Sistem Konglomerat

Sistem Konglomerat
Menghukum Sandy


__ADS_3

Zai pulang pada akhirnya. Dia menekan keinginan membunuhnya untuk saat ini. Dia ingin menghancurkan keluarga anggoro perlahan demi perlahan. Agar rasa hatinya terpuaskan. Dan ingin mencari tau siapa saja yang terlibat dalam tragedi itu…


Pagi menyapa para penduduk bumi. Dan matahari sebagai sinar yang diciptakan untuk menerangi.


Zai hampir tidak bisa tidur. Hatinya masih sedikit gelisah. Dia membuka saluran televisi tertentu dan menemukan berita tentang kematian beberapa orang dengan kepala yang berlubang. Akibat baku tembak. Namun yang anehnya tidak ditemukan hal yang lainnya selain itu.


"Apakah sistem sudah mengaturnya agar aku tidak terlibat dan ditangkap oleh pihak kepolisian negara?"


'Apa kau yang melakukan hal itu sistem?' Zai bertanya segera.


(Benar tuan, untuk melindungi tuan rumah, sistem harus bisa melakukan hal diluar nalar manusia)


'Terima kasih atas semua yang kau lakukan dan berikan kepadaku, sistem! Jika bukan karenamu, aku pasti masih akan terpuruk di lumpur keluhan' ucap Zai tulus.


(Semua adalah keberuntungan tuan rumah) sahut sistem datar.


Zai segera bangkit dan mandi untuk menyegarkan otaknya yang gabut.


Beberapa saat berlalu, dia keluar dan makan lalu pamit kepada Maimunah. Dia mendatangi kantor untuk melihat perkembangan Pt megah jaya setelah dikelola oleh Orlando.


Sehabis itu dia berkunjung ke tempat Mey Chan dan bertanya suatu hal. "Apakah dia kembali?"


"Belum sayang! Apakah kah kau mau makan?" Tanya Mey Chan.


"Mm" Zai menganggukan kepala.


"Aku akan mengambilkannya, duduklah yang manis!' Pinta Mey Chan.


"Saddam, perintahkan yang lain untuk mengintai Alfi dari keluarga anggoro, aku ingin laporannya segera!" Kata Zai dalam sambungan telepon.


"Baik tuan muda!" 


Mey Chan datang membawakan makanan yang harum mewangi seperti orangnya. "Kau pintar memasak, aku tak menyangka!" kata Zai berseru senang.

__ADS_1


"Aku dari kecil sudah diajari memasak. Hanya saja setelah mengikuti Kak Jun. Aku tak pernah lagi masak. Hari ini khusus aku berikan untukmu" ucap Mey Chan menampilkan senyuman indahnya.


"Ayo makan!" Zai langsung mengangkat piringnya.


Sedang Mey Chan memberikan nasi dan sayur serta lauk yang menggoda lidah.


……


"Sial mereka gagal! Kok bisa menangani satu orang saja tidak becus" Alfi yang melihat berita dari salah satu televisi yang ada di ruangan tempat anaknya dirawat, berteriak marah. Hampir saja dia menghancurkan peralatan yang ada di sana jika tidak mengingat bahwa dia kini berada dirumah sakit. "Siapa lagi yang harus aku hubungi?" Gumamnya, seraya berdiri dari tempat duduknya dan berjalan perlahan keluar dari ruangan itu.


"Mau kemana kamu sayang?" Hesti datang dengan pertanyaan yang keluar dari mulutnya.


"Apa kau sudah mendapatkan apa yang ku pinta?" Alfi menatap wajah Hesti yang kepanasan.


"Sebagian informasi sudah aku dapatkan, lihatlah file ini" map berwarna hijau yang berada di tangannya dia berikan kepada Alfi.


Alfi melirik kursi dan berjalan kesana, dia duduk dan membukanya. Ada beberapa catatan yang tertulis di sana.


"Berasal dari banjarmasin dan memiliki kekayaan yang cukup besar. Bukan hanya itu. Dia juga adalah pemilik dari PT megah jaya yang baru berdiri namun sudah hampir mengungguli perusahaan yang lebih dulu berada dibidang itu" kata Hesti, dia mengatakan apa yang ada di kertas itu. Padahal, Alfi juga membacanya.


