kepada Bahri memberi kode untuk segera mengeksekusi.
Dengan anggukan sederhana, Setelah Mobil menepi dan bawi keluar, Bahri langsung membuka telapak tangannya dan memukul tengkuk Supir taksi tersebut hingga pingsan seketika.
"Ikat dia dan tutup mulutnya dengan lakban" Pinta Bahri kepada Ucup dan Sani.
Di dalam tas mereka masing masing sudah tersedia perlengkapan itu, Karna mereka sudah merencanakannya sejak sebelum mereka berangkat, Segera mereka berdua melakukan tugas dengan baik,
"Taruh dibelakang saja" Ucap Bawi yang kini pindah ketempat kemudi lalu melajukan Mobilnya.
Mereka juga sudah tau alamat Markas besar Red Devil karna mereka pernah berkunjung kesana beberapa kali untuk memilih sendiri gadis perawan yang ingin mereka nikmati sebelum di jual dengan setengah harga pasaran.
Ketua mereka juga tidak akan curiga dengan Hal itu, Karna mereka tidak mengatakan yang sebenarnya, dengan sedikit kebohongan ketuanya pun tertipu.
Di depan Gerbang besi yang tinggi menjulang, Satu Mobil taksi berhenti disana. Dua penjaga segera mendatangi "Ada keperluan apa kesini?" Tanya penjaga itu yang tidak lain adalah anggota Macan Hitam yang diperintahkan Torax untuk berjaga disana.
Bawi sangat asing dengan dua wajah penjaga ini, Tapi dia tak mungkin menebak sesuatu yang tak pasti secara langsung tanpa menyelidiki, Meski sedikit curiga. "Aku ingin bertemu dengan Bos kalian" Sahut Bawi tidak ingin menyebut nama orang yang ingin ditemuinya.
"Maaf, Bos kami sedang tidak bisa diganggu, Jika ada urusan yang lainnya bisa titip surat, Karna Bos juga mematikan Ponselnya" Ucap penjaga itu yang sedikit curiga dengan empat orang yang ada didalam Mobil.
"Katakan padanya, Ketua besar ingin meminta penjelasan" Ucap Bahri dengan kesal.
"Baik, Jika nanti Bos kami tidak lagi sibuk, kami pasti akan memberitahunya" Sahut penjaga itu, Lalu dia menambahkan lagi setelah terdiam beberapa detik "Silahkan tuan pulang saja dulu" Ucap penjaga itu lalu kembali ketempat asalnya dia berada.
"Bangsat, Apakah Parno itu sudah gila? apa dia lupa kenapa dia menjadi ketua disini? itu karna kita, Kita yang membantunya" teriak Bahri dalam Mobil dengan memukul atap Mobil
"Tenanglah, Entah mengapa aku sedikit curiga bahwa Parno sedang dalam masalah didalam, Penjaga yang ada di gerbang ini bukanlah penjaga yang biasanya berjaga didepan" Ucap Bawi lalu memundurkan Mobil dan menjauh mencari tempat aman untuk memulai rencana penyelidikan.
"Kau mungkin benar Baw, Mungkin saja Parno dalam masalah, Dan ada pihak kuat yang menekannya sekarang, Entahlah.. kita pikirkan caranya nanti" Ucap Ucup.
...............
__ADS_1
Diwaktu yang bersamaan setelah mereka pergi, Penjaga itu langsung mengeluarkan Ponselnya
"Bos, Ada empat orang dalak satu Mobil taksi datang kesini, Mereka sangat mencurigakan"
"Perketat penjagaan di setiap sisi, Aku akan menyampaikan ini pada Ketua, Sekarang aku masih ada kesibukan yang harus kulakukan atas perintah ketua juga" Sahut Torax yang langsung memutuskan sambungan telpon dan menaruh kembali ponselnya di saku.
"Pukul dia" Perintah Torax Kepada Udin yang mengikutinya
Plaak.. Bugh.. Ugh..! Seteguk darah pun muncrat dari mulut orang tua yang dipukuli.
Sekarang mereka berdua berada dirumah orang tua yang menagih hutang kepada Yunita.
Atas perintah Zai, dan alamat yang jelas, Torax segera mendapatkan rumah target dan dengan paksa mendobrak rumah itu.
"Ampun, Jangan pukul lagi, Apa salahku?"
