
Mampir juga disatu karyaku..
Kalimat yang diucapkan Zai terngiang di telinga mereka dan terus berulang sehingga mereka kebingungan dan tak sadar sudah berada di pintu ruangan dokter.
"Sakti, apakah kau mengerti apa yang dikatakan oleh pemuda itu, kita adalah keluarga, apa mungkin?" Ketika Anggoro memiliki pemikiran itu, dia membulatkan matanya dengan sempurna.
"Apakah ayah juga memikirkan hal yang sama dengan ku?" Ucap Sakti. Mereka berdua saling memandang dan saling mengatakan apa yang mereka pikirkan.
Bisa saja ayah. Selain kemungkinan itu, kemungkinan yang lainnya sangat tipis. "Cepat kau cari tau segalanya." Anggoro bersemangat dan menyuruh Sakti untuk bertindak. Hal yang mengganjal di hatinya akhirnya mendapat peluang.
"Tentu ayah!" Sakti langsung menghubungi Saddam dan bertanya tentang asal Zai dan hal yang berbau tentangnya.
Saddam yang sudah diberitahu soal itu oleh Zai, tidak terkejut dengan pertanyaan dari Sakti. Dengan jujur dia mengatakan sebagian yang dipesankan Zai kepadanya untuk dikatakan dan tidak menutupi apapun.
Sakti begitu gembira ketika mendengar apa yang dikatakan oleh Saddam, 'benar dugaanku, dia memang keponakanku'
Anggoro yang keluar dari ruangan dokter mendapati Sakti yang tersenyum gembira. "Ayah! Ini kabar yang sangat mengejutkan. Sepertinya dia memang anaknya Stella" Sakti memeluk ayahnya dengan haru. "Akhirnya kita menemukan salah satunya. Kita akan bertanya nanti dimana Stella, ibunya" ucap Sakti lagi.
"Syukurlah, ini kabar yang sangat bagus sekali. Tapi jangan kasih tau Alfi dan yang lainnya. Aku tak ingin mereka mengusik cucuku"
"Tentu ayah! Apakah ayah akan menjenguk Sandy terlebih dahulu?"
"Ayo kita kesana, aku takut suatu hal terjadi kepadanya karena ada Anak Stella disini." Kata Anggoro.
Tidak jauh dari tempat mereka, di kamar dua kosong satu terjadi kegaduhan. Dimana Sandy berteriak-teriak dan mengamuk karena kesakitan pada kakinya.
__ADS_1
"Tolong kakiku…. Argh! Sakit sekali ini" teriaknya, dia sudah terpangsar di kasur dan hendak terjatuh. Jika bukan karena suster dan dokter yang memegangi bagian tubuhnya, sudah pasti dia akan tumbang ke lantai.
Dokter dan semua staf medis yang ada disana kebingungan dengan terjadinya hal yang diluar perkiraan mereka. Pada awalnya operasi berjalan lancar saja. Pemotongan dan penyambungan juga berjalan baik. Tidak ada celah sekecil apapun yang bisa mengakibatkan hal ini terjadi. Tapi kenyataannya. Kaki Sandy membengkak dan perban putih berubah warna jadi merah.
"Bagaimana ini dok?" Tanya perawat.
"Aku juga bingung dengan keadaan ini" dokter terduduk di kursi dengan kepala yang mumet dan hampir pecah memikirkannya. Apalagi mendengar teriakan dari Sandy yang tak berhenti.
"Beri dia obat penenang!" Perintah dokter itu yang tidak bisa mencari ide lagi.
Anggoro dan Sakti sampai dan melihat kegaduhan itu, banyak orang membludak di depan pintu ruangan dua kosong satu dan pandangan mereka terhalang karena tak bisa masuk.
Sementara itu, Alfi dan Hesti datang dan bertanya tentang keadaan. "Apa yang terjadi?" Tanya Hesti kepada salah satu orang yang ada disana.
"Ga tau juga. Sepertinya ada kesalahan dari operasi sebelumnya yang membuat pemuda di dalam mengalami sakit yang luar biasa. Dia mengatakan kakinya sakit" sahut orang itu.
"Sandy! Apa yang terjadi kepadamu?" Hesti bertanya kepada anaknya yang sudah mulai tenang dan memejamkan mata.
"Bu! Jangan ganggu dia. Dia sedang tidak stabil sekarang" kata suster yang memberi suntikan penenang.
