Sistem Konglomerat

Sistem Konglomerat
Kebersamaan dirumah Alisya


__ADS_3

Mata Elang terkejut melihat Aksi dari salah seorang yang melakukan pelepasan kuku milik Kucing Orange. Dia merasa ngilu pada kaki nya. Dan sempat terlintas dalam benaknya, Jika Kucing Orange pingsan, Otomatis dia yang akan menjadi korban selanjut nya.


Dia terus menatap ke sosok tersebut, dan dia meronta ingin lepas dari ikatan, tapi tali yang mengikat nya begitu kencang.


"Jalu pegang kakinya" Ucap Udin, Jalu medekat dan menduduki kaki Mata Elang kemudia Udin langsung mencongkel kuku ibu jari kaki Mata Elang.


Sekali lagi teriakan memilukan terdengar. "Jika kau mau mengatakan nya sejak awal, Kamu tak akan menjadi begini!" Ucap Udin sambil menarik Jari kaki selanjut nya dengan tangan kirinya.


"Ba-baik aku akan mengatakan nya" Mata Elang yang menangis tak kuasa menahan sakit dengan air liur yang menetes dia mengatakan yang sebenarnya, Tentang siapa yang menyuruh mereka berdua.


"Tolong lepaskan aku!" Pinta nya memelas setelah bercerita.


"Bukan aku yang memutuskan kalian berdua bisa bebas, Tapi Bos kami, Untung nya dia tidak ada di sini, Jika tidak kalian akan merasakan kekejaman nya yang melebihi kami menyiksa" Ucap Torax yang duduk di kap mobil Avanza bersama Handoko.


"Apakah Bos masih tidak bisa di hubungi Pak Han?"


"Masih belum bisa, mungkin saja di kampung Alisya tidak ada signal, Tapi aku sudah Chat dia, dan menceritakan Hal yang terjadi kepada Nyonya Lina" Sahut Handoko.


"Semoga saja bos cepat pulang" Ucap Torax lagi sambil mengeluarkan Rokok dan menyalakan pemantik nya


"Kau benar, Informasi nya juga sudah kita kantongi, Jadi lebih baik menunggu perintah, Antarkan aku kembali ke Sky Pavilun, Aku ingin memeriksa data orang itu lebih dulu"


"Din, Antarkan Pak Handoko ke Sky Paviliun, Dan beli nasi padang untuk semua orang yang ada disini, Juga satu dus air minum botol, Nih Uang nya"


"Baik.." Sahut Udin mengambil Uang yang di berikan oleh Torax dan meluncur bersama Handoko.


Lima belas menit kemudian mereka berdua sampai di parkiran Sky Paviliun, "Terima kasih Din" ucap Handoko sambil menepuk bahu Udin. Dan udin tersenyum lalu melajukan mobil keluar untuk mencari rumah Masakan Padang.


Handoko naik melalui Lift, Dia langsung menuju ruangan nya dengan bergegas.

__ADS_1


Di ruangan nya, Handoko langsung membuka Leptopnya dan bunyi ketikan keyboard seketika terdengar saling tumpang tindih, Seperti sebuah irama.


Handoko mulai menelpon beberapa orang yang berhubungan dengan perusahaan milik Sadewa. Dan dia meminta untuk memutus semua jalur koneksi ke perusahaan tersebut.


Dengan sedikit penjelasan mereka satu persatu mengerti dan mulai memutuskan secara sepihak.


-


-


Zai tidak tau apa yang terjadi di kota. Dia kini sedang makan bersama keluarga besar Alisya yang berdatangan ketika mendengar Alisya membawa seorang Calon Mantu.


"Alisya, Kerja di mana pacar mu?" Tanya Pak Gintaro


Alisya memandang ke arah Zai sejenak lalu menjawab "Dia Pedagang, Pengangguran Dalam Gang" Jawab nya bercanda. Karna dia sudah terbiasa bercanda dengan Pak Gintato ini karna dia sering berkumpul dengan mereka.


"Dia sekarang tidak bekerja, Dia masih kuliah" Tambah nya lagi setelah melihat mimik wajah pak Gintaro berubah, Entah mengapa padahal mereka sering bercanda.


Ayah nya Alisya hanya diam, Dia tak mempermasalahkan pilihan anak nya, Karna yang menjalani hidup nya nanti adalah Alisya bukan dia, Meski tersirat rasa tidak nyaman, Tapi dia tetap mendukung pilihan anak nya, dia yakin anak nya tak akan salah memilih pasangan.


