
Bandar udara Halim Perdanakusuma, Seorang pemuda tampan keluar dari pesawat.
Zai mencari Taxi dan menuju Urban Villa. dia sudah mengabari kepada pengelola bahwa dia akan berkunjung kesana.
Empat Puluh Satu menit berlalu dengan sekejap. Zai akhirnya sampai pada tempat tujuannya.
"Selamat Siang Pak...! Apakah bapak sudah pesan tempat?" Satpam segera bertanya dengan ramah.
"Hemm, Aku mau bertemu dengan Pak Dikly, Boleh kamu panggilkan" Pinta Zai juga dengan ramah tamah.
"Tunggu sebentar, Saya akan bertanya lebih dulu ke atasan" Sahut nya, Lalu kembali ke Pos dan terlihat mengambil telpon.
Zai menunggu dengan santai sembari menikmati udara yang segar..
"Apakah kalian sudah sampai ditempat tujuan kalian?" Zai segera bertanya melalui sambungan telpon kepada Sadam.
"Kami sudah sampai Tuan, Dan kami juga sudah merencanakan penaklukan malam ini, Tuan tenang saja semua akan beres" Sadam menjelaskan lebih detail ceritanya kepada Zai.
Satpam itu menunggu Pemuda itu mengakhiri pembicaraannya ditelpon, Dia tak berani menyela karna sekarang dia sudah tau identitas pemuda itu.
Setelah Zai menyimpan ponselnya di saku celana, Satpam itu segera berkata "Sebentar lagi Pak Dikly akan datang kesini menjemput Bos" Kali ini dia menunduk.
"Terima kasih banyak, Aku suka dengan orang yang ramah, Semoga nanti kau bisa naik jabatan" Zai mendoakannya, Tapi jika memang ada kesempatan Zai pasti akan menaikan jabatan Satpam itu sesuai kemampuan si Satpam.
Terlihat lelaki paruh baya berumur kisaran Empat puluh tahun datang dengan tergesa.
"Maaf Pak Zai membuat anda menunggu" Dikly merasa bersalah membiarkan Bosnya menunggu didepan, Jika menyuruh masuk langsung juga pikirnya kurang sopan.
"Tak apa, Dan jangan terlalu Formal, Bawa santai Aja Pak Dikly" Zai mengulurkan tangannya lebih dulu untuk berjabat dan mereka pun saling berjabat tangan.
"Silahkan masuk Pak Zai, Saya sudah mengosongkan penyewaan setelah Bapak mengabari saya untuk berkunjung" Ucap Pak Dikly sembari berbincang diperjalanan.
__ADS_1
"Tempat ini lumayan bagus, Aku akan beberapa hari tinggal disini, Jika urusan ku belum selesai mungkin akan menambah hari lagi" Ucap Zai kemudian duduk di Sofa yang ada diruangan milik Pak Dikly.
"Duduk saja, Jangan sungkan" Pinta Zai karna melihat Pak Dikly hanya berdiri.
"Saya tidak pantas duduk bersama anda Pak" Sahutnya. karna dia sadar dia hanyalah semut kecil yang mudah di injak jika pemuda ini tersinggung
"Tak perlu sungkan, duduk saja, Kita akan membicarakan semua hal tentang Villa, dari hasil dan gajih kariyawan termasuk gajih mu sendiri disini" Zai segera mengungkapkan maksudnya datang, Selain untuk kunjungan.
Mereka pun berbincang dengan banyak hal dan banyak kertas laporan berada dimeja. juga segelas kopi pada masing masing orang untuk memperlancar urusan.
Zai menyesap Rokok yang dibelinya di Shop sistem dengan harga murah tapi berkualitas. Kini sepertinya dia lebih sering merokok.
Zai menghembuskan Asap dengan membuat lingkaran bulat hingga beberapa kali.
"Kita sudahi saja, Aku ingin istirahat lebih dulu karna besok akan ada banyak kesibukan, Oh ya. jika ada, Siapkan aku mobil buat besok" Pintanya
"Pak Zai tenang saja, Semua akan beres ketika bapak bangun tidur" Sahut Pak Dikly dengan yakin lalu dia mengantarkan Zai ke Kamar utama Villa, Setelah itu dia meninggalkan Zai disana sendirian..
