Sistem Konglomerat

Sistem Konglomerat
Tugas


__ADS_3

Seketika Bawi tersadar, "Periksa tubuhnya, siapa tau dia juga membawa Bom" Pinta Bawi kepada Sani dan Ucup, "Segera" teriaknya lagi.


Ucup dan Sani segera menggeledah tubuh Sosok yang mereka bawa dan benar saja, mereka berdua menemukan Bom yang sudah aktif dan hanya tingga beberapa detik lagi.


Ucup segera berlari keluar dari ruangan itu membawa Bom ditangan kanannya. dengan hati yang gelisah dan sedikit ketakutan dia meyakinkan dirinya bahwa dia pasti selamat.


Tet tet tet.... Bommmm..! Di detik terakhirnya, Ucup sempat melempar Bom itu kehalaman hingga terjadi ledakan disana.


Memang tidak berskala besar daya ledaknya, Tapi cukup mampu membunuh setiap orang yang dekat dengan bom tersebut.


'Syukur, Aku selamat' Sembari mengusap dadanya dia terduduk lemas, Hampir saja hidupnya berakhir begitu saja.


..............


(Ding..... Tugas baru di temukan


Rincian Tugas: Menggagalkan perdagangan manusia yang dilakukan oleh Organisasi Dark Moon,


Misi tingkat S.


Tidak bisa ditolak)


Zai mengepal kan tangannya, dengan kebencian yang dalam dihatinya, Bagaimana tidak, Manusia di perdagangkan, Apa mereka tidak punya hati?


Jelas Zai menerimanya dan bersiap dengan segala keyakinan dirinya. tapi fokus yang lebih utama sekarang adalah sosok penyusup yang kedua, Yang kini sudah berada dihadapannya.


"Jika temanmu tidak meledakkan diri, Aku yakin kau akan berhasil meledakkan diri juga, Tapi sayang harapanmu sia sia sekarang, Tidak ada ampun bagi orang yang mengusik ketenangan ku, dan sudah membunuh orang orang ku..... Bawi, lemparkan dia ke kandang macan yang ada dibelakang kediaman ini"


Zai sangat kesal, Dia tak ingin mengotori tangannya dan repot repot untuk menyiksa, Karna musuh sudah diketahui.


Bawi bersama dengan Sani menggotong sosok yang sangat mereka kenali itu, Ya bagaimana mungkin mereka tidak mengenal sosok itu jika mereka berasal dari tempat yang sama.


"Maafkan aku teman masa lalu, Kita sudah berbeda jalan, Jika saja kau tidak berniat melakukan bunuh diri, Aku bisa saja memintakan maaf atas dirimu, Tapi sayangnya kau juga ingin menyeret kamu semua mati bersamamu, semoga di kehidupanmu yang berikutnya kita tidak bertemu dalam keadaan bermusuhan"

__ADS_1


Bawi menatap sedih tubuh yang kini sudah dilemparkan kepada Macan yang langsung mencengkram dan mencabik cabik tubuh temannya itu dengan ganasnya.


"Sudah Baw, Ini memang sudah jalannya, sebaiknya kita persiapkan diri untuk menyambangi markas Dark Moon, kita akan bernostalgia tapi bukan sebagai anggota Dark Moon lagi, Tapi sebagai penghancur mereka" Sani menepuk bahu Bawi yang terlihat terus menatap macan yang memakan tubuh sang kawan.


"Sebenarnya aku juga sudah merasa resah hidup seperti itu terus, Aku juga ingin menikmati hidup layaknya manusia normal yang tenang dan damai, Sekarang kita sudah tidak lagi menjadi anggota Dark Moon jadi aku merasa lebih tenang, Karna tidak lagi menangkap para wanita muda dan menyiksa mereka." Sani terus berbicara sembari berjalan, Dan bawi mendengarkan kisahnya..


Zai terlihat memijit kepalanya yang sedikit pusing lalu dia membuat pengaturan, "Antarkan jasad mereka ke kekeluarganya, Dan berikan uang kompensasi seratus juta per orang!" Pintanya kepada semua orang yang disana.


"Dan bagi yang terluka, Berobatlah kerumah sakit secepatnya" Tambahnya lagi lalu berdiri dan pergi keruangan pribadinya.


"Aku harus segera pergi ke jakarta, untuk menggagalkan rencana Dark Moon, Sebaiknya aku bersiap dulu" Sambil bergumam dia pun menyiapkan apa yang perlu disiapkan "Sebelum itu aku harus mengunjungi beberapa wanitaku untuk ijin"


Zai segera keluar dari ruangan itu dan berjalan menuju meobilnya.


