Sistem Konglomerat

Sistem Konglomerat
Melamar Juli


__ADS_3

Apakah mungkin hati bisa menjadi batu? Apakah ada yang tau jawaban sebenarnya?


Ada dimana kadang kala sifat manusia menjadi keras dan tak punya perasaan hingga muncul kalimat hati sekeras batu. Itu mungkin jawabannya.


Seperti Kirana Xiao saat ini. Dia bahkan tidak pernah merasa iba dengan Kakaknya yang telah berjuang untuk dia. Dari sekolah hingga ke pekerjaan. Namun setelah sukses dia melupakan jasa dari sang Kakak.


Sang kakak memang tidak menuntut untuk mengingat jasa. Karna dia hanya memikirkan sang adik untuk sukses. dan dia bisa tersenyum melihat ke suksesan sang Adik.


..........


Kirana Xiao lumayan cantik tapi jika disandingkan dengan Kakaknya Juliana Xiao. Mungkin hanya akan menjadi angka 10 bukan angka 12. Kecantikannya itu membuat iri dan dengki di hati Kirana.


...........


"Pah, Mah!" Juli memanggil kedua orang tuanya sembari memeluk satu persatu.


"Sudah lama tidak pulang, Sepertinya sudah lima tahun. Dan Rendy sudah besar" Ucap Mamanya Juli yang bernama Rianti.


"Iya Mah, Maaf Ya!" Sahut Juli menunduk.


Orlando Xiao menatap pemuda dihadapannya yang hanya diam dengan Cucunya dalam gendongan, Sedang tertidur..


Lalu dia mengulur tangan untuk mengambil Rendy dan berkata "Cucu Kakek sudah besar. Sini ikut Kakek!" Ucap Orlando. Tentunya mendengar suara seperti itu Rendy terbangun dari tidurnya dan langsung berpindah tangan.


"Kamu mau makan apa? biar Kakek ambilkan!" Sambil berjalan dia mengikuti apa yang ditunjuk Rendy. Orlando tidak menyiakan kesempatan langka dengan Cucunya itu. Orlando pun menemani sang cucu untuk bermain dengan anak cucu saudaranya yang lain.

__ADS_1


"oh ya Mah! Kenalkan ini calon ayahnya Rendy!" Ucap Juli meraih tangan Zai dan menggandengnya.


Zai mengulurkan tangan, Tangan mereka bersambut tapi Rianti tidak menoleh kearah Zai. dia hanya menatap Anaknya, Yaitu Juli dan berkata "Ibu tidak pernah melarangmu dalam menentukan pasangan hidup. Tapi kalau bisa. Lebih baiklah dari ayahnya Rendy dahulu. Sekarang usaha ayahmu sedang mendapat kemunduran. Aku ingin menikahkanmu dengan anak teman Mamah." Ucap Rianti dengan terbuka dihadapan Zai.


"Oh mama! kamu tenang saja. Dia ini adalah seorang pengusaha hebat. bahkan sekarang aku bekerja dirumah sakit miliknya sebagai Wakil direktur. Dan banyak hal lagi yang dia miliki" sahut Juli sedikit membanggakan bahwa pilihannya yang ini lebih baik dari calon yang mamanya pilihkan.


"Jangan terlalu bercanda dengan Mamah!" Tatapannya sedikit tajam. "Mama tahu, kau tidak ingin menikah lagi setelah kematian ayahnya Rendy. Tapi jangan juga menyewa laki-laki muda untuk berpura-pura menjadi calon suamimu"


"Percayalah dengan anakmu, Mama!!" Air matanya sedikit hendak keluar.


"Tante! Jika kau tidak percaya. aku bisa menikahinya sekarang juga" Ucap Zai bersungguh-sungguh.


Rianti menggeleng. "Tidak Nak. Kamu masih terlalu muda! Dan aku tidak yakin kau bisa membantu keadaan kami" Matanya sambil memindai pakaian Zai dari atas hingga bawah.


"Aku bersungguh-sungguh Tante! Katakan saja berapa yang Tante perlukan untuk membuat usaha Ayahnya Juli bisa berkembang. aku akan memberikannya sebagai mahar pertama" Ucap Zai serius.


Rianti tertawa. dan tawanya itu mengundang perhatian keluarga yang lainnya. Bahkan Orlando dan Kirana segera mendekat.


"Ayah, sini!" Panggil Rianti kepada Orlando Xiao.


"Ada apa Mah!?" Tanya Orlando yang masih menuntun Rendy.


