Sistem Konglomerat

Sistem Konglomerat
Pertarungan


__ADS_3

Di sebuah pulau yang terlihat sepi setelah beberapa orang yang berlatih itu mati.


Duduk berdua di atas batu. Zai dengan Laila  keduanya menikmati makanan yang sudah disiapkan oleh Laila. Seolah mereka bukan ingin bertarung tapi berlibur. 


"Menurutmu apakah ketua Black Devil akan datang ke sini atau pergi dari pulau ini?" Tanya Zai sebelum mengunyah ayam KFC dan menyedot Starbuck.


"Apakah kau mau bertaruh?" Laila bertanya menatap Zai tanpa berkedip.


"Aku yakin dia akan datang. Menurut perhitunganku, dia tidak akan rela membiarkan aku hidup karena telah menghancurkan gengnya dan juga dua buah rumah kediamannya" ucap Zai sangat yakin


"Yah… kalau begitu tidak ada yang dipertaruhkan lagi dong!" Ucap Laila nampak lesu.


Zai menarik pipi lembut Laila setelah menghabiskan makanannya di tangan.


Tidak menunggu lama. Orang yang ditunggu pun datang.


"Disini kalian rupanya bersenang-senang" Brian datang dan langsung berteriak


"Domba makan rumput sedang menunggu harimau untuk memangsa, ketua!" Bawahan disamping ikut bicara seraya mengejek dengan memasang wajah jelek.


"Sepertinya nyamuk di pulau ini cukup besar sayang, apakah kau mau aku memukulnya hingga tidak bisa lagi berdengung?" Zai bertanya menyentuh dagu Laila dengan santai tanpa melirik dua orang itu yang dianggap mudah saja. Zai sudah mendeteksi kekuatan keduanya. Hanya satu orang yang memiliki tingkat Ranah Bumi jika diibaratkan cultivator kekuatannya. Sedangkan satunya hanyalah ranah inti bumi. Hanya dengan kibasan tangannya pun orang itu bisa mati.


"Tepuklah mereka. Tapi sepertinya yang kecil dulu baru yang besar" kata Laila tersenyum.


Zai berdiri tanpa penundaan dan menghilang. 

__ADS_1


Zai muncul dari belakang orang yang memiliki kekuatan terendah tanpa disadari dan langsung memukul orang itu hingga terbang ke arah Laila, tubuh itu disambut dengan ayunan tangan yang terlihat pelan namun memiliki pukulan dahsyat.


Braaak! Depan dan belakang tubuhnya remuk hingga tak tersisa nafas ataupun ungkapan untuk mengatakan isi hatinya.


Satu orang tumbang dengan cepat hanya dalam dua dua saja. Brian sendiri tidak sempat untuk mencegah kematian anak buahnya itu. Hanya gesekan gigi yang terdengar pelan dan wajah yang merah karena marah semakin menumpuk.


Dia menoleh ke belakang. Masih tertinggal sosok yang memukul bawahannya, dia mengayunkan kaki ke belakang menendang seperti tendangan kuda. Namun Zai tidak mudah dikalahkan. Dia melawan dengan pukulan dan pertemuan keduanya menciptakan angin yang terkompres ke samping.


Wush! Angin itu cukup kencang menghembus sekitar.


Brian terdorong kedepan. Namun dia dapat mengontrol tubuhnya agar tidak terjatuh dengan menampakkan kedua telapak tangannya ke tanah lalu melompat dan mendapatkan pendaratan sempurna.


"Dia cukup kuat, tapi aku takkan kalah begitu saja" gumam Brian. Kembali dia bergerak zig zag dengan melompat tanah lalu melentingkan tubuhnya secara diagonal dan memberikan tendangan dua kaki di udara.


Zai tentu tidak masalah dengan itu. Meskipun saat ini kekuatan sejatinya tertahan hingga ranah bumi tahap awal juga. Sama seperti ketua Black Devil itu. Akan tetapi dia masih yakin mampu mengalahkan lawan dengan mudah. Pengalamannya dalam membunuh lebih banyak daripada Brian. Hanya saja niat membunuhnya yang terkumpul di kekaisaran sedikit tertahan pula. Namun tetap sebagian bisa digunakan. Rencananya untuk lebih melemahkan lawan dulu baru akan digunakan.


