Sistem Konglomerat

Sistem Konglomerat
Melawan ular setengah naga


__ADS_3

'Tampilkan status'


[Ting…]


[Tuan rumah: Zaidul Akbar]


[Level: Ranah Bumi tahap menengah]


[Poin tukar: 22000 poin]


[Teknik: Teknik naga melahap matahari, Pemahaman 100%: Jari dewa matahari, Pemahaman 20%]


[Senjata: Pedang Dewa Matahari: Pengendalian 50%]


[Poin Peningkatan: 500/20000]


[Kotak hadiah: Kotak misteri (1×) Kotak Gold (1×) Kotak perak (1×)


[Kondisi: Sehat]


[Misi: Membantu putra mahkota naik tahta]


[Inventori : Semua keperluan tuan rumah]


'Laila, dimana kamu sekarang?' Zai bertanya melalui pikirannya.


'Sedang berada dalam kamar, apakah tuan muda mau aku jemput atau datang sendiri?' Laila gantian bertanya dengan sedikit candaan menggoda.


"Sepertinya kau sudah ketularan sifat manusia. Hingga bisa menggoda tuan muda mu sendiri ya, Laila?! Tunggu aku dikamar, aku akan datang!" Zai bergegas menjawab.


Apakah semua akan menjadi hal yang seperti dibayangkan?


Zai berjalan cukup cepat. Dia tau posisi Laila melalui jaringan Gps yang ada di layar biru yang terus berkedip dan tak lama kemudian dia pun menemukan sebuah kamar. Tanpa mengetuk. Zai mendorong pintu itu dan masuk kedalam.

__ADS_1


Sebuah keindahan terpampang nyata di hadapannya. Laila layaknya manusia pada umumnya. Dengan lilitan handuk yang ada pada badannya. Rambut yang basah terurai menggoda. Dengan kecantikan rupa yang sulit mencari bandingannya. Wanita itu menatap cermin yang memantulkan pesona miliknya.


Zai meneguk ludahnya dalam. Untuk kedua kalinya dia menatap Laila dengan terkesima. Namun segera dia menggelengkan kepalanya. Dia masih tidak yakin, apakah Laila bisa melakukan sesi bercinta layaknya manusia?


Setelah menutup pintu. Zai merebahkan tubuhnya yang cukup penat. 'Sepertinya aku harus lebih meningkatkan lagi kemampuanku. Jika lawan berada di ranah yang lebih tinggi. Mana bisa aku menyelesaikan misi ini. Aku harus lebih kuat. Tak ingin seperti kemarin ketika melawan Jun Bai harus kehilangan sistem untuk sementara. Masih untung hanya sementara' batinnya


Laila datang mengacaukan pikiran nya dengan wangi tubuh khas wanita.


"Bagaimana penampilanku tuan Muda? Apakah persis seperti manusia pada umumnya?"


Laila mengulurkan tangannya untuk membuka lilitan ikat pinggang milik Zai. Dia tidak berniat apapun selain ingin menggantikan pakaian Zai yang sudah terlihat kusam.


"Sepertinya ada yang tertahan di sana?" Tunjuk Laila kepada pertengahan tubuh Zai. Ada benjolan besar yang bangun secara tidak sengaja.


"Kau jangan menggodaku seperti itu! Kemana aku harus melampiaskannya jika itu bangun dengan sempurna?" Tanya Zai tanpa menepis tangan Laila yang memberikan sensasi hangat di setiap sentuhannya.


Laila terkekeh seraya menutupi mulutnya. "Tuan bisa kembali ke bumi. Apakah tuan mau bertemu salah satu wanita tuan muda?" Tanya Laila sambil tangannya memberikan pijatan.


"Tidak perlu. Bagaimana jika kamu saja yang melayaniku?" Zai ingin mengetes apakah Laila bisa melakukan hal itu.


"Hais! sudahlah. Aku ingin istirahat saja. Besok kita pergi ke hutan larangan atau pegunungan. Dimana ada binatang buasnya. Untuk meningkatkan kekuatan tempur serta melatih teknik jari dewa matahari dan menambah pengendalian senjata" 


"Tentu tuan muda. Aku akan menjagamu" ucap Laila.


……


Kang Lai kedatangan seseorang yang nafasnya masih tersengal. Entah karena berlari terlalu jauh atau karena fisiknya yang kurang kokoh? Entahlah, tak perlu memikirkannya


"Apakah ada hal yang penting?" Kang Lai bertanya dengan sedikit menautkan alisnya.


"Menteri Ma tertangkap yang mulia pangeran!" Ucap mata-mata itu menundukan kepalanya. Tak berani menatap junjungannya.


