Sistem Konglomerat

Sistem Konglomerat
Berkunjung 3


__ADS_3

Ada sebuah ketegangan di bawah cahaya lampu besar yang menggantung di ruang tamu.


Dimana seorang lelaki paruh baya sedang menatap tajam pemuda yang ada di hadapannya tanpa diragukan lagi.


Dia terkejut dengan keberanian pemuda itu yang mengatakan tentang pertemuan mereka di hotel waktu itu.


"Apa yang kamu katakan, dasar idiot.. kita baru pertama kali bertemu. Tak mungkin aku mengenalmu" kata Alfi berkilah. Tak mungkin dia mengakuinya. Jika ketahuan maka tamatlah riwayatnya, sudah dipastikan Hesti akan mengamuk di tempat.


"Hahaha aku tau kamu tak berani mengakuinya. Tapi aku punya rekaman videonya loh" kata Zai dengan berbohong hanya untuk kesenangan hatinya.


"Siapa yang bisa kau bodohi ditempat ini?" Alfi meraung marah dan langsung melayangkan tinjunya. Tinju dari orang biasa tidak ada artinya bagi Zai. Tapi dia tetap mengelak, Zai menggeser kepalanya ke samping kanan lalu menarik tangan Alfi dan menendang perut dengan lututnya.


Bugh! Ugh! Alfi terjatuh ke tanah dan langsung meringis kesakitan. Melihat itu, sandy bergerak juga dengan menyapukan kakinya ke arah Zai. Dia pernah belajar silat, sedikitnya tau tentang bela diri. Meskipun tidak sampai ahli karna bosan.


Zai langsung meninju tulang kering Sandy hingga terdengar retakan.


Praaak!!. Membuat Sandy langsung terjatuh dan memegangi kakinya yang sakit serta berguling-guling ditempat.


"Kau berani membuat rusuh di rumah kami? Tunggu saja! Kau akan habis" Hesti berteriak marah melihat dua lelakinya meringkuk dalam kesakitan.


Dia mendatangi keduanya, suami dan anaknya dan berteriak dengan lantang memanggil orang yang ada di dalam atau luar rumah.


Sakti datang bersama Anggoro yang duduk di kursi roda, dia sudah sangat sepuh hingga tak mampu lagi berjalan. Meskipun begitu, keinginannya untuk hidup cukup besar. Karena ada sebuah penyesalan di masa lalu yang membutuhkan penebusan.


Anggoro menatap pemuda yang sedang membuat rusuh di rumahnya. Namun dia tidak marah. Karena Sakti menceritakan suatu hal yang membuatnya tak bisa marah begitu saja.


"Mengapa kalian bertengkar?" Anggoro bertanya dari kursi roda yang didudukinya.

__ADS_1


"Ayah! Dia yang memulai" Hesti melemparkan kesalahan dengan menunjuk pemuda yang begitu tenang berdiri.


Zai hanya berdecak melihat itu. "Dia yang menyerangku. Tidak salah bukan jika aku memukul" kata Zai, dia tak peduli apapun tanggapan yang akan diberikan oleh Sakti dan Anggoro.


"Ayah tolong! dia telah mematahkan kaki cucumu" ucap Hesti mendekati Anggoro.


"Ini pasti karena kerjaan kalian juga yang menyinggungnya" kata Anggoro menatap sinis Hesti.


Anggoro kesal sudah sedari dulu. Karna Hesti yang terlalu banyak menghasut keluarga hingga dia harus mengusir anak perempuan satu-satunya yang dia miliki. Penyesalan yang dalam tak dapat terlukiskan di wajahnya.


"Bukan ayah! Memang dia yang memulai lebih dulu" Alfi bangkit berdiri seraya menekan perutnya yang sakit dan menerangkan hal yang dusta.


"Cih. Tak mungkin tuan muda Zai melakukan hal itu" kata Sakti sangat meyakinkan. "Kalian pasti menyinggungnya dan berakhir seperti ini, seolah aku tidak pernah tau kelakuan kalian. Jika bukan karenamu juga Hesti! Keluarga tidak akan kehilangan Stella. Lihatlah ayah sakit-sakitan karena memikirkannya masih." Sakti marah, jika bukan perempuan dia pasti akan memukul Hesti ini.


Sakti memang memiliki sifat yang penyayang. Entah mengapa dia bisa menjadi kultivator dan tergabung dalam organisasi itu. Sangat disayangkan memang, tapi karena itu juga dia bertemu dengan Zai. Ponakan yang tak pernah ditemukan..


