Sistem Konglomerat

Sistem Konglomerat
Resto pulang Kenyang


__ADS_3

Masih di pegunungan itu. Satu hari terlewatkan begitu saja. Zai melewati malam bersama dengan Laila yang terus berada disampingnya. Tapi bukan sebagai pasangan kultivasi. Melainkan hanya melewati seperti biasa.


Zai sendiri tak ingin menyentuhnya, sebab berdasarkan pemahamannya Laila ini seperti sosok robot. Keaslian perkakas itu belum bisa dijelaskan oleh logikanya. Tak ingin mencoba. Takut salah arah jadi dia membiarkannya saja. Meskipun Laila begitu cantik bagai bidadari dari surga.


Zai meregangkan semua otot dan sendinya setelah berdiri. Kemudian dia mengajak Laila untuk membunuh beberapa binatang buas yang bisa dijual bagian tubuhnya terlebih mencari poin peningkatan untuk meningkatkan kekuatannya setinggi mungkin.


Zai terbang menggunakan energi spiritualnya. Sedangkan Laila dengan entah dengan apa. Dia seperti tidak memiliki Qi dan terlihat begitu lemah layaknya wanita pada umumnya.


Yang anehnya dia pun bisa terbang, Zai tak bisa memikirkan rumusnya.


Sampai pada gerbang kota. Keduanya turun dari ketinggian. "Sepertinya tuan muda harus menutupi tingkat kultivasi, jika tidak! Mungkin akan banyak yang akan mengincar tua" kata Laila memberi saran.


"Gunakan saja poin penukaran!" ucap Zai


[Poin penukaran terpakai: Selamat Jubah dewa Matahari menghabiskan 8000 poin tukar. Kelebihan Jubah ini bisa menahan dua serangan yang berada satu tingkat di atas ranah Tuan Rumah sekaligus bisa menutupi tingkatan asli ranah tuan rumah]


"Aku percaya kepadamu, bahwa yang kau pilihkan tentu yang terbaik untukku!" Kata Zai tersenyum. "Apapun yang diperlukan untuk masuk ke kota. Pakai saja poin tukar untuk membuatnya" kata Zai lagi.


"Baik tuan muda!"


Mereka berdua bergerak semakin dekat dengan pintu gerbang, dan tak terasa. Waktu yang ditunggu tidaklah banyak. Karena yang diperlukan hanya pemeriksaan biasa saja dan dengan membayar uang masuk ke dalam kota.


Laila sudah membuatkan kartu identitas Zai dan untuk dia sendiri lalu membayar dua ratus batu kristal ungu untuk dua orang.


Mereka terus melangkah lebih kedalam "jadi kita memakai bebatuan itu untuk membayar?" Zai bertanya.


"Benar tuan, dunia yang kita tempati sekarang memakai bebatuan untuk transaksi.

__ADS_1


Alat jual beli disini menggunakan batu kristal. Batu disini juga tidak sembarang batu keras. Ada bebatuan yang berharga dan bernilai jual sebagai transaksi seperti batu kristal ungu adalah yang terendah. Batu kristal biru berada di pertengahan dan terakhir batu Kristal mutiara yang tertinggi. Nilainya satu banding seratus"


"Aku ingin merasakan masakan yang ada di kota ini. Ayo kita ke resto itu"


Resto pulang kenyang tertulis dengan besar di papan nama di bawah tulisan selamat datang. Sebuah resto yang cukup besar terletak di persimpangan jalan.


Keduanya masuk tanpa di hadang oleh penjaga.


Zai mengajak Laila untuk duduk ditempat yang tersudut. Setelah itu memesan makanan.


Tidak berapa lama. Makanan tiba dengan segera.


Zai langsung mengayunkan makanan yang terlihat lezat itu ke mulutnya. Dan dia mengunyah serta mencoba rasa yang lainnya. "Lumayan. Tidak terlalu buruk untuk masakan seperti ini!" Kata Zai memberikan penilaian.


"Hey… Kau tau apa? Masakan disini adalah yang paling disukai oleh semua orang!" Orang sebelah meja Zai bersuara dengan lantang. Dia termasuk pecinta kuliner di tempat itu.


Asap mengepul dari mulutnya. Orang-orang tercengang melihatnya. Asap itu membentuk bulatan dan Zai begitu menikmatinya.


Ada bisik-bisik yang terdengar bertanya


"Benda apa yang ada di tangannya itu?"


