
Segera setelah suara itu terdengar. Kehebohan terjadi dalam rumah. Ada sebagian yang senang, Tentu itu Juli dan Orlando. Tapi tidak dengan yang lainnya seperti Kirana dan keluarga yang lainnya.
Sedang Rianti masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Jecky. 'Jika menerima tanpa syarat. maka mahar yang diucapkannya akan batal dong, Aku tak mau ini. Aku harus mendapatkan semuanya. agar dapat menjamin kehidupan dan kekayaan. Aku sudah bosan ditindas dan diperlakukan tidak seperti anggota keluarga besar ' "Ayah! tapi dia sudah menjanjikan tiga hal kepadaku" Akhirnya Rianti menyuarakannya. Dia tak rela jika itu hilang.
"Apa kau tidak mendengar apa yang aku katakan?!" Bentak Jecky sambil menatap tajam Rianti. Rianti segera mundur ketika menatap mata Jecky dan jejak ketakutan terlihat diwajahnya. dan waktu seolah berhenti
"A-aku m-mendengarnya ayah" sahut Rianti menunduk. Karina yang ingin bersuara pun mengurungkannya melihat ibunya dibentak dengan nada tinggi ditambah tatapan tajam dari Opa-nya itu.
"Juli! aku menghargaimu sebagai cucu yang jarang aku perhatikan. adakanlah acara yang spesial untuk lamaranmu" ucapnya lalu duduk kembali.
'Apa yang sedang dipikirkan oleh orang tua itu? apakah ada yang dia inginkan dariku. hingga mudah memutuskan.?' Zai tentu bingung dengan perubahan kondisi. Tapi dia tidak terlalu memperdulikannya.
Acara pertemuan keluarga itu pun berlanjut dengan Juli sebagai pusat perhatian.
"Selamat ya Jul! kau akan menikah lagi" setiap orang dari keluarga itu berpura-pura senang dan tersenyum dan bersalaman serta mengucapkan selamat.
Juli pun tetap senang walau kepura-puraan itu masih dapat dia rasakan. apalagi ketika adiknya yang mengucapkan kata selamat. Itu nampak sangat tidak mendukung.
Sedang Rianti senang karna dia sudah mendapat kunci Mobil Bugatti Chiron yang diambilnya dari tangan Juli.
'Dasar keluarga yang aneh! Tersenyum untuk kepura-puraan. Mengapa aku harus dilahirkan dari darah keluarga seperti ini? batinnya serasa ingin menangis.
__ADS_1
Sama seperti dulu. ketika dia mengenalkan calon suaminya. mereka juga melakukan hal yang sama. dan mungkin mereka beranggapan hal yang sama terulang kembali. Tapi anggapan mereka salah kali ini. Zai bukanlah orang yang berpura-pura kaya.
Zai mengikuti Jecky masuk ke salah satu ruangan khusus yang terbuat dari bahan anti tembakan dan ledakan. Karna Jecky adalah orang kaya. maka dia harus menfasilitasi kehidupannya dengan baik. Agar saingan bisnis tidak bisa mengusiknya.
Zai duduk bersandar pada sofa yang tersedia. sedang Jecky mengambil botol anggur yang mahal harganya dan membukanya tanpa ragu. kemudian menuangkan pada gelas kecil dan menyodorkannya kepada pemuda itu.
Kemudian dia duduk dengan botol yang dia taruh dimeja dan menyesap gelas yang berisi anggur untuk dirinya sendiri. satu tegukan nikmat mengalir dalam tenggorokam dan menghangatkan rongga dada.
"Aku dapat menilaimu, Bahwa kamu bukan orang sembarangan. Tidak ada orang yang semuda kamu jika bertatapan denganku tanpa gemetar. katakan! apakah kau juga seorang kultivator?" Jecky mulai bertanya dengan perlahan ingin menelusuri latar belakang pemuda itu. dia yakin bahwa pemuda dihadapannya ini hanya bercanda ketika mengatakan seorang anak yatim piatu. meskipun benar pasti dia mewarisi seluruh harta orang tuanya. karna apa? karna seorang kultivator perlu sumberdaya yang mahal! seperti dirinya. memerlukan banyak usaha dan harta hanya untuk bertahan hidup lebih lama.
