
Banyak kerumunan orang yang berkumpul di parkiran, karna melihat ada empat orang yang sudah menjadi mayat.
Anton keluar dari mini market, Dia segera melihat Mobil yang di jadikan target sudah tidak ada lagi. dan hanya melihat kerumunan orang yang berkumpul.
"Ada kejadian apa?" tanya Anton kepada salah seorang disana.
"Ada empat mayat yang meninggal, sepertinya mereka keracunan" jawab orang itu.
Anton segera menghubungi Parno "Kamu dimana? Mana orang yang aku tugaskan untuk mengawasi tiga orang itu?"
"Aku di toilet bos. lagi sakit perut" Sahutnya cepat-cepat menaikan celananya.
Sedang anton mendekat lagi kearah kerumunan dan masuk denga pamsa dia menggunakan dua tangannya. "Beri aku jalan!" tatapnya dengan sebuah tatapan tajam. Dengan terpaksa orang yang terkena tangan Anton mundur. Meskipun kesal tapi mereka tidak terlalu mempermasalahkannya. apalagi ketika melihat Anton menyentuh salah satu dari empat mayat itu.
"Mengapa kalian bisa seperti ini" gumamnya sendiri. Dan memeriksa tanda-tanda yang mencurigakan. dia mendapati sebuah jarum yang sangat kecil tertancap di leher belakang. Lalu dia memeriksa tiga lainnya dan mendapati hal yang sama. "Keterampilan apa ini yang bisa menggunakan jarum sekecil ini untuk membunuh" Tubuhnya bergidik ketika membayangkan hal itu. Segera dia berdiri dan pergi meninggalkan empat mayat itu.
Anton pergi ke Mobilnya dengan cepat, Tanpa menoleh lagi ke belakang, Sedang Parno juga bergegas ketika melihat Anton sudah berada didepan Mobil.
"Sepertinya Anak buah kita yang dikirim kedalam untuk mengawasi mereka juga menghilang. aku mencari mereka, Namun tidak menemukannya." ucap Parno setelah dekat. dia membukakan pintu Mobil. Lalu menutupnya, Ketika Anton sudah masuk kedalam Mobil. Segera dia menuju pintu kemudi dan memasukinya
"Sial, Empat orang yang diperintahkan Menunggu dimobil, Mati!" Dengan kesal Anton menepuk kursi yang disandari oleh Parno
"Apa? kok bisa Bos?" Parno terkejut ketika mendengarnya. Karna memang dia tidak tau. Dia meninggalkan empat orang itu ke Toilet sekalian mengecek dua orang yang didalam yang tidak juga keluar untuk laporan.
__ADS_1
"Aku juga tidak tau, Tapi mereka seperti keracunan. Entah metode apa yang anak itu lakukan. Tapi aku menemukan jarum yang sama berada di Tubuh empat orang itu... Kita kembali ke Rumah Ayah Angkat. aku harus membicarakan masalah ini dengannya."
"Baik Bos.." Diperjalanan mereka tidak saling bicara. Parno takut menjadi sasaran jikalau dia mengajak bicara orang yang lagi kesal.
.............
Di sisi yang berbeda. Didalam sebuah kamar Hotel yang cukup luas. Zai memesan kamar terbaik yang ada dihotel itu. Tiga orang sedang bermandikan keringat. Meski menggunakan Full ace, Namun tidak mendinginkan suasana yang ada didalam kamar itu.
Mereka bahkan tidak memikirkan orang lain yang berada disebelah yang tertekan karna mendengar jeritan kesenangan. Meski yang dipakai kamar kedap suara, Entah mengapa suara pertarungan mereka tetap bisa terdengar. Apakah karna jeritan kesenangan yang di teriakan terlalu kencang? Mungkin saja itu penyebabnya!
"Sial! Obat apa yang dikonsumsinya hingga sudah satu jam terlewat jeritan-jeritan kesenangan masih terdengar. Ini membuatku tertekan" Gumamnya.
Tak jauh berbeda dengan dirinya, Pasangannya juga terbengong mendengarkan suara-suara berisik itu, Hendaknya dia menghubungi pihak hotel untuk mengusir orang sebelahnya. Namun dia menyadari bahwa yang dapat menyewa kamar di Hotel ditempat itu adalah orang-orang kaya saja. jadi dia mengurungkan niatnya.