"Aku sudah meminta ayah untuk menghancurkan bisnisnya. Kita tunggu saja kabar selanjutnya. Dia tidak tahu menggoyang pohon besar tidak akan tumbang, hanya dengan kekuatan biasa" kata Alfi sambil tertawa.u wajah Alfi segera menemukan target.


"Kabari bos Sadam! Katakan padanya, target berada dirumah sakit sekarang!"


Yang satunya bergegas mengambil ponsel dan menghubungi Saddam..


Zai juga mendapat info itu. Karena Saddam langsung menghubunginya ketika dia sudah mendapat kabarnya.


"Aku akan ke rumah sakit menjenguk seseorang, kabari jika ada sesuatu yang tidak nyaman" kata Zai kepada Mey Chan yang berada dalam pelukannya.


"Mm" Mey Chan melonggarkan pelukannya. Dia duduk, kemudian berdiri mengambilkan pakaian Zai yang terserak di lantai keramik berwarna putih.


"Terima kasih sayang!" Ucap Zai. Dia mulai berpakaian dan mencium kening Mey Chan. Setelah itu dia pergi.

__ADS_1


'Sepertinya aku harus pulang ke rumah orang tuaku. Mungkin mereka telah menganggap aku mati karena tidak pernah ada kabar selama beberapa tahun' Mey Chan berpikir dalam hatinya, kemudian bersiap.


Tidak berapa lama Zai sampai di halaman parkir rumah sakit tertentu, dimana disalah satu ruangan ada Sandy anaknya Alfi.


Dua orang sudah menunggunya tidak jauh dari kamar Sandy. Ketika mereka melihat Zai. Dua orang itu langsung bergegas mendekati "Salam tuan muda!" Ucap keduanya bersamaan.


Zai mengangguk dan berkata "Tunjukan yang mana kamarnya!?"


"Dua kosong satu" salah satu langsung menyahut.


"Jaga dari luar, aku akan masuk"


"Baik tuan muda" sahut keduanya.


Zai langsung melangkah dan mendorong pintu pelan. Lalu mendekat dengan sebilah jarum pembalik ditangannya. "Salahkan ayahmu yang tidak peduli dengan hidup dan mati orang lain" kata Zai yang berdiri di antara kaki Sandy yang berselonjor.


Dia dalam keadaan tidur nyenyak setelah melakukan operasi pada kakinya. Kini Zai datang membawa malapetaka yang tidak akan terduga.


Zai mengangkat tangannya lalu menusukkan jarum di ujung jarinya. Dengan sekali hentakan, jarum itu meluncur masuk menembus titik akupuntur. Dia mencabut dan memasukkan lagi di tempat lainnya di antara telapak kaki. Lima tusukan dia selesaikan tanpa membangunkan Sandy.


Lalu dia keluar dengan senyum yang mengembang. Tidak akan ada yang curiga kepadanya. Meskipun ada, tidak akan ada yang menemukan bukti bahwa dia yang melakukan hal itu.


Dengan langkah ringan dia mendorong pintu kemudian menutupnya lagi.


"Apapun kabar yang kalian dengar, langsung hubungi aku saja!" Kata Zai melirik kedua orang yang berdiri dari duduknya semula.


"Baik tuan muda!" Ucap mereka.


Zai melangkah menuju mobilnya. Dia melihat Sakti dan Anggoro yang sudah bisa berjalan di ujung koridor sana. Dia menunggu disalah satu kursi yang ada hingga keduanya mendekat.


"Syukurlah, bila kau sudah bisa berjalan" kata Zai yang menghentikan langkah kaki mereka berdua. Sebelumnya mereka tidak memperhatikan sekeliling dan hanya fokus ke tujuan mereka. Karena Anggoro ingin memastikan apakah masih ada penyakit di tubuhnya setelah minum sebutir pil yang diberikan Zai.


"Salam tuan muda!" Sakti selalu menghormati Zai

__ADS_1


"Eh, ternyata kamu ada disini?" Ucap Anggoro. "Terima kasih banyak, bantuanmu akan selalu ku ingat, apapun yang kau mau akan aku lakukan. Jika itu tidak melanggar hukum" kata Anggoro yang ingin mengambil hati Zai.


Zai tersenyum, dia berdiri dan melangkah. "Untuk keluarga, itu tidak perlu dihitung" ucap Zai yang langsung pergi tanpa berkata lagi..


__ADS_2