Dia mendambakan menjadi yang terkuat hingga bisa menguasai seluruh Negri, Tapi bukan jadi pemimpin seperti presiden. Hal itu terjadi setelah dia mendapatkan sebuah catatan dan metode untuk menjadi kultivator yang disimpan oleh leluhurnya di Rak buku.
"Hemm. Terserah jika kau tidak ingin mengatakannya. Selamat bergabung di Keluarga Xiao" ucapnya lagi.
Mereka pun berbincang santai setelahnya. Jecky seolah orang yang berbeda. Tidak seperti yang dia dengar sebelumnya dari mulut Juli yang mengatakan bahwa Jecky adalah orang yang kejam.
Zai berpura-pura sibuk dengan melihat jam tangan RM miliknya dan berdiri. "Aku sepertinya tidak bisa menemanimu untuk berbicara lebih jauh. semoga lain kali ada banyak waktu untuk berbicara dengan baik. Jangan sampai kita menjadi lawan, Opa!" Ucap Zai, Dia berbalik dan pergi.
Zai keluar mencari Juli untuk mengajaknya pulang. Namun di perjalanannya. dia mendapati adegan yang harus membuatnya mengulurkan tangan menangkap satu sosok wanita yang hendak terjatuh kelantai.
"Terima kasih" Ujar Kirana, dia mendekatkan tubuhnya dan menempelkan kedua gunungnya ke dada Zai. Dia langsung menatap Zai penuh dengan hawa menggoda dengan baju yang sengaja terbuka pada belahan atasnya, menampilkan gunung kembar yang naik turun ketika dia bernafas dan ingin mencium Zai.
__ADS_1
Tapi, Zai menarik kepalanya kebelakang. Terlihat indah didepan mata. Namun Zai sudah banyak menikmati gunung kembar yang lebih kencang dan padat. jadi dia lebih tau yang Ori dan tidak Ori.
Zai membantu Kirana berdiri tanpa bersuara. kemudian dia meninggalkan wanita itu disana 'Ingin menggodaku dengan cara seperti itu. Itu basi' batin Zai dan bibirnya tersenyum membentuk kurva.
'Sial, dia bahkan tidak tergoda, Apakah dia lelaki? atau Apakah dia impoten?' pikir Kirana, Dia langsung mengambil ponsel yang dia tarus disudut tempat yang memungkinkan untuk mengambil video.
Setelah itu dia memotong beberapa bagian dan menyimpan yang siap untuk di kirimkan kepada Juli.
............
Juli menerima pesan itu, namun dia tidak segera mengambil ponselnya. Dia menunggu Zai yang terlalu lama berbincang dengan Opa-nya. dia sedikit khawatir tentang keadaan Zai. setelah dia menatap lorong yang akan dilalui Zai. dia pun melihat siluit Zai muncul dengan seorang wanita dibelakangnya dengan jarak tiga meter tentunya. Dia sangat mengenali wanita itu yang tidak lain dan tidak bukan adalah adiknya sendiri.
"Mengapa menunggu disini?" tanya Zai kepada Juli ketika sudah dekat
"Aku hanya khawatir saja denganmu, apakah Opa menyakitimu?" Tanya Juli lagi. sebelum Zai menjawab sebuah suara terdengar dari samping.
"Kak, Selamat berbahagia" ucapnya sembari berlalu sambil tersenyum misterius dan mengedipkan mata.
Juli hanya mengangguk dan memalingkan wajahnya kearah Zai sambil menunggu jawaban Zai. "Kita sambil jalan saja. apakah semua orang sudah bubar?" Zai bertanya.
"Masih ada sebagian orang yang datang. itu tamu dari Kakak tertuanya ayah." sahut Juli. "Sebaiknya kau ikut denganku dulu ke Rumah ayah. Ayah sudah menitipkan kunci Mobilnya untuk kita pulang. dan Mobil yang kau bawa itu, Dibawa Mama dengan ayah, Maafkan aku" ucapnya sedih bercampur malu dengan sikaf mamanya itu..
__ADS_1