Vrooom.... Raungan bahagia terdengar dijalanan dengan kecepatan sedang dia berpikir siapa yang harus di kunjunginya lebih dulu.


"Sebaiknya aku kerumah Lina saja dulu"


Matahari sudah hampir tenggelam, sesuai janjinya bulanlah yang akan menggantikannya menggantung dilangit


Didepan pintu Rumah Lina, Zai mengulurkan tangan untuk mengetuk pintu, Beberapa kali gerakan tangan mengetuk, Terdengar sebuah suara yang merdu.


"Tunggu sebentar..!" Dengan nada lembut


Lina menyingkap tirai dan menemukan Lelaki pujaan hatinya berada didepan, Dengan segera dia memutar kunci di pintu dan menariknya.


"Kenapa tidak ngabarin Sayang?" Lina bertanya sambil memeluk erat orang yang dirindukannya siang dan malam.


"Kalau ngasih kabar bukan kejutan namanya" Zai juga mendekap erat tubuh hangat Lina dan mencium pucuk kepalanya.


"Apakah kita hanya berdiri saja disini, Malu kalau dilihat tetangga" Zai berkata lagi, Karna dia tak ingin Lina dan keluarga menjadi ladang Gosip.


"Hehe, ayo masuk" Lina meraih pergelangan tangan Zai dan menariknya setelah itu dia menutup pintu.

__ADS_1


Zai segera duduk di sofa.


"Entah mengapa aku selalu merindukanmu Sayang" Ucap Lina jujur "Jika mengingatmu aku akan susah tidur" Tambahnya lagi setelah menutup pintu dan berjalan mendekat.


"Yhahaha aku digombalin" Zai menarik tangan Lina dan lebih mendekatkannya, lalu meraih pinggang ramping itu kemudian mendudukkannya ke atas pahanya.


"Berani kamu Ya sekarang Pegang-pegang?" Tatap Lina dengan melotot tapi dia tidak marah itu hanyalah candaannya saja.


Zai terkekeh. "Mana Ortumu sayang?" Zai bertanya tanpa memindahkan pantat kenyal itu dari pahanya.


"Mereka sedang keluar, Mungkin sebentar lagi akan pulang" Jawabnya. "Aku buatkan minum dulu Ya" Lina segera berdiri tapi Zai menahan pinggulnya dengan kedua tangannya.


"Aku tak kan lama, Aku kesini hanya ijin untuk ke luar kota beberapa bulan, ada urusan bisnis yang harus aku lakukan disana?" Zai berbohong sedikit, Karna tak mungkin dia jujur jika ingin menggagalkan perdagangan manusia, Sedangkan dia bukan polisi.


"Kenapa mendadak sekali?" Terlihat wajahnya cemberut "Bisakah aku ikut" Lina segera bertanya kembali dengan semangat setelah berpikir cepat.


Zai menggeleng lalu menyentil hidung Lina yang sedikit mancung dan lanjut berkata "Aku keluar kota bukan untuk rekreasi tapi untuk urusan bisnis, Jika kau ikut, Aku takut tidak bisa menjagamu dengan baik, Karna aku akan sangat sibuk"


"Kalau begitu senangkan aku malam ini"


Zai senang dalam hatinya karna mendapat lampu hijau untuk menyenangkan wanitanya yang belum tersentuh ini, Zai memajukan kepalanya dan mendekatkan Bibirnya untuk lebih dekat, Tapi satu jari menghalangi jalannya.


"Bukan yang seperti ini..... Maksudku, Ajak aku jalan-jalan malam ini kemanapun kau suka" Ucap Lina lalu mencium pipi Zai kemudian dia berdiri dan berbalik pergi kekamar, "Tidak ada penolakan!!" Ucapnya lagi sebelum masuk kedalam kamarnya.


'Haih.... Aku salah paham' Zai berpikir dalam hatinya.


Memang tak semua wanita yang menginginkan kesenangan berhubungan dengan hal semacam itu, Ada banyak kesenangan, Dari perhatian, Pengertian, Ngajakin jalan dan beri hadiah.


Sepuluh menit kemudian, Dengan riasan biasa saja tapi tetap menunjukkan kecantikan yang asli tanpa poles berlebihan. Lina keluar dengan memakai Mini dres berwarna hitam yang memikat siapa saja yang melihat..


"Jangan di pelototin, Aku malu" Lina segera menyadarkan Zai yang terpana melihat kecantikannya.


__ADS_1


__ADS_2