"Sayang! Kapan aku bisa seperti itu?" Tanya sang wanita menatap pasangannya
"Cih.. Satu saja kau tak sanggup. Mau dua segala, Bulshit!" bibirnya mendecih lalu dia mengambil pakaian dan pergi.
Sedangkan si Pria terbengong. "Sangat sial, Ini karna ulah orang sebelah." Gumamnya. Dia menunggu hingga aktivitas mereka berhenti untuk melabrak. Karna akan tidak nikmat jika diganggu pas lagi nyaman-nyamanya.
Dua jam berlalu, Hingga akhirnya redam suara kesenangan yang menggema. Segera dia keluar dari kamar itu dan berjalan ke kamar sebelah. Dia mengetuk Pintu. Beberapa kali Hingga terlihat pintu yang ditarik kedalam.
Zai melihat orang yang cukup tua. Dia seperti mengenal orang itu. ada bagian dalam ingatannya yang mengatakan bahwa orang dihadapannya adalah seorang yang dikenal.
__ADS_1
"Ada apa Ya!?" Zai bertanya dengan pura-pura saja tidak tau. Mungkin orang itu juga tidak tau siapa dia.
'Wajahnya sangat tidak asing, Siapa pemuda ini?'
"Kau terlalu berisik, Aku tidak bisa tenang. Kau harus memberikanku Kompensasi" Ucapnya menagih dengan telapak tangan menengadah.
"Haha." Zai tertawa mendengar orang tua itu menagih kompensasi, Cukup nyaring hingga beberapa orang yang lewat memperhatikan mereka berdua.
Orang tua itu pun jadi salah tingkah. Menambah kesal apa yang ada dalam hatinya. Dengan dua tangan yang terlipat didadanya, Zai pun berkata. "Tidakkah kau malu kepada ponakanmu sendiri, Meminta uang seperti ini, Bekerjalah paman dengan baik. jangan membuat malu keluarga" Ucapnya lalu mundur dan menutup pintu.
Orang tua itu merasa sangat Malu di tatap orang-orang dengan tatapan kasian. "Sunggu paman yang tidak tau Malu, Meminta uang dengan ponakan" Ucap mereka, Lalu bubar.
Sedangkan Zai tertawa dibalik pintu, Dia merasa puas dengan apa yang baru dia katakan. Dulu dia sewaktu kecil meminta uang kepada Pamannya itu, Ketika kedua orang tuanya meninggal, Namun tidak pernah diberi uang malah diberi pukulan. Hingga saat ini rasa dihatinya itu masih membekas sangat dalam. dia sudah ingat dengan jelas siapa orang tua itu.
Dia Alfi Kakak dari ibunya. Keluarga ibunya cukup beruang, Namun karna menikah dengan Zaydan, Ayah dari Zai. Ibunya dibuang dari silsilah keluarga. Hingga Zai sendiri sebagai cucu dari keluarga yang cukup besar tidak pernah dianggap.
Alfi pergi dari pintu kamar Zai dengan kedongkolan hati yang besar. "Sial sekali aku hari ini, Kehilangan Selingkuhan. ditambah pemuda yang mengesalkan. Siapa sebenarnya dia? Kok aku merasa sangat tidak asing ya! ah-sudahlah." Gumamnya.
.............
"Begitulah ceritanya, Ayah!" Anton menceritakan hasil yang dia dapatkan dan kehilangan Empat orang bawahan. meskipun tidak terlalu berharga, Tapi rasanya sangat tidak nyaman.
Bram memanggut-manggutkan kepalanya. Dia hendak bicara, kemudian terdiam kembali. terlalu lama bahkan untuk mengingat adakah musuh dimasa lalu yang memiliki keterampilan seperti itu.
__ADS_1
Namun dia tidak berhasil mengingatnya 'Mungkin orang ini hanya musuh baru yang tidak tau siapa lawan' Batinnya berkata setelah lama terdiam.
"Kita harus mencari Penembak jitu dan bunuh orang ini dari kejauhan. jika dia tidak bisa didekati, Berarti cara ini adalah yang paling efektif." Ucap Bram sambil memijit kepalanya yang sakit