"Calon menantumu ini ingin memberikan mahar untuk Juli. Bisakah kau mengurusnya. jika dia berbohong lempar saja ke kandang Babi" Ucap Rianti yang memang tidak percaya dengan bualan anak muda. Dulu suaminya Juli menjanjikan hidup yang lebih baik dan juga berkata dia adalah anak orang kaya.. Tapi nyatanya malah orang tidak terlaku kaya. dan posisi Orlando dalam keluarga menurun bahkan pemasukan tahunan dipotong setengah hanya Karna Juliana tidak berkontribusi dalam peningkatan kekuatan keluarga.


Dengan alasan itu, Cukup untuk menjatuhkan kehidupan mereka.

__ADS_1


Dalam sebuah keluarga pasti ada yang seperti ini. Ada saudara yang hanya demi harta akan rela mengorbankan saudara yang lainnya. Saling sikut dibelakang. saling senyum dihadapan..


Itulah hidup dalam sebuah keluarga jika sang pemimpin yang mendidik mereka bisa dikatakan salah dalam memperlakukan Anak-anak.


Orlando mendekat. Lalu merangkul bahu Zai dan berkata "Maafkan Tantemu itu Nak, Dia memang sedikit kasar dalam bicara akhir-akhir ini. Tapi Om tau itu bukan maksudnya. Jadi jangan kau masukan dalam hati. Aku tidak pernah memandang calon menantu dari harta ataupun jabatannya. Aku hanya ingin menantu yang baik." Ucapnya sambil menepuk bahu Zai, Dia melanjutkan lagi setelah menarik nafas yang cukup dalam. "Jika kau serius dengannya. Bawa saja lari dia. Aku akan merestuimu, Asalkan kau menjamin bisa membahagiakannya" Bisik Orlando.


Zai merasa hangat pada hatinya. dari awal masuk dia memandang Orlando terlihat tegas dan juga berwibawa. Apalagi tutur katanya yang bersahaja. Tak mungkin dia melepaskan calon mertua yang baik seperti ini.


Zai tersenyum lalu menjawab "Kalau bisa secara terbuka kenapa harus bersembunyi Om, aku tau niatmu baik. Tapi sebagai laki-laki aku tak mungkin melakukan hal tercela seperti itu" Ucapnya sambil menepuk dada pelan.


"Haih..!" Orlando menghela nafas lagi. Dia tak ingin menyusahkan calon menantunya itu dan tak ingin jadi sasaran ejekan seperti suami Juli dulu.


"Ayah! Pinta saja sebuah perusahaan kepadanya" ucap Kirana yang berdiri disamping Mamanya.


Bagaimana tidak terkejut semua orang mendengarnya jika yang dijadikan mahar adalah sebuah perusahaan.


"Katanya kaya 'kan?" Tanya Kirana sambil menatap Zai dan tersenyum menggoda. 'Sangat tampan pemuda ini, Akan sangat sayang jika Juli yang mendapatkannya. Pasti dia juga sangat gagah diranjang!' Kirana memikirkan sebuah skema setelahnya.


"Diam kamu Kirana! tidak ada yang menyuruhmu untuk bicara" bentak Orlando. Pemintaan itu sangat menekan pikirannya.


Tapi Zai hanya tersenyum saja menanggapi itu semua. Zai tentu tidak ingin direndahkan. sebagai Pemilik Sistem Konglomerat. apa yang dia takutkan dengan hanya memberi sebuah perusahaan. Masih ada banyak yang lainnya lagi.


"Baik. Aku akan memberikan Sebuah Perusahaan sebagai Maharnya dan juga sebuah Mobil serta sebuah rumah. Apakah kau setuju untuk menikah denganku Juli?"


Zai mengeluarkan sebuah cincin yang diam-diam dia beli dari Shop sistem. Dengan Lingkar cincin yang disesuaikan. dia menatap Juli sambil menurunkan satu lututnya dan membuka Kotak berwarna merah kecil dengan Cincin berlian di dalamnya yang membuat mata semua wanita tertuju kedalam Kotak kecil itu.

__ADS_1


"Berlian merah yang indah!" Seru salah satu dari wanita yang ada disana. dia sangat mengenali warna dan bentuk serta motif cincin seperti itu hanya bisa dimiliki oleh orang-orang kelas dunia.


"Betapa beruntungnya Juli" Sahut yang lainnya yang mendengar seruan itu.


__ADS_2