
"Aku tak mau tau, Kau harus mendapat informasi nya yang akurat,"
"Saya pastikan besok informasi nya akan berada di meja anda Bu Fatma" Sahut seseorang di seberang sana.
"Bagus, lebih cepat lebih baik.." Ucap nya lagi lalu memutus sambungan telpon.
Lalu dia menggenggam tangan seseorang dan berkata "Sayang, Cepat sembuh" ucap nya lembut.
-
-
Sedang kan di sisin yang berbeda. Di tempat Mc sekarang berada.
Ting Tong, Ting Tong suara bel terdengar nyaring di dalam.
Suara langkah kaki terdengar dari dalam rumah.
Ceklek ceklek!
Pintu pun terbuka menampilkan sosok indah yang menggugah selera. Dengan kaki jenjang nya yang putih dan mulus. Memakai celana pendek, dan dengan baju tipis menggoda berlengan pendek, dengan senyum yang tak kendur dia mengeluarkan suara lembut nya. "Jika sebentar lagi kamu tak datang, maka aku yang akan kesana untuk menyeret mu, Silah kan masuk" Ucap nya membuka pintu lebih lebar.
"Hoho tenang lah tuan putri, Aku datang bukan hanya sekedar datang, Aku membawakan mu sesuatu" Ucap pemuda itu yang tak lain adalah MC tercinta.
Jeng jeng jeng, Zai memberikan Setangkai bunga mawar yang dia simpan di balik punggung nya.
"Kenapa mesti repot mencari bunga di tepi jalan, Jika ada bunga di rumah sebelah yang menunggu" Ucap Aisya tersenyum manis, tapi dia tetap menyambut bunga yang di berikan oleh Zai dan membawa nya masuk, Zai mengikuti dari belakang menuju meja makan yang sudah di isi tiga orang..
"Salam Kakek, Nek, Om" Ucap Zai menyapa dengan sopan.
Kakek Aisya dan Ayah nya hanya melirik setelah itu makan lagi.
"Sini duduk Cu" Nenek sofia menarik kan kursi di samping nya dan menyuruh Zai duduk disana.
"Makasih Nek" Ucap nya lalu dia duduk disana dan terlihat Aisya mengambil kan Zai piring serta nasi dan juga lauk beserta sayur bening.
"Makan yang banyak, Biar tambah Gede" Ucap Nenek Sofia dari samping
Zai mengangguk dan Aisya juga duduk di sebelah kiri Zai lalu mereka makan tanpa ada suara orang berbicara, Hanya dentingan sendok dan garpu yang beradu dengan piring.
__ADS_1
Setelah selesai makan tiga orang kini berada di ruang tamu saling berhadapan, Antara Zai, Ayah dan Kakek nya Aisya.
"Seperti nya aku akan di introgasi" Batin nya, Melihat dua tatapan tajam yang mengarah kepada nya. Seperti mata anak panah yang siap di lepaskan menuju target.
Zai duduk diam. Lalu mengambil cangkir yang berisikan kopi. Dia pun menyeruput nya.
"Kau bekerja dimana?" Kakek Supardi memulai pembicaraan
"Aku masih kuliah Kek" Sahut nya sambil memandang wajah Kakek Supardi yang terlihat serius.
"Apa hubungan mu dengan Anak ku Aisya?" Kini Ayah nya Aisya yang bertanya.
"Kami teman dekat, Om!" Sahut Zai normal.
"Kalian terlihat sangat serius, Membahas apa?" Ucap Nenek Sofia yang datang dari dapur langsung duduk di samping Kakek Supardi. Membuat Ayah Aisya yang ingin bertanya menghentikan pertanyaan bersambung nya.
"Kami hanya berkenalan sedikit Ibu tentang pekerjaan dan hubungan Dia dengan Aisya, Agar lebih dekat saja" Ucap Ayah nya Aisya.
"Ooh cuma itu, Tapi seperti nya wajah kalian terlihat menyimpan sesuatu, Ada apa?" Tanya nenek Sofia lagi sambil menaruh makanan ringan di meja ruang tamu
"Jujur saja, Aku tak suka jika dia dekat dengan Cucu ku, Aku sudah mencarikan calon yang lebih mapan untuk Aisya dan dia sudah bekerja sekarang menjabat sebagai CEO di perusahan yang di dirikan oleh ayah nya, Kakek sudah mengundang nya, mungkin sebentar lagi dia akan sampai" Ucap Kakek Supardi dengan kejam tanpa perasaan.