"Bagaimana bisa?" Kaki Kang Lai menghentak ke lantai. Dia seolah tidak percaya hal itu. Dia membuat menteri Ma berpihak kepadanya tanpa sepengetahuan Raja Qin dengan iming-iming yang cukup tinggi. Akan menjadikannya menteri kekaisaran. Posisi yang lebih tinggi sangat menggiurkan.

__ADS_1


"Dia mengikuti pemuda itu dan juga Raja Qin yang ingin berbicara empat mata keruangan kerja raja. Namun sesuatu tiba-tiba melukai perutnya. Aku bersembunyi setelah melihat hal itu. Setelah aman akupun kabur. Aku tau dia sepertinya juga menyadari keberadaanku. Meskipun aku sudah bersembunyi dengan sangat baik" kata mata-mata itu.


"Bangsat!" Kang Lai meremas pegangan kursi berkepala harimau itu. Lalu berdiri dari duduknya dan berkata lagi. "Hal ini tidak bisa dibiarkan. Dia sepertinya sudah tau siapa yang menyuruh Menteri Ma untuk berkhianat, kamu jangan kesana lagi. Beritahu yang lain untuk menjaga jarak aman dengan pemuda itu" kata Kang Lai. Dia mengibaskan jubahnya lalu menuju kamarnya diiringi oleh tiga wanita yang selalu berada didekatnya.


"Yang mulia. Bagaimana jika aku yang pergi untuk merayunya dan mendapatkan hatinya agar bisa bergabung denganmu?" Tanya salah satu gadis dengan ide cemerlang menurutnya.


"Idemu cukup bagus. Tapi kau harus berhati-hati. Karena dia juga memiliki wanita yang katanya cantik luar biasa. AkU pun penasaran ingin melihatnya." Ucap Kang Lai seraya membelai dan meremas gundukan pantat wanita itu yang menonjol. Seperti semut rangrang jika menggigit "namun sebelum itu. Lebih baik layani aku lebih dulu" ungkapnya.


Kemudian terdengar suara yang menggema di langit. Seperti seorang yang mencapai puncak surga. Dengan teriakan manja yang penuh gairah.


……


Pagi sekali. Zai dan Laila menghilang dari kamar. Dengan menggunakan perpindahan instan yang dapat dilakukan oleh Laila. Keduanya kembali ke pegunungan Rantai Hitam. Pintu spasial itu tidak bisa membawa keduanya berpindah tempat ke tempat yang belum pernah ditandai atau di datangi.


Muncul keduanya di udara. Zai langsung melihat ular setengah naga dengan kekuatan berada pada tingkat raja bumi. Zai bersemangat meskipun kalah dalam hal tingkatan tapi dia yakin dengan kemampuannya.


Wush! Pedang dewa matahari muncul ditangan kanannya.


Roar! Ular setengah naga itu mengaum dengan lantang. Menandakan dia kuat dan marah ketika dia mencium bau manusia berada dalam lingkup wilayah kekuasaannya.


Segera dia mendeteksi keberadaan mahluk yang mengganggu penciumannya. Dan mendongakan kepalanya.


Terlihat melayang dua orang dalam pandangannya menatap dia yang mendongak.


Ciis! bisa ular setengah naga itu menyemprot ke arah Zai. Laila mundur. Namun Zai tetap maju tapi dia mengelak kesamping hingga bisa itu tidak mengenai dirinya.


Pedang yang diacungkan kedepan langsung menebas kepala ular setengah naga yang besarnya sebesar tiang beton dengan kekerasan kulit yang melebih besi padat.


Namun Zai sudah pernah membunuh naga dengan pedang tidak seperti pedang dalam genggamannya sekarang. Dia sedikit mengetahui bahwa ada celah yang hampir sama pada perut ular setengah naga seperti Naga Jun Bai yang dikalahkannya.


Zai terbang berputar mengitari ular itu. Namun ular itu juga cukup cerdik. Dia terus menggerakkan kepalanya mengikuti kemana arah mangsanya berputar seraya menyemburkan bisa panas yang bisa menghancurkan batu. Racun korosif yang begitu ganas.


Slash! Slash! Zai mengirim serangannya ke tubuh ular. Namun kulitnya memang keras. Dia masih belum menemukan titik lemah meskipun sudah mengitari perut ular itu.

__ADS_1


"Jika tidak Bisa menemukannya. Lebih baik ku panggang aja langsung" gumamnya.


Zai memperagakan gerakan tekniknya lalu berteriak "Teknik kedua, pedang pembunuh naga!"


__ADS_2