................
Beberapa saat pesanan mereka datang, "kalau boleh tau, "Bisakah aku bertemu dengan manager tempat ini?" Sadam bertanya langsung
"Nanti saya akan beri tahu" Sahut pelayan itu lalu dia keluar dari ruangan Kelas atas.
"Bos, ada tiga orang di ruangan kelas atas yang ingin bertemu dengan mu" Pelayan itu menyampaikan pesan dari Sadam ketika sudah berada diruangan Manager.
"Aku akan kesana, Karna menghargai mereka" Sahut Faisal manager tempat itu.
Waktu kembali berlalu, Faisal pun datang dan langsung masuk saja, Kemudian dia berdiri di hadapan tiga orang yang sedang menikmati minuman dan makanan,
__ADS_1
"Apakah kamu managernya?" tanya Jaya yang bertubuh paling kecil di antar tiga orang itu, Tapi jangan anggap remeh dia. dia ahli dalam bidang membunuh dengan satu kedipan.
"iya, Kalian siapa? Dan ada perlu apa kalian mencariku?" Faisal tetap menjaga ketenangan nya, Karna tak di tempatnya ini tak pernah ada yang berani melakukan perkelahian, Jika pun ada, akan mudah diatasi, Karna tempat ini termasuk dalam jangkauan wilayah Dark Moon, Jika ada yang mengusik jalannya usaha mereka, Tentu tinggal menghitung menit saja untuk meninggalkan Nama didunia.
"Apakah ini benar Wilayah Dark Moon?" Sadam yang kini bertanya dengan nada santai dan sedikit acuh.
Faisal sedikit terkejut karna mereka tau siapa dibalik Fable Club ini berdiri.
"Siapa sebenarnya kalian? dan ada maksud apa kesini?" Faisal bicara dengan nada sedikit lebih tinggi dari sebelumnya.
Jani segera berdiri dengan sebotol Koktail ditangannya dan berkata, "Kami hanya ingin berbisnis saja dengan Organisasi Dark Moon, Bisa kah kau menjadi jembatan untuk kami bertemu dengan salah satu perwakilan dari Organisasi ini?"
Sedikit peluh membasahi punggung Faisal, Ketika matanya menatap mata Jani, Seperti dia adalah mangsa yang begitu mudah dimangsa jika melakukan kesalahan.
"Aku akan menelpon orang yang bertanggung jawab masalah keamanan di sini" Ucap Faisal, segera dia menjauh kesudut ruangan dan mengambil ponsel di sakunya dan berbicara beberapa detik, Setelah itu dia menutup telpon dan menyimpan kembali ponselnya.
Sepuluh orang segera masuk kedalam ruangan kelas atas tersebut dan melihat Faisal berdiri saja disana dengan satu orang yang juga berdiri melihat ke arah bawah, dimana Dj sedang memainkan musiknya. dan dua orang duduk dengan santai menyilangkan kaki.
"Apakah mereka yang ingin bertemu dengan ku" Tanya orang itu kepada Faisal.
"Benar" Faisal segera menjawab
Sosok itu maju, "Aku adalah ketua perwakilan wilayah sini, Jika ingin berbisnis bukan disini tempatnya dan bukan Aku yang memutuskan apakah bisnis itu bisa dilakukan atau tidak, ikuti aku" Pinta orang itu kepada Sadam yang terlihat paling besar disana.
Sadam dan Jaya segera mengikuti mereka tanpa berkata begitu pula dengan Jani.
"Kita akan pergi ke markas besar Dark Moon, Masuklah ke Mobil" Perintah orang itu lagi.
Lagi mereka bertiga dengan percaya diri memasuki Mobil itu dan Mobil itu segera melaju dijalanan Kota hingga menuju pinggiran laut dan berhenti di banyaknya Kontainer.
Sadam tersenyum melihat mereka keluar satu persatu lalu berkata "Sepertinya mereka ingin melenyapkan kita"
__ADS_1
"Mereka tidak tau saja bahwa mereka menggali lubang kuburan sendiri" Cibir Jaya.
"Keluarlah, Kita sudah sampai" Ucap sosok yang berkepala plontos itu.