"Entahlah, tapi sepertinya itu nikmat!"


Orang itu menggertakkan giginya melihat pemuda itu begitu angkuh.


Terlihat beberapa orang datang dengan pakaian yang cukup bagus. Dan itu terlihat seperti seorang bangsawan.

__ADS_1


"Lihat! Pemilik resto sudah datang, dia bukan orang yang mudah dihadapi. Nikmatilah hari malangmu anak muda. Jika ada yang patut disalahkan? Itu adalah mulutmu sendiri!" Kata orang yang bersitegang dengan Zai. Dia tersenyum dan menantikan apa yang akan terjadi.


"Aku bisa mengurus hidupku sendiri" kata Zai begitu santai.


Empat orang semakin mendekat. Kebetulan dalam satu meja ada empat kursi. Jadi dua orang langsung duduk tanpa permisi. Duanya lagi masih berdiri. Jika dilihat dari pakaiannya. Mereka pasti pengawal.


"Aku mendengar kau mengatakan bahwa masakan yang kami sediakan di resto ini hanya lumayan, berarti kau pernah mencicipi masakan yang lebih dari masakan yang kami sediakan. Tentunya ini adalah suatu hal baru, karena tak pernah ada yang mengatakannya sebelum kamu. Jelaskan kepadaku… Dimana kau pernah merasakan makanan itu? Aku bisa menggratiskan makanan selama satu bulan untukmu jika hal itu terbukti benar. Tapi jika tidak! Kau akan tau nanti akibatnya!" Kata seorang wanita yang cukup cantik itu. Bibir mungilnya terbuka tertutup ketika bicara dan sangat menggoda. Tapi jika dibandingkan dengan Laila masihlah terpaut jauh. 


Jika diibaratkan Laila angka sepuluh. Maka wanita itu hanya angka delapan..


Wanita itu pun merasa tertekan dengan penampilan wanita yang ada di seberangnya. Dia dikatakan adalah primadona di kota Cenayang itu. Namun harus minder ketika ada kecantikan luar biasa di dekatnya. Itu juga sebagian kebenciannya. Namun dia juga terpana dengan pemuda yang kini diajak bicara. Ketampanannya seperti ketampanan dari dunia lain. Tidak ada yang menyamai ukiran wajahnya di alam itu. 'Mungkinkah dia anak keturunan dewa'


"Hmm" Zai melambaikan tangannya. Keluar dua potong ayam Kfc di meja dengan harum yang menggoda. "Cobalah! ini juga berbahan utama ayam" katanya dengan santai. Seraya menghembuskan asap rokok ke wajah wanita itu


Wanita itu jelas jengkel dan mengibaskan tangannya dua kali untuk mengusir asap yang dihembuskan ke arahnya. Lalu dia meminta orang yang sedang bersitegang dengan pemuda itu untuk mencicipi makanan itu.


"Baik manajer Qin!" Orang itu langsung meraih paha ayam yang terlihat sangat montok itu. Dan mengayunkan ke mulutnya. Sungguh detik-detik terasa begitu lambat bagi orang yang melihaTnya.


Ketika paha ayam itu masuk kedalam mulut orang itu, ada sinar mata yang berkilau dan segera kesenangan yang menggoyang lidah dia rasakan. "Ini sangat enak!" Serunya dengan mengayunkan lagi tangannya untuk mengambil, namun hal itu dihentikan oleh manajer Qin dengan kibasan tangannya yang mengenai tangan orang itu.


"Sudah cukup!" Tatapannya tajam "bagaimana penilaianmu. Bisa kamu memberitahuku?"


Orang terlihat begitu menikmati paha ayam yang masih berada di mulutnya lalu mengeluarkan tulangnya "sangat nikmat! Dan ini benar-benar terbuat dari ayam, tapi entah mengapa rasanya sangat berbeda dari rasa ayam kebanyakan yang dimasak." Ucap orang itu memberikan penilaiannya. Lalu dia memandang Zai dengan seksama "maafkan aku anak muda. Jika kamu memiliki lagi, aku bisa membelinya dengan satu kristal biru" ucap orang itu lagi.


"Sebegitu nikmatnya kah? Hingga dia berani menawar ayam yang berbentuk aneh itu dengan harga satu batu biru yang artinya seratus batu ungu"


"Entahlah?! Sepertinya itu memang luar biasa"

__ADS_1


__ADS_2