Sistem Konglomerat

Sistem Konglomerat
Berakhir


__ADS_3

Zai berdiri dengan tenang melihat para tentara yang berlarian mengejar ke arahnya. Dia tetap memasang wajah santainya. Namun ketika semua orang hampir berjarak sepuluh meter saja. Sebuah senjata barat dengan peluru yang banyak menjuntai ke lantai arena muncul di hadapannya dan dia pun langsung terbang kemudian menembaki semua orang yang ada.


"Tembakan dari atas sungguh sangat menyenangkan" ucapnya. Dia merasa seolah bermain game ayam, perbedaannya itu dunia nyata dan ada begitu banyak orang yang harus ditembak.


Suara tembakan terus terdengar memekak telinga, ditambah teriakan pilu kematian dari para tentara. Setiap tembakannya satu orang tumbang.


Notifikasi dari sistem terus berdering di kepalanya membuat dia harus menonaktifkan suara otomatis untuk sementara waktu.


"Sial! Senjata macam apa itu yang bisa mengeluarkan besi kecil dan membunuh banyak orang dalam hitungan menit" jendral perang terkejut dengan kejadian yang tak terduga di hadapannya. Dia sangat frustasi. Bagaimana tidak? Dia berharap ratusan orang itu dapat menguras tenaga dari lawan. Tapi malah tidak bisa mengeluarkan setetes pun keringan lawan. Hal itu membuat hatinya ketir. "Berpisah. Jangan menumpuk dari beri serangan dari segala arah!" Perintahnya kepada tentara yang tersisa.


Hahaha Zai tertawa lantang. Dia sangat senang melihat raut wajah kepanikan semua orang yang ingin menyerangnya.


Jika di bumi dia tidak akan melakukan hal ini. Sebab akan ada kegaduhan yang terjadi dan akan menjadi masalah yang besar dan berbuntung panjang. "Mumpung berada di dunia seperti ini. Aku harus menuntaskan mereka para penghianat negara" gumam Zai. Dia membuang senjata itu karena pelurunya habis. Dan mengambil senjata lainnya. Berupa bom kecil-kecil sebesar kepalan tangan bayi dan melemparkannya ke arah tentara. Sebelum itu dia membuat formasi penghalang. Agar efek ledakan tidak mengenai para penonton yang masih tidak sadarkan diri.


Boom! Rentetan ledakan langsung menghamburkan dan semakin memecah pasukan yang sudah terpecah. Mental mereka hancur. Bagaimana tidak? Mendekat saja susah apalagi memberikan serangan telak!


Tanpa henti Zai melempar bom kecil di tangannya yang terus muncul. Dia menghamburkan poin tukar dengan sembarangan karena dia mendapat begitu banyak sampai-sampai sistem malas memberikan notifikasi karena memang tidak diaktifkan fungsinya.


Jendral perang tak bisa menahan kegilaan dirinya. Pusing kepala. Matanya terasa berkunang karena setiap tentara yang mati itu dia latih sendiri dengan harta dan keringat yang banyak. Untuk membuat suatu pasukan yang siap mati kapanpun memang membutuhkan sumber daya yang besar.


Kini dia terduduk dengan posisi lutut yang menyentuh tanah dan meraung murka. Tiada daya dan upaya. Hanya bisa melihat kematian semua orang yang dianggap sebagai anak didiknya.

__ADS_1


Zai turun dari ketinggian dan berdiri tepat di hadapan Jendral perang. "Apa kau ingin menentang lagi? Jika iya katakan secepatnya!" Perintah Zai dengan penekanan aura ranah raja bumi tahap puncak dan dengan niat membunuh yang diarahkan langsung kepada Jendral perang seorang.


"Ampuni aku" suaranya terbata, dia merasakan lehernya tercekik oleh niat membunuh itu. Namun Zai tidak melepaskannya begitu saja. Tak ingin menumbuhkan duri suatu hari nanti. Dia pun langsung mengibaskan tangannya.


Duar! Kepala jendral perang itu meledak.


Zai terbang ke arah Kang Hong yang terduduk lemah. Dia merasakan hal yang menakutkan dan menelan ludahnya tanpa sadar.


Gluk!