"Tentu kau tidak sadar sudah menyinggung siapa, Apa kau ingat kau baru saja mendapat uang seratus juta dari seorang pemuda" Tanya Udin.
"Yayaya aku ingat, Ada apa memangnya, Bukankah itu bayar hutang?" Dengan alis mengerut dan satu tangan menutupi pipinya yang membengkak dia menjawab.
"Aa-ak, Ja-jangan aku tidak mau mati, Akan ku kembalikan, Akan ku transfer lagi" Ucapnya dengan tangan gemetar meraih ponsel yang berada diatas meja.
"Din berikan Nomor rekeningmu" Ucap Torax
Udin segera mengangguk dan memberikan Nomor Rekeningnya. beberapa detik terlewat notifikasi pun terlihat pesan dari Bank tertentu.
"Ingat ini hanyalah peringatan awal buatmu, Jika kamu menggangu Wanitanya Bos, Maka tidak adalagi kehidupan untukmu, Dan juga satu hal lagi, Jika setelah kami pergi kamu melapor kepolisi, kamu akan tau akibatnya, Apa kamu mengerti orang tua?" Teriak Udin ditelinga Orang tua itu.
"Me-mengerti" Dia jelas memikirkan hidupnya, Tentang hasrat dunianya, jadi tak mungkin dia berani melakukan pelaporan atau mengganggu Yunita lagi.
"Kita pergi Din" ucap Torax dengan santai keluar dari rumah itu dan pergi menuju Mobilnya.
Udin segera mengikuti dari belakang, "Aku akan memperhatikanmu" Ucapnya lagi sebelum pergi menjauh dengan sorot mata yang tajam
Dengan gemetar Orang tua yang sudah bau tanah itu tersungkur kelantai.
__ADS_1
"Semua sudah beres Bos" Torax melaporkan hasilnya kepada Zai.
"Bagus, Belikan kawanan yang lain makanan dan minuman, Buat mereka terjaga, Aku punya sebuah firasat akan ada hal yang terjadi di Markas Red Devil!" Perintah Zai
"Bos benar, Tadi penjaga gerbang melaporkan sesuatu, Katanya ada empat orang dalam satu buah mobil taksi yang mencurigakan" Ucap Torax menambahkan lagi laporannya.
"Sadam dan Jani juga masih ada disana, Kamu tenang saja" Ucap Zai lagi menenangkan
"Baik Bos" Sahut Torax dan langsung terdengan sambungan telpon yang diputuskan.
"Kita berangkat Din" Pinta Torax yang berada di samping Udin.
............
Zai berjalan menuju elevator hingga beberapa detik berlalu dia sampai di tempat tujuannya. "Sayang...!" Panggil Zai yang datang menemui Alisya.
Alisya langsung berlari dan melompat kepelukan Zai yang sudah merentangkan kedua tangannya sambil tersenyum setelah mendengar suara Zai memanggilnya.
"Kamu lebih gemukan ya" Ucap Zai sambil berputar memeluk Alisya.
Wajah Alisya langsung cemberut mendengar kata gemuk, "Padahal aku selalu menjaga pola makanku, Apa jangan-jangan perutku berisi?" Ucapnya
Zai menurunkan Alisya dan mengapit hidungnya sebentar, lalu berjongkok dan menaruh telinganya di perut rata Alisya mencoba mendengarkan sesuatu "Jelas berisi, Berisi nasi, Ikan dan banyak hal lainnya" Sahut Zai sembari mengelus perut rata itu dan kemudian menciumnya.
Alisya tersipu, "Apa kamu mau makan sekarang? Biar aku siapkan dulu" Ucap Alisya dia segera berbalik.
Zai melihat Pantat yang berlenggok yang seperti mengundangnya untuk diterkam, Dia langsung berlari kecil dan menggendong ala Putri dan membawanya ke kamar.
"Sayang aku belum mandi" Ucap Alisya menahan dada Zai yang ingin mencumbunya setelah berada di atas kasur.
"Kita bisa mandi bersama sayang" Ucap Zai menganggat lagi tubuh Alisya dan segera membawanya ke Kamar Mandi.
Setelah beberapa menit berlalu, Rintihan kenikmatan terdengar memenuhi ruangan itu dan bunyi-bunyian lainnya menjadi sebuah instrumen yang terdengar merdu.
__ADS_1