Sistem Konglomerat

Sistem Konglomerat
Rencana musuh


__ADS_3

Di sebuah tempat yang indah. Matahari bersinar terang namun suasana duka menyelimuti kediaman yang berdiri kokoh tak tergoyahkan.


Sosok anak yang dibanggakan kini telah tiada. Kembali dalam keadaan yang tak bernyawa.


Tangis kesedihan mengisi waktu yang tak berhenti. Sudah dua hari setelah jasadnya kembali. Namun masih tetap berada didalam peti.


Masih berdiri seseorang dengan perawakan besar, tegap dan terlihat tegas. Dia memiliki sorot mata yang tajam. Namun hari ini matanya yang jernih terlihat berurat merah.


Marah? Jelas dia marah. Tapi dia belum tau dalang dibalik kematian sang anak. Melihat dari kematian yang tidak wajar itu membuat hatinya bertanya. Masih ada yang berani mengganggu keluarganya?


Setelah cukup bertarung dengan pemikiran. Dia menggerakkan tangannya, sebuah ponsel keluar dari sakunya. Segera dia melakukan panggilan.


Lalu dia berbalik dan berjalan menengok seseorang yang masih berlutut meski sudah dua hari lamanya di halaman rumah.


"Katakan! Apakah kau tau dia bersinggungan dengan siapa dan untuk apa dia ke negeri itu?" Tiger Wu bertanya. Ada semacam kekuatan yang menyelubungi tubuhnya yang bisa membuat orang tunduk kepadanya hanya dengan melihat matanya.


"Dia ingin menjemput seorang wanita. Namun wanita itu menikah dan di malam pernikahannya, tuan Leon ingin menculik sang wanita dan membawanya ke hotel. dia juga memerintahkan beberapa orang dari geng Black Demon untuk membunuh suami dari wanita itu" kata orang yang berlutut itu.


"Lalu dimana kamu, bukankah aku menggajihmu untuk menjaga putraku?


"Saat itu aku sedang keluar. Diminta oleh tuan Leon untuk membelikan obat tahan lama diranjang. Katanya dia ingin menikmati malam pertama bersama wanita kesayangannya itu dengan kepuasan. Sejak itu aku tidak lagi tahu tentang keadaannya. Hingga aku kembali ke hotel dan mengetuk pintu untuk memberikan obat. Namun tidak dijawab. Cukup lama aku terdiam. Setelahnya aku mencoba untuk masuk karena ada rasa khawatir saat itu. Hingga aku menemukan kamar hotel yang berantakan. Segera aku mencari lokasi keberadaannya menggunakan GPS. Dan menyusuri jalan dan menemukan sebuah markas yang ternyata itu adalah milik dari orang yang menjadi target pembunuhan oleh tuan Leon, jika mereka tidak membuang jasad Tuan Leon saat itu, mungkin aku akan menunggu kedatanganmu Tuanku!" ucapnya.


"Apakah kau tidak menyelidiki latar belakang orang itu?" Tiger Wu terus bertanya. Karena masih tidak puas dengan jawaban yang diberikan.


"Sebelumnya tuan Leon tidak menyelidiki karna menganggap lawan hanya orang kecil dan dia sangat percaya diri dengan kekuasaan yang dimiliki" kata orang itu lagi


Tidak berapa lama datang seorang bodyguard memberitahukan bahwa ada tamu yang datang.


"Suruh