Dulu niatnya akan menghancurkan. Namun ketika sedikit tau bahwa tidak semua orang yang ada di keluarga bersikap buruk dan masih mengenang mendiang ibunya. Dia merasakan dilema.


Namun dia masih tidak ingin mengatakan identitas sebenarnya dan apa maksud dari kunjungannya. Sebelum benar-benar yakin tentang keluarga ini.


"Salahkan saja terus keluarga kami" kata Alfi berteriak kepada Sakti. "Kau selalu mengungkit hal yang sudah lama. Bukankah kalian juga yang tidak ingin Stella menikah dengan Lelaki itu dan mengusirnya ketika Stella membawa calon suaminya dulu"


"Kami memang tidak setuju pernikahan itu, tapi dia tetap adik dalam keluarga ini. Kau malah mengusirnya lagi ketika dia datang membawa suami serta anaknya." Sekarang kita tidak tau bagaimana mereka dan dimana keberadaannya?"


'Apakah ketika aku datang dulu, lelaki sialan ini tidak mengatakan kepada keluarga yang lain bahwa ibuku meninggal' Zai membatin.


"Sepertinya aku ditempat yang tidak semestinya sekarang. Aku akan berkunjung lagi nanti. Dan juga soal kesepakatan kita. Kita bicarakan besok saja lagi" ucap Zai kepada Sakti yang masih berdebat. Dia segera berdiri dan memberikan satu butir pil di telapak tangan Anggoro. Karena dia merasakan Anggoro masih memerlukan hal itu.

__ADS_1


"Hei… ini karenamu, mengapa kau tidak bertanggung jawab?" Hesti berteriak menunjuk Zai yang hendak keluar dari rumah.


Sedang Anggoro menatap sebutir pil itu dengan banyak pertanyaan, dia merasa ada keterikatan dengan pemuda itu. Tapi dia tidak bisa menjelaskan isi hatinya dan bagaimana mengungkapkannya..


"Kamu meminta pertanggung jawaban dariku, apa kamu sanggup menerimanya?" Kata Zai dengan kesal berbalik menatap wanita yang juga ikut andil mencaci ibunya di masa lalu.


Zai mendekat dengan pelan, Hesti menatapnya dengan tajam pemuda yang berjalan ke arahnya. Dia masih tersenyum. Namun detik selanjutnya, telapak tangan melayang menghentak wajahnya.


Plaaaak!! Suara itu terdengar renyah ditelinga. Hesti terputar tubuhnya karena alasan itu dan terjatuh mengikuti jejak suami dan anaknya.


"Sayang!" Alfi hendak menangkap tubuh Hesti, tapi tidak sempat. "Kakak! Mengapa kau diam saja? Bukankah kau pelindung keluarga dan kau juga ahli bela diri. Hukum dia! karena berani menyakiti keluarga kita" Alfi berteriak sangat keras kepada Sakti yang sedari tidak menggunakan tangannya untuk membantu.


"Kau berani memerintahku? Dia adalah tuan muda dari keluarga terhormat yang bahkan aku tidak berani untuk menyinggungnya. Tapi kamu? Ckckck sudah tidak tertolong lagi." Sakti menggelengkan kepalanya "Tuan muda, aku hanya bisa memintakan maaf untuknya. Kasiani saja dia" kata Sakti memohon kepada Zai.


"Untukmu paman, akan aku kabulkan" segera dia berbalik setelah berkata dan keluar menuju Mobilnya.


Di Luar Rumah dia menemukan Mobilnya yang sudah tidak berbentuk Mobil bagus lagi. Zai menggelengkan kepala dan mengambil ponselnya. "Paman Sak, pinjamkan aku Mobil" 


Zai menunggu diluar dengan santai menghisap sebatang rokok dan menghembus perlahan.


Sakti datang dengan tergesa dan melihat Mobil xenia yang sebelumnya dipakai Zai, hancur. "Ini pasti perbuatan mereka berdua. Bodoh sekali" gumamnya.


Sakti mengeluarkan kunci mobil dari kantongnya dan menyerahkan langsung kepada Zai.


"Mobil ini belum pernah dipakai sekalipun. Mohon tuan muda menerima pemberianku yang sederhana ini" katanya


Zai memperhatikan tulisan yang ada di kunci itu. "Baiklah…" sahutnya. Segera dia menekan tombol dan satu Mobil berkedip..

__ADS_1


__ADS_2