"Mengapa kau termenung? Aku masihlah orang yang kau kenal" kata Zai tersenyum. "Setelah aku pergi dari arena ini. Kau ledakkan kembang api ini. Dan mereka semua akan tersadar kembali. Kunjungi aku setelah kau menjadi kaisar nanti! Kau tau bukan kemana harus mencariku?" Zai memberikan kembang api yang sudah dia berikan penawar racun pelumpuh saraf. Setelah itu dia mendatangi Laila dan menghilang dari tempat itu.


Sesuai amanat Zai. Kang Hong menyalakan kembang api dan beberapa menit setelahnya semua orang tersadar dan sebagian dari mereka langsung berteriak dan berlarian karena melihat banyaknya darah yang berhamburan bersama potongan tubuh yang juga berserakan..


Kang Zhiyun yang sudah sadarkan diri berjalan mendekati putranya. "Maafkan aku. Ini memang ketidakbecusan ku menjadi seorang kaisar. Sehingga hal yang tak patut terjadi harus terjadi." Kang Zhiyun menyesalkan ketidakmampuannya.


"Sudahlah ayah! Semua memang sudah terjadi tak perlu lagi ada penyesalan. Sebaiknya kita membenahi semua ini dan menjadikan hari ini sejarah masa kelam yang akan dicatat di buku sejarang kekaisaran kita"


Keng Siong yang sedari tadi tidak terlihat kini muncul bersama Kang Kong. Dia sebelumnya berlari sebab takut akan terjadi hal yang akan membuatnya terbunuh. Di Perjalanan dia bertemu dengan Kang Kong yang telah mengantarkan Kang Jun ke tempat tabib. Dan kembali bersama.


"Apa yang harus aku lakukan yang mulia Kaisar?"  Keng Siong bertanya sambil merendahkan tubuhnya berlutut dengan sebelah kaki yang ditekuk

__ADS_1


"Perintahkan kepada prajurit yang lain. Bersihkan tempat ini"


[Jendral perang menyebut tentara, karna memang dilatih khusus olehnya, sedangkan Kaisar menyebut Prajurit. Intinya sama hanya penyebutan yang beda]


"Baik kaisar! Hamba mohon diri" jawab Keng Siong.


"Bagaimana denganku tuan?" Tanya Kang Kong


"Kau siapkan penobatan Kang Hong menjadi kaisar selanjutnya!" Perintah Kang Zhiyun. Lalu dia pergi meninggalkan Kang Kong. Bersama dengan anaknya pulang ke kediaman dan akan membicarakan banyak hal.


Di Tempat lainnya. Permaisuri yang mendengar kematian saudaranya begitu marah dan berteriak, di ruangan dimana hanya ada dia dan juga Kang Lei "Jendral Perang meninggal, saudaraku! Mengapa bisa kalah melawan seorang pemuda"


Wajahnya penuh dengan tekanan dan kemarahan, kabar yang tersiar itu begitu memalukan, mencoreng harga dirinya yang membuatnya harus melakukan suatu hal. Dia mengeluarkan pedang lalu menggunakannya untuk bunuh diri.


Sluph! Pedang itu menembus punggungnya dengan gagang yang berada di depan. Darah mengalir dari sana dan juga dari mulutnya.


Setengah malam terlewatkan. Kang Lei tersadar dan bangun dari tempat tidur. Matanya menyapu ruangan dan berhenti tepat di tubuh ibunya. Ada keanehan yang dapat dilihatnya yaitu ada ujung pedang yang berwarna merah beku. Segera dia melompat dan memeriksa. Ketika mendapati kenyataan pahit itu dia berteriak.


"Ibuuuuuuuu! Ibuuuu! Mengapa ibu melakukan hal ini" Kang Lei menangis tersedu dengan tubuh bergetar.


Beberapa prajurit langsung bergegas masuk ketika Kang Lei berteriak. Mereka mendobrak pintu dan melihat tubuh permaisuri yang tertusuk pedang sedang dipeluk oleh pangeran Kang Lei.

__ADS_1


Akhir yang sangat menyedihkan bagi seorang penghianat yang tak ingin menanggung malu dan gunjingan.


Salah seorang bergegas berbalik keluar dari kamar itu dan mengabari kaisar tentang permaisuri yang mati bunuh diri


__ADS_2