
Satu Mobil melaju dengan cepat dijalanan kota hingga menyisir jalur yang cukup sepi, Dengan raungan ganas Bugatti Divo yang menyingkirkan beberapa pengemudi dari jalanan. Tentu mereka tidak ingin membuat pengemudi Bugatti itu marah sehingga mereka melakukan hal itu tanpa perintah.
Memang kekuasaan itu begitu mempengaruhi pandangan serta mental orang lain. Bahkan sikap orang yang kasarpun akan berubah baik jika berhadapan dengan orang berkuasa.
Zai melihat beberapa penjaga pada pintu besi yang berdiri sangat kokoh itu. dengan diapit tembok tinggi, setinggi lima meter.
"Berhenti, Ini wilayah yang dilarang orang masuk tanpa kepentingan!" kata salah satu dari beberapa orang yang berbadan besar itu ketika Zai menengokan wajahnya.
"Aku ingin bertemu seseorang" Zai memberikan sebuah kertas yang merupakan undangan dari pemimpin itu.
"Kami akan mengonfimasinya didalam" Kata orang itu lagi setelah melihat siapa nama pengirim undangan itu.
"Tidak masalah" ucap Zai bersedi menunggu.
Setelah beberapa menit. Penjaga itu datang kembali dan meminta Zai untuk masuk. Yang lain langsung membuka pintu ketika penjaga yang berbicara kepada Zai memberi kode.
Zai melajukan Mobilnya dan menaruhnya diparkiran. Setelah itu dia ditemani oleh salah satu orang di antara penjaga itu menuju Speedboat dan dia mengemudikannya, Menjadi pemandunya. Tidak ada perbincangan diantara mereka.
Speedboat menepi dan Zai melompat begitu pula penjaga itu. Naik melewati beberapa anak tangga. Zai dapat melihat sebuah bangunan bergaya kuno namun dengan pemandangan moderen.
Melangkah sepuluh meter ke kanan mengikuti arahan penjaga. Zai melihat satu bentuk keindahan lagi yang duduk dengan celana pendek ketat dan atasan tengtop tipis yang memperlihatkan sebagian dalamnya.
Penjaga itu berdiri cukup jauh. Sedang Zai berjalan mendekat ke arah wanita itu yang dia tau adalah istri dari Sang pemimpin organisasi yang bernama Mei Chan.
Jecky pernah menunjukan photo Mei Chan jadi dia tidak mungkin salah mengenali.
__ADS_1
"Kata penjaga kau diundang oleh suamiku, Tapi saat ini suamiku sedang dalam pelatihan tertutup untuk menembus tahap selanjutnya"
"Hemm. Datang diwaktu yang tidak tepat rupanya" gumam Zai. "Sebenarnya aku penasaran, Apa yang membuat orang kuat seperti dia mengundangku datang? sedangkan aku hanya orang biasa" ucap Zai yang kini duduk dikursi diseberang Mei Chan tanpa diminta.
Penjaga mendekat, Tapi hanya satu langkah tubuhnya tertahan karna sebuah tolakan dari lambaian tangan Mei Chan. "Kau pergilah" katanya tanpa menatap Penjaga itu.
Wajah penjaga terlihat ragu. Tapi mengingat kekuatan yang ditunjukan oleh Mei Chan membuatnya melangkah mundur kemudian berbalik dan pergi.
"Pemuda yang menarik, Bahkan dia masih bisa bersikap tenang dihadapan teknik pemikat yang kulepaskan.' batinnya memuji pemuda yang tidak berbeda jauh umur darinya itu. Mei Chan mengambik teko dan menuangkan teh wangi melati kedalam gelas kecil dan mendorong gelas itu kedepan dimana Zai duduk bersandar dengan sebatang rokok ditangannya.
Dia mengambil gelas itu tanpa ragu, namun sebelum itu dia menghembuskan asap kedepan dan itu mengenai Mei Chan. tapi Mei Chan tidak marah dengan hal itu. Entah apa yang terjadi.
Panjaga sekitar yang melihat dari jauh keberanian pemuda itu hanya menggelengkan kepala. "Aku yakin dia hanya akan hidup beberapa tarikan nafas lagi" Ucapnya.