Mereka tidak tau bahwa Zai mengendarai mobil mahal, Karna mobil itu berada jauh dari rumah Alisya, Hanya Leni yang melihat Mobil mewah itu, Tapi dia tak memikirkan mobil itu milik siapa, Apa lagi setelah mendengar Pacar Alisya tidak bekerja, Dapat di pastikan mobil itu hanyalah mobil rentalan, Setidak nya itu yang dia pikirkan


'Tampan tapi tidak kaya, Mau makan apa' Nyinyir Leni dalam hati.


Juan tersenyum merasa di banggakan oleh calon mertua, Karna sebuah kebanggaan itu adalah hal yang mahal.


"Tidak apa Om, ini adalah pilihan terbaikku" Sahut Alisya dengan senyuman, dia tak ingin mengatakan Bahwa pacar nya lah pemilik dari Sky Paviliun, Jika pun di katakan mana mungkin orang di hadapan nya ini percaya dengan perkataan nya begitu saja.


"Gintaro, Sudah cukupĀ  Sudahi saja Kasian Alisya, Dia punya hak nya sendiri dalam memilih pasangan hidup" Ucap Budiman menghentikan Gintaro yang ingin mengucapkan kata lagi.

__ADS_1


"Aiih,, Padahal ini demi kebaikan nya juga kan, Memang nya kamu tidak ingin punya menantu kaya yang bisa mengangkat derajat kita sebagai orang tua?" Tanya Gintaro sambil memandang Budiman.


"Siapa yang tidak ingin Gintaro, semua orang tua menginginkan nya, Tapi jika pilihan anak nya tidak sesuai dengan kehendak kita, mau berkata apa, Aku akan tetap mendukung anak ku bagaimana pun dan seperti apapun suami nya nanti" Sahut Budiman. Memang sesuai nama nya. Ayahnya Alisya terlihat sangat Budiman.


"Aku juga setuju" Sahut Nordiana yang baru datang membawakan tambahan Air minum.


"Kalian ini, Ah sudah lah, terserah kalian, Anak kalian juga," Gintaro sudah pasrah dan tak lagi membahas masalah itu.


"Kalian bermalam saja disini beberapa hari" Ucap Nordiana kepada Alisya sambil melirik Calon Mantu idaman.


"Seperti nya tidak bisa Ma, sore nanti aku akan kembali"


"Kenapa begitu cepat?" Tanya Nordiana


"Pacar ku ada kesibukan lain besok" lalu dia memberikan pengertian lebih kepada ibu nya dan menceritakan siapa sebenar nya pacar nya itu sambil berjalan ke dapur karna ingin membantu Mama nya menyiapkan makan siang.


Wajah Nordiana terkejut mendengar kebenaran itu 'Untung nya kami mendukungnya, Jika tidak, pasti akan mejadi penyesalan' Batin Nordiana yang tak menyangka pemuda itu lah pemilik Sky Paviliun dan Sekarang Anak nya bekerja di perusahaan itu sebagai asisten pribadi.


Meski dia tak tau menau tentang seberapa besar Sky Paviliun, Tapi dia sering mendengar dari Leni dan Pacar yang mengisahkan kemegahan dan ke besaran Sky Paviliun.


Pada Pukul 12:21 makanan sudah selesai di masak dan di sajikan.


Semua orang yang ada di luar di panggil untuk makan, Dan mereka mendekati tempat makan yang tidak ada meja ataupun kursi.


Terlihat semua masakan sudah berada di piring yang berada di lantai yang beralaskan karpet biasa.


Mereka duduk dan memakan dengan lahap apa saja yang tersaji, Zai pun tidak mempermasalahkan nya, Karna hal ini mengingatkan nya dengan kedua orang tua nya di masa lalu yang makan beralaskan kardus bekas dan makanan yang sangat biasa sekali, Bahkan terkadang dia harus memakan sisa makanan orang lain demi bertahan hidup.


Air mata nya menetes mengingat akan hal itu.

__ADS_1


"Kenapa sayang?" Tanya Alisya yang melihat bulir air di pupil mata Zai dan dia mengulur tangan nya untuk menyeka.


"Aku hanya teringat momen bersama orang tua, Sudah lama tidak merasakan kebersamaan seperti ini" Sahut nya dengan sedikit kebohongan 'Maafkan aku karna belum bisa jujur tentang masa lalu ku, Karna aku belum menemukan alasan yang tepat untuk mengatakan dari mana uang dan semua aset yang ku miliki saat ini berasal' Zai membatin sambil membuka mulut nya menerima suapan dari tangan lembut Alisya.


__ADS_2