Sistem Konglomerat

Sistem Konglomerat
Masih dengan Amanda


__ADS_3

Matahari bersinar sangat terang menembus kaca dan menyilaukan.


Zai mengerjapkan mata yang masih sipit mengayun tangan menghalau cahaya yang menyembur kewajahnya. Menatap wanita cantik yang ada disampingnya. Wanita yang menemani melewati malam bersama.


Tangannya terayun dan berhenti di pipi lembut dan mengelus dengan jari telunjuk, Sangat terasa kekenyalannya. "Kita akan hidup bersamanya mungkin untuk waktu yang lama" Senyum Zai mengembang diwajahnya.


Seketika Amanda terbangun merasakan ada tangan yang mengelus pipinya dengan pelan. Tidak terbayang ketika terbangun ada orang yang menatapnya dengan penuh cinta dan sayang. Tidak terbayang waktu mempertemukan dia dengan lelaki tampan yang menatapnya dengan lembut ini.'Aku ingin terus seperti ini, tanpa beban tanpa penyesalan, Tidak kah kau izinkan aku untuk bersamanya (Author)'


Amanda perlahan duduk dan mengangkat kedua tangan membuka aura kecantikan dengan menggeliat tanpa penutup sehelai benang.


Tanpa berkedip Zai memandangnya. Wanita yang sedang menguap dan mencoba untuk menutupi mulutnya. tapi tidak mencoba menutupi pepaya yang menggantung didadanya.


"Bantu aku" Kata Amanda. dia menyingkap selimut yang menutupi bagian bawahnya. terulur kaki putih, mulus, bersih. Zai mengulurkan tangannya yang langsung disambut oleh Amanda.


Amanda dengan perlahan berjalan mengikuti tarikan tangan Zai yang membawanya menuju Watafel. Air mengucur ketika kran terbuka. Segera air membasahi wajah tanpa make-up, Bersih tanpa tai lalat tanpa jejak noda yang menjadi penghalang kecantikannya.


"Jangan terlalu memandangku begitu, Nanti aku akan sulit melepasmu" Amanda bicara tanpa menatap Zai. tapi dia tau, Zai memandangnya dengan lekat.


"Keindahan itu diciptakan untuk dipandang, di Syukuri dan dipelihara. Bagaimana bisa aku mengabaikannya? sedang keindahan itu ada didepan mata"


"Kau terlalu menggombal. akan basi jika terus dikatakan hal yang seperti itu" kata Amanda sambil ngelap wajahnya dengan handuk lembut.


"Jika kau tau kedalaman hatiku, mungkin aku tak perlu mengatakan kata-kata yang tak perlu. cukup kau bisa mengerti tentang hatiku. itu lebih bermakna dari apapun yang ada didunia" Zai terus memandangnya dengan kedua telapk tangannya berada didagu, sedangkan sikutnya berada dipinggiran watafel.


"Sudah, Bantu aku mencari pakaian" Kata Amanda lagi, Tentu dia tak ingin berdebat masalah kata dengan pemuda itu. karna dia akan kalah dengan kata mutiaranya.


"Aku sudah membelikanmu beberapa pasang baju dilemari. kau bisa ambil mana yang kau mau" Ucap Zai. Dia membeli pakaian itu di Shop sistem, dengan bantuan sistem dia bisa mencari ukuran yang pas untuk dipakai Amanda. bukan hanya pakaian luar. Pakaian dalam pimun ada.


Amanda segera membuka lemari dan mengambil pakaian yang paling dia sukai warnanya. Sedang Zai mengambil pakaiannya juga dilemari yang sama.


"Kapan kau membelinya?" Pertanyaan itu keluar karna rasa penasaran.

__ADS_1


"Tadi malam saat kau tertidur lelap." Kilah Zai dengan omong kosong.


"Terima kasih" Meskipun sedikit janggal, Amanda tidak membahasnya lebih jauh.


Selesai keduanya berpakaian. Mereka turun bersama melewati Elevator. Zai menyerahkan kunci President Suite kepada kasir. lalu menggandeng tangan Amanda ke Mobil.


"Apa kau lapar?" Zai bertanya setelah keduanya masuk kedalam Mobil.


Amanda hanya mengangguk saja. Dia lebih pendiam sekarang. tidak seperti dirinya dimasa lalu, Orang yang paling banyak bicara diantara geng-nya hanyalah dia. Ratu cantik banyak omong, gelarnya.


