
Zai mendatangi Mobil yang Suv itu dan melihat ada wanita cantik yang tidak kalah cantik Dari semua wanitanya tengah terbaring dengan pakaian olah raga yang cukup ketat dan basah karna peluh mencetak gunung kembar yang menggoda.
Belum lagi celana pendek yang begitu menjerat paha putih nya, Mencetak belahan sungai yang belum terbuka, Dia dapat membayangkan pipi tembem yang ada disana, Sungguh tidak ada yang tidak tergoda melihat pemandangan indah di depan mata ini, Tapi sayang saat ini dia bertugas sebagai penyelamat, Bukan sebagai penjahat, Jika tidak mungkin dia akan Khilaf.
Zai membeli dua botol barang di Shop sistem, Salah satunya dia segera buka dan menaruhnya di hidung sang wanita..
Bulu mata lentik itu bergerak, dan kelopak mata itu perlahan terbuka menatap dewa yang ada dihadapannya. 'Dewa ini sangat tampan' Dalam hatinya memuja, Tapi ketika dia sadar sepenuhnya, Dia langsung mendorong tubuh Zai hingga Zai termundur satu langkah kebelakang.
Zai tidak mengantisipasi gerakan wanita itu, di rasa dari tenaga dorongannya, Wanita itu cukup terlatih.
"Siapa kau? Kenapa aku ada disini? apa kau ingin memperkosaku? Toloooong..." Selesai bertanya dengan banyak pertanyaan dia langsung berteriak.
Zai membekap mulutnya lalu berkata. "Kau tenanglah dulu, Aku ini menolongmu, Kau tadi hendak diculik, dan aku menyadarkanmu dari pingsan, Bukannya berterima kasih, Kau malah mendorongku, dan juga menuduhku untuk memperkosamu, Huh jika aku jadi penjahat mungkin saja akan kulakukan tanpa menyadarkan, Tapi sayangnya aku orang baik dan polos, Lihat ini" Tunjuk Zai ke arah botol minyak kayu putih, Lalu dia memberikan Botol minum kemudian lanjut berkata "Lihat keluar kalau ingin tau kebenarannya"
Zai lebih dulu keluar dari Mobil sempit itu, Dia tak tahan jika terlalu lama berduaan didalam Mobil itu karna harum yang sangat menggelitik hidungnya dan pikirannya jelas terganggu akan hal itu..
Wanita muda yang cantik jelita itu bersikap seolah petarung, Dia menggunakan gaya tertentu untuk keluar dari Mobil.
Zai tertawa dalam hatinya melihat kelakuan itu dia menganggap itu Sangat konyol.
Yaa wanita itu mendapati lima orang yang terkapar belum bergerak, Kemudian dia mengingat yang mana orang yang membekapnya sewaktu dia berolah raga berkeliling tempat ini.
Wanita itu meminta maaf setelah tau kekeliruannya "Maafkan aku yang menuduhmu, Tapi bagaimana caramu melumpuhkan mereka?" Tanyanya dengan Bingung, Jika melihat postur tubuh Zai dan tubuh lima orang itu, Rasanya tidak mungkin dia menang jika seorang diri melawan.
"Kau tidak perlu tau bagaimana caranya, Karna aku tidak ingin mengatakannya, Lapor saja kepolisi, Aku akan pergi dulu" Ucapnya.
"Tunggu" Dia segera menahan Zai dengan melompat ke arah Zai akan pergi, "Bagaimana caranya aku akan membalas budimu? Aku seorang yang tidak bisa berhutang budi dengan orang lain"
__ADS_1
Zai melihat Kelinci yang melompat dihadapannya tak sadar meneguk ludahnya, dua detik setelahnya baru dia menjawab "Jika kau ingin balas budi, Cukup jaga dirimu saja baik baik, Jangan sampai di culik orang lagi, aku sibuk, ada banyak urusan jadi jangan halangi jalanku"
"Aku Maira! Alma Maira" Wanita itu mengulurkan tangannya,
"Zai!" Sahut Zai dengan uluran tangan juga, Mereka berjabat tangan cukup lama.
Dengan wajah yang terlihat malu, Maira melepaskan tangannya, Dan berkata "Bolehkah aku minta nomor telponmu, Bukan maksud apa apa, Aku hanya ingin mengajakmu makan sebagai balas budi" Ucapnya dengan wajah seperti tomat.