Teman disampingnya mengangguk tapi yang lain memiliki penilaian yang lain "Aku bertaruh. Jika lelaki itu mati maka aku akan memberikan kalian berdua masih-masing uang sejumlah lima ratus ribu, Bagaimana?"
"Tapi apa yang kalian taruhkan untukku?" tanya orang itu lagi.
"Jika aku keliru, aku akan memberikanmu satu juta"
"Aku juga" timpal yang satunya. "Sini uangnya dulu, aku yakin dia akan mati sebentar lagi. Sebab tak pernah ada yang berani bersikap seperti itu kepada nyonya besar" tambahnya.
"Tenang, aku takkan mengingkari walau aku kalah. Tapi jika aku menang kalian jangan lari! awas saja kalau lari" katanya menyahut.
"Siapa takut!!" sahut keduanya.
__ADS_1
"Perhatikan saja lagi sembari berjaga"
Zai menyesap teh melati itu dengan senang hati lalu berkata "Kapan pemimpin kalian akan keluar? aku punya kesibukan yang lainnya. apalagi para wanitaku selalu menungguku diranjangnya untuk dibelai" kata Zai, Seraya mengatakan bahwa dia memiliki banyak wanita.
"Aku tidak tau, Jika kau sibuk pergilah. Aku tidak akan menahanmu disini" ucap Mei Chan sedikit dingin.
"Hahaha baiklah kalau begitu. Selamat tinggal, Ugh padahal aku juga ingin membelaimu Tapi sayang kau tidak ingin" kata Zai memundurkan kursi dan berdiri. "Jika kau memerlukan pemuas nafsu, Aku bisa mewakilkan suamimu untuk membantumu menembus kenikmatan dunia. dari wajah terlihat sekali kau belum pernah merasakan hal dimana kau bisa merasakan rasanya terbang diketinggian dan mencapai surga kenikmatan. Atau jangan-jangan kau masih perawan hingga saat ini?" kata Zai seraya mengulurkan kartu nama "Kau bisa menghubungiku" katanya menutup pembicaraan. Lalu berjalan menuju Speedboat yang sudah tidak ada lagi disana.
Mendengar banyaknya kalimat yang seperti menghinanya, Mei Chan naik pitam dia berdiri dan menendang kursi yang dia duduki sebelumnya lalu berkata "Apa kau kira mudah keluar dari sini jika sudah menyinggung harga diriku" tatapnya nyalang dengan amarah yang menggebu.
"Lalu kau mau apa?"
"Aku mau kau menjadi budakku" katanya lalu melambaikan tangannya mengirim sejumlah energi pemikat kewajah Zai.
Zai terdiam seolah dia sedang terkena teknik wanita itu. Dia menyadari ada beberapa kultivator yang sudah mendekat kearahnya. jadi dia hanya diam untuk mengetahui apa yang akan dilakukan oleh wanita itu.
"Hemm.. Sekarang kau tidak bisa berkata-kata lagi tampan" Mei Chan mengelus pipi Zai dan menarik tangannya dan berkata "Ikuti aku"
Mei Chan membawa Zai masuk kedalam kediaman dan entah akan diapakan, hanya Mei Chan yang tau. Zai hanya mengikuti skenario Mei Chan yang merasa dirinya berhasil memikat pemuda tampan itu.
Sedangkan satu diantara tiga orang yang berada dipos jaga tertawa dengan cukup lantang. "Ah aku jadi lupa bahwa aku menang" katanya menyindir dua orang yang pura-pura lupa dengan taruhan.
"Bukankah kita tadi kita cuma bercanda ya, Ndar?" tanyanya sambil mengedipkan mata kepada Andra.
Tapi Gilang sudah memperhatikan gelagat merek dan menangkap lengan keduanya sebelum lari "Ouh... Jadi kalian hanya bercanda ya!! kalau begitu terima ini" Gilang mengayunkan tangannya tanpa henti memukuli keduanya. "Ups!! maaf, aku hanya bercanda" kata Gilang lagi sebelum pergi meninggalkan jejak perih dihati Andra dan temannya atas lebam yang mereka terima.
__ADS_1
Sedang dua orang dari sisi yang berbeda menatap kepergian Mei Chan dan Zai dengan banyak pertanyaan dikepalanya. "Apa kau tau apa yang akan dilakukan oleh Wanita itu?" tanya Gilber kepada Yao Yan yang juga diliputi kebingungan.