Brian yang terkejut hanya bisa pasrah. Namun dia melihat ada pukulan yang mengarah ke wajahnya. Segera dia menyilangkan kedua tangannya membentuk huruf X.


Baam!


Brian terlempar, Zai tidak menunggu brian mendapatkan momentumnya lagi, segera dia bergerak menyusul dengan kecepatannya. Dia muncul di samping Brian, Brian yang tak menduga jelas terkejut dengan adanya Pemuda itu dia menundukan kepala ketika pukulan tangan kanan Zai mengarah kepadanya.


Akan tetapi itu hanyalah tipuan yang dilakukan oleh Zai. Sebenarnya dia sudah menebak arah kemana Brian itu akan menggerakan kepalanya dan dia langsung mengangkat lututnya.


Brak! Brian terpelanting dengan darah yang menyembur di keningnya dan terseok di bekas reruntuhan rumahnya sendiri dan menghilang tertindih atap tak bergerak lagi.

__ADS_1


Setelah itu hening sejenak. Tidak ada pula notifikasi yang didapatkan Zai dari sistem yang menandakan lawan masih hidup. Untuk memastikan hal yang tidak diinginkan terjadi seperti kaburnya ketua Black Devil itu seperti sebelumnya.


Zai mengibaskan tangannya ke arah runtuhan, reruntuhan beton itu segera menjauh dan jalan terbuka setapak untuk Zai lewati. Sampai dimana asal Ketua Black Devil itu terseok. Tidak ada tanda-tanda keberadaan sosok itu. Zai langsung menggunakan indra spiritualnya dan mendeteksi keberadaan pasti orang itu. Akan tetapi. Belum dia menemukannya. Sebuah serangan jarak jauh mengenainya.


Baam! Zai termundur lima langkah ke belakang. Seharusnya di ranah yang sama Zai tidak akan termundur diserang oleh ketua Black Devil itu. Tapi siapa yang melakukannya jika bukan dia.


Zai saja tak percaya dia bisa dikirim mundur sejauh itu. Yang menandakan lawan cukuplah kuat. Zai menatap dimana serangan itu berasal. Kini dia sosok yang menyerangnya.


Bertubuh besar dengan empat tangan berada di badannya. Memiliki telinga panjang seperti kelinci. Memiliki tiga mata di wajahnya dan kekuatan yang berada jauh di atasnya.


Zai terkejut melihat itu. "Apakah dia Brian? Atau memang ada monster di pulau ini?" Zai bertanya kepada Sistem.


Baam! Zai mendapatkan pukulan jarak dekat kali ini. Pukulan empat tangan sekaligus menghantam kepala, dada hingga pinggulnya. 


[Ting… dia Brian yang sudah terkontaminasi hati iblis dan dikarenakan pernah memakan benih Monster yang entah dari mana dapatnya dan pencampuran sel serum kekuatan yang baru aktif. Menjadikannya seperti itu, terlebih dia memiliki kekuatan ranah raja langit sekarang] jawab Sistem.


Laila muncul dan menangkap tubuh Zai yang terpelanting sebelum menapak tanah, dia pun bertanya "apakah kau baik-baik saja?"


"Aku tidak apa, terima kasih sudah menangkapku. Aku hanya lengah saja tadi" ungkap Zai. Dia menetralkan rasa sakitnya dengan Qi ditubuhnya. "Kau cukup duduk manis. Dan biarkan aku yang menyelesaikannya!" Pinta Zai kepada Laila.


"Apa kau yakin, dia berada di ranah yang sama denganmu jika tingkatanmu tidak ditahan oleh peraturan dunia ini. Jika tidak, kau akan mudah mengalahkannya.


"Aku masih memiliki banyak senjata dan juga aku ahli formasi. Meskipun kecil akan menjadi bantuan disaat kritis" ucap Zai. Selesai berkata serangan datang lagi ke arahnya. Segera Zai membentangkan tangannya. Muncul sebuah senjata yang tidak lain adalah pedang dewa matahari yang menyebarkan aura panas.


Namun hal itu tidak membuat Brian mundur satu langkahpun. Kini sosok besarnya melambung tinggi dan menembakan sebuah laser yang memanjang.

__ADS_1


Wush! Udara bergetar ketika Zai juga mengirimkan sabetannya ke atas dan mempertemukan kedua serangan itu.


Boom!!


__ADS_2