"Catatlah" Zai segera menyebutkan Nomor Wa miliknya. Dia tak ingin memberikan kartu Nama, Karna tak ingin saja.
"Terima kasih" Ucapnya lalu menyimpan Kontak itu dan menaruh ponselnya dalam tas kecil di pinggangnya
"Aku tak bisa mengantarmu, Hati hati saja dijalan" Ucap Zai kembali ke jalan dimana dia tadi lewat untuk mengganti dagangan yang sudah dia hancurkan.
'Dia sangat tampan, Andai saja aku memikiki pacar seperti itu, Pasti teman teman ku akan iri melihatnya, Bukan kah ini juga suatu keberuntungan dalam musibah, Bahkan aku memiliki kontaknya, Berarti masih ada kesempatan untuk bertemu lagi dengannya, Semoga dia mau makan malam nanti dan aku akan memamerkannya, Biar semua teman pada ngiler' Hatinya terus berbicara dan langkah nya terus saja berlari tapi dia masih Fokus agar tidak menabrak orang.
Seorang wanita yang cukup tua, Masih terlihat membersihkan jualannya dengan tangan tua mengais gorengan yang sudah kotor. dengan air mata yang menetes menangisi keadaan. 'Semua tak bisa lagi dijual, Lebih baik di bawa pulang saja' Wanita tua itu pun membawa jualannya yang di taruh di atas kepalanya dengan keranjang sebagai wadahnya.
Zai dari jauh melihat itu, Rasa iba menghampiri hatinya, Untung saja waktu dia menabrak jualan itu, wanita tua itu sedang tidak ada ditempat, Jika tidak mungkin saja wanita tua itu kini terbaring.
Zai mengikuti dari belakang hingga wanita itu sampai ke tempat tinggalnya.
'Ini tidak layak disebut rumah, Ini lebih seperti gubuk yang sudah hampir tidak patut di tinggali' Zai sekali lagi membatin ketika melihat wanita itu memasuki tempat tinggalnya.
Dengan hati yang kuat Zai melangkah dia menghiraukan notifikasi sistem yang mengatakan dia mendapat sebuah rumah dan tiga PS.
Dia terus melangkah hingga mencapai daun pintu, dengan segera tangannya mengayun dan mengetuk.
__ADS_1
Wanita tua yang kisaran umur sudah hampir mencarap lima puluh tahun itu segera berdiri kembali setelah duduk sejenak karna mendengar ketukan pada daun pintu.
"Siapa?" Terdengar suara dari dalam rumah tersebut, Wanita itu bertanya sembari meraih pegangan pintu yang hampir lepas dari tempat seharusnya.
Wanita tua itu terkejut melihat seorang pemuda yang menunduk di depan pintunya, Zai menunduk karna atap rumah itu tidak lebih tinggi dari tubuhnya. dan kepalanya nyangkut jika dia berdiri tegak.
"Maafkan aku Nek" Zai memanggil wanita itu dengan sebutan Nenek karna dia memang cukup tua. "Bolehkan aku masuk" Ucapnya lagi setelah wanita itu terdiam.
"Silahkan Nak, Tapi maaf tempat tinggalku seperti ini, Tidak cocok untukmu" Sahut wanita itu yang melihat apa yang dipakai pemuda itu terlihat mewah.
"Tidak apa Nek" Sahut Zai mengikuti langkah tua itu dengan lebih menunduk
'Sistem, Analisa wanita tua ini?'
(Nama: Maimunah
Umur: 48 tahun
Seorang janda dengan satu cucu yang sakit sakitan)
Sistem masih ingin menjelaskan tapi Zai menghentikanya, Karna Maimunah sudah bertanya lagi padanya.
"Ada keperluan apa dengan ku? dan tadi kenapa kau meminta maaf padaku" Tanya Maimunah.
"Sebenarnya, Akulah orang yang menabrak jualan Nenek tadi, dan aku kesini mengikuti Nenek untuk minta Maaf" Ucapnya.
"Tidak perlu lagi kau pikirkan, Semua memang kehendak pencipta, Semua pasti akan ada hikmahnya, Dan aku percaya akan hal itu Nak"
__ADS_1