
Andre merendahkan kakinya sebelah kanan dan meraih tangan lembut dan halus milik Lidya lalu segera berkata "maukah kau menikah denganku?" Kata itu diulangnya kembali untuk mempertegas bahwa dia tidak berbohong atau bercanda.
Rona merah menutupi putih pipi Lidya. Dia dengan senyum malu berkata seraya menutupi wajahnya. "Aku bersedia" ucapnya.
Dia mendapatkan kejutan yang tak terduga. Tak pernah terbayangkan akan mendapatkan hal ini, dimana Andre begitu berani mengatakan sesuatu yang sudah lama dia tunggu.
Di Bawah tatapan semua orang. Di Bawah tatapan bos. Mereka berpelukan dan tidak terganggu oleh riuh suara penonton dan iringan tepuk tangan.
"Terima kasih banyak atas dukungan kalian semua" ucap Andre dengan segala kesenangan yang terpancar dari wajahnya.
"Makanlah kalian sepuasnya. Hari ini gratis" ucap Zai.
Riuh suara karyawan yang senang kembali terdengar dan tepukan tangan diberikan kepada Zai.
__ADS_1
Setelah itu Zai pergi dari perusahaannya setelah berpamitan kepada Orlando. Dia pergi kerumah Amanda..
Sesampainya disana. Zai melihat ada dua Mobil yang terparkir. Jelas dia mengenali satu. Karena itu adalah yang selalu dipakai Amanda dalam kesehariannya. Entah Mobil siapa satunya.
Zai memasuki rumah dengan langkah pelan. Dia mendorong pintu dan menemukan ada seorang lelaki yang duduk di ruang tamu.
Cukup tampan namun tidak mengalahkan Zai ketampanannya. Dia memakai setelan mahal. Dari jaz. Celana, hingga sepatu terlihat begitu mewah. Namun bukan itu yang jadi fokus utama.
Zai duduk di seberang lelaki yang sibuk memainkan ponselnya hingga tidak sadar akan kedatangannya, memang Zai menggunakan langkah ringan yang berjalan seperti hembusan angin sepoi.
"Sayang! Sudah lama?" Tanya Amanda kepada Zai. Namun yang menyahut adalah lelaki yang sibuk main Ponsel itu.
"Meskipun lama itu tidak terlalu terasa" matanya terbelalak ketika melihat Amanda sedang memeluk seorang lelaki di depan matanya. Tidak sedikitpun dia menduga hal itu, orang yang biasanya tidak pernah bersikap lembut kepada lawan jenis selain dirinya, sahabat yang telah lama dikenalnya dengan baik.
__ADS_1
"Leon! Kenalkan, dia kekasihku!" Kata Amanda dengan senyuman yang bisa mengalihkan dunia seseorang.
Zai mengulurkan tangan dan berkata dengan lembut "Zaidul Akbar, biasa dipanggil Zai!" Ucapnya.
"Leonardo biasa dipanggil Leon!" Katanya menggenggam tangan Zai cukup kuat. Tersirat kebencian di matanya menatap Zai.
Sudah biasa bagi Zai mengalami hal seperti itu. Namun kali ini dia tidak melawan. Akan tetapi lawan terus memberi tekanan untuk membuatnya menyerah atau ingin menunjukan kekuatan yang dia miliki. Segera Zai memberikan Qi berat seperti logam di tangannya. Berharap lawan akan menyerah untuk mencengkram tangannya.
"Leon. Sudahlah! Tak perlu kau mengetes dia. Aku tau kan sangat kuat" ucap amanda. Lalu dia memandang Zai. "Maafkan temanku, dia memang suka seperti itu
"Tidak masalah" sahut Zai lalu meriah pinggang Amanda dengan tangan kiri. Lalu mengecup keningnya.
Hal itu menambah kemurkaan dihati Leon. Membuatnya terus membatin. 'Sial! Apa sih hebatnya lelaki kurus ini. Hingga Amanda terlihat sangat menyukainya, aku tak boleh kalah darinya'
__ADS_1
Namun tangannya sudah merasa kebas. Leon segera melepaskan cengkraman tangannya lalu berkata. "Kau memiliki kekuatan yang lumayan. Jika kamu belajar di tempatku. Mungkin kamu akan menjadi bintang fajar yang bersinar"