"Kamu!" Hesti mengangkat tangannya dan meraih kerah baju perawat itu dan menariknya "apa yang kamu lakukan hingga anakku bisa seperti itu? Bukankah sebelumnya dikatakan dalam laporan bahwa anakku akan sembuh tidak lama. Mengapa malah bertambah parah?" Dia Berteriak dengan raungan yang keras.
"Tenang bu, hal itu bisa ibu tanyakan ke dokter. Saya hanya bertugas merawat" sahut perawat wanita itu yang meringis kesakitan.
"Mana dokternya. Cepat panggilkan" teriaknya lagi.
"Dia ada di belakang ibu" kata perawat itu lagi.
__ADS_1
Segera Hesti melepaskan tangannya di kerah baju dan berpaling mendekati Dokter yang memijat kepalanya sendiri.
"Dokter, apa yang terjadi. Coba jelaskan! Jika kau tidak bisa menjelaskannya. Aku akan menuntut rumah sakit ini. Apa kau tidak tau aku dari keluarga besar Bramasta dan suamiku dari keluarga Anggoro" teriaknya.
"Aku juga tidak mengerti mengapa hal itu bisa terjadi, dan aku bukan tuhan yang bisa menyembuhkannya tanpa kesalahan" dokter itu membentak Hesti, dia tak peduli lagi reputasinya sebagai dokter akan hancur. Tapi dia tak ingin terus disudutkan.
"Bagus!" Hesti melipat kedua tangannya di dada dan berkata lagi "karirmu akan hancur, aku pastikan itu. Sayang! Kita pindahkan anak kita ke rumah sakit yang lebih baGus penangananya." Kata Hesti. Dia berbalik dan melihat Alfi sedang memperhatikan kaki anaknya yang lebih parah dari sebelumnya.
"Mengapa kakinya bisa menjadi sebesar ini?" Katanya bingung.
"Jangan kau pikirkan, cepat urus perpindahannya!" kata Hesti yang tidak lagi sabar.
Sandy adalah anak satu-satunya yang dia miliki. Jika sampai terjadi dengan Sandy. Dia pasti akan sangat terpukul.
Anggoro hanya memiliki tiga orang anak, Sakti belum menikah hingga sekarang, jadi dia belum memiliki keturunan. Sedangkan Stella, meskipun memiliki anak, kemungkinan juga sudah mati kelaparan dan terlantar dan tak mungkin pula mengatakan bahwa dia anak stella. Walaupun masih hidup. Tak mungkin berani setelah dia mengusirnya terakhir kali dan sandy memukulnyA waktu itu. Dia juga berkata jika muncul dihadapannya lagi. Maka akan dibunuh. Jadi hanya Sandy pewaris selanjutnya dari seluruh harta dan aset Anggoro.
Alfi menatap dokter itu dan melayangkan pukulan lalu mendorong tempat tidur Sandi dan membawanya keluar.
"Apa yang terjadi dengan sandi Nak?" Anggoro bertanya.
Hesti dan Alfi menoleh ke samping dan mendapati Anggoro berdiri sempurna. Mereka tercengang.
'Mengapa bisa dia berdiri. Tak mungkin obat pelumpuh yang kubeli dengan harga satu milyar itu bisa diobati dengan mudah' Hesti membatin dengan kejutan yang ada, bahkan suaminya tidak tahu bahwa dia memberikan obat pelumpuh untuk mertuanYA.
"Sejak kapan ayah bisa berdiri?" Alfi bertanya, karena setaunya, ayahnya lumpuh karena tua dan tak bisa jalan lagi. Tapi ini! Ini adalah kejutan baginya.
"Sejak lama, hanya saja ayah suka duduk di kursi roda" sahut Anggoro dengan kebohongan. Dia tak mungkin mengatakan bahwa dia diberi sebutir pil dan dia menelannya dan hal itu membuatnya bisa berdiri. Hal itu diluar logika manusia. Jadi tidak akan ada yang percaya jika dia jujur sekalipun.
__ADS_1
"Baiklah ayah, aku akan memindahkan Sandy lebih dulu ke rumah sakit yang lebih berkualitas" ucap Alfi, dia meninggalkan Anggoro, ayahnya dengan Sakti sang kakak yang tak pernah dihormati. Padahal jika Sakti ingin menggusur Alfi, itu mudah saja. semudah membalik telapak tangan. Tapi dia tidak pernah melakukan hal itu, baginya seorang kakak akan menyayangi adik melebihi harta.