"Kakek, Aku tak ingin di jodoh kan" Ucap Aisya dari belakang.
"Ini demi kelangsungan keluarga kita juga Aisya, Kau cucu satu satu nya yang kakek miliki, Kakek tak ingin hidup mu sengsara hanya karna kau memilih orang yang salah"
"Ini bukan untuk kebaikan Aisya, Pasti ini demi keuntungan bisnis kakek" Teriak nya lagi tak terima.
Zai hanya diam mengamati situasi. Dia tak mungkin ambil pusing malah seperti ini. Jika masalah mapan, Dia masih punya uang yang cukup untuk menghidupi anak orang, Dua atau tiga pasti mampu.
"Aisya diam" Teriak Ayah nya. "Kau tau apa, Sedikit pun kamu tidak mengerti" Tatapan tajam itu membuat hati Aisya sakit Dan air mata nya terus menetes.
Ting tong, Ting Tong Bel berbunyi!
"Nah, Mungkin itu dia, Aisya bukakan pintu" Perintah Kakek Supardi
Aisya enggan, tapi dia tetap melangkah keluar dan membukakan pintu.
Terlihat disana seorang lelaki yang berperawakan tinggi dengan kulit putih. Memakai setelah mahal dan juga membawa sebuket bunga mawar.
__ADS_1
"Bunga yang cantik untuk mu yang cantik" Ucap nya lembut penuh dengan kesopanan.
"Masuk lah, Kakek menunggu mu"
Sebenar nya mereka juga sudah saling kenal. Karna kakek nya sering membawa nya untuk mengenal mitra bisnis kakek nya.
Orang itu masuk dan menunggu Aisya menutup pintu, lalu mereka berjalan bersama,
"Cocok kan mereka sayang, satu cantik yang satu nya tampan" Ucap Kakek Supardi kepada Nenek Sofia yang hanya diam.
Nenek Sofia memandang Zai dengan wajah kuyu, dia merasa bersalah tapi suara nya disini tidak akan di pakai. Karna dia tau suami nya jika sudah mengingin kan sesuatu akan sulit merubah nya.
Kakek Supardi berdiri menyambut lelaki itu. Dan dia memeluk nya. "Apa kabar? Bagaimana dengan ayah mu, Apakah sehat?" Tanya nya dengan ramah sambil teetawa kecil
Terlihat sekali perbedaan dalam penyambutan, Zai tersenyum kecut melihat itu semua. Seolah menunjuk kan kepada nya Uang lah yang berkuasa. Dan uang lah yang bisa menentukan segala nya.
"Semua nya baik baik saja Kek, Ayah juga titip salam buat Kakek dan memberikan ini" Ucap nya langsung merogoh saku nya terlihat sebuah kado berbentuk kecil.
"Hahaha Repot sekali, Sempat sempat nya menitip hadiah"
"Tidak Repot Kok Kek, Kata Ayah buat Calon kakek apa pun bisa di berikan" Mata nya sambil melirik seseorang yang duduk di sofa.
"Kalau begitu sampai kan terima kasih kakek atas hadiah nya, Duduk lah.." Ucap nya lalu menatap ke arah Aisya, "Aisya bikinin minum untuk tamu terhormat kita ini" Kata nya lagi.
Aisya nurut saja, Dia langsung menuju dapur.
"Hallo Om, Bagaimana kabar Om?" Lelaki itu mengulurkan tangan nya dan di sambut baik oleh ayah nya Aisya.
"Baik saja Nak, Bagaimana dengan mu?"
"Aku tentu baik Om, Seperti yang om lihat sekarang" Sahut nya lalu mengalih kan pandangan nya kearah Zai. "Dia siapa Om? Belum pernah lihat" Tanya nya lagim
"Dia teman nya Aisya, dia berkunjung sebentar, Mungkin sebentar lagi akan pulang" Sahut Ayah nya Aisya.
Mendengar kalimat itu, Otak di kepala Zai terasa mendidih. "Ini seperti mengusir nya" Batin nya. Dia merasa ditindas secara mental
"Oh teman saja, Kenal kan nama ku Benny, Aku bekerja di perusaan ayah ku di bidang properti dan aku menjabat sebagai CEO disana" Dia mengulurkan tangan nya kepada Zai.
Zai merasa saat nya dia menjadi sombong. Jika berhadapan dengan orang sombong.
__ADS_1
"Hai, Aku Zaidul Akbar, Biasa di panggil Zai. Dan aku pemilik Sky Pavilun" Ucap nya sambil tersenyum