'Mungkin dia terlalu banyak pikiran. jika aku tak membawanya melihat hasil tes DNA, Mungkin dia tak akan tenang'


Di perjalanan tidak ada yang bicara. Amanda hanya menatap jendela dan mengalihkan pandangannya dari Zai yang terkadang melirik kearahnya.


Zai ingin mengajak bicara. tapi yang disamping tidak menghiraukannya. "Haih.." Terpaksa dia menghela nafas cukup kencang untuk melegakan dadanya.


Ayunan tangan menyentuh pucuk kepala Amanda. dan sebentar mengusap disana setelah itu dia tarik kembali dan memindah perseneling.


Zai melihat yang pertama. itu adinya Farhan. dia menghubunginya kembali "Ada apa Far?" tanyanya.


"Nenek mencari Kakak, Kenapa Kakak tidak pulang? dan memberi kabar katanya?"


"Kakak ada kesibukan, Sampaikan maaf kepada Nenek, Nanti malam Kakak akan pulang" Ucap Zai lalu menutup telpon.


Dia membuka lagi log panggilan dan mendapati beberapa wanitanya. dia hanya mengirim teks permintaan maaf. Setelah itu dia menghubungi Sadam yang lebih banyak panggilannya.


"Hallo tuan" Sadam segera menyapa.


"Ada hal apa?" Zai bertanya.


"Maaf sebelumnya tuan. aku tidak meminta ijin untuk melakukannya. Aku menangkap Bram dan menyekapnya di gudang bekas Dark Moon" dengan nada ketir, Sadam mengatakannya.

__ADS_1


"Kau memilih keputusan yang bagus. Pertahankan dia. Nanti aku akan kesana, Setelah urusanku selesai" Ucap Zai lalu memutuskan sambungan telponnya. kemudian dia menatap Amanda disampingnya dan tersenyum.


..............


Disisi yang berbeda dalam waktu yang sama.


Dering telpon terdengar didalam tas. Juli langsung meraihnya dan menatap tidak biasa layar ponselnya. Namun dia tetap menerima panggilan tersebut.


"Juli! Datang kerumah Kakek!" Suara Jecky terdengar diseberang telpon dengan nada mendesak.


"Baik kek" Juli tetap mengiyakan meski ada kebingungan dalam benaknya. Telpon segera terputus setelah Juli mengiyakan kedatangannya.


"Mah, Kakek memintaku untuk kerumahnya. Apa Mamah mau diantar pulang atau disini saja?" Juli memandang Rianti dan bertanya.


"Mamah disini saja dengan Kirana, Nanti ayahmu juga akan kesini. Mamah sudah kabari dia." Sahut Rianti. "Biarkan Rendy juga dengan Mamah"


"Oke Mah, Titip Rendy ya!" Juli langsung berangkat, Melambaikan tangannya.


Dia mengemudikan Bugatti Chiron dengan santai menunu rumah besar kediaman Xiao. "Apa sih yang Kakek ingin. Tiba-tiba menyuruh kesana. Aku harus mengabari Zai lebih dulu"


Segera Juli menghubungi Zai. Namun tertulis dilayar nomor yang anda tuju sedang dalam panggilan.


Juli hanya menulis pesan singkat saja. Mengabari bahwa dia akan kerumah Kakeknya..


yang mengakhiri panggilan dengan Jaya dan langsung melihat pesan masuk. Dia pun mengirim pesan kepada Jaya lagi untuk menunggu Juli dirumah Kakeknya. Dia tak ingin terjadi sesuatu dengan Juli.


"Kamu sangat sibuk sekali, terlalu banyak menelpon dan ditelpon serta mengirim pesan. Entah berapa banyak wanita yang kau abaikan selama ini" Seraya berbicara Amanda memonyongkan bibirnya yang menambah kesan kecantikannya lebih dalam.


"Maaf jika mengabaikanmu. inilah kesibukan ku setiap hari. akan ada banyak telpon masuk untuk mengurusi bisnis yang sedang berkembang" Dengan sedikit omong kosong Zai menyahut. tanpa ragu, tanpa malu..


"Banyak omong kosong, Seperti gentong yang nyaring bunyinya" Amanda kesal menghadapi Zai yang terus beralasan. Padahal dia hanya ingin Zai mengaku salah karna mengabaikannya. tidak susah bukan!

__ADS_1


Tapi hati lelaki memang sulit dimengerti. terlebih pikiran wanita, lebih sulit lagi untuk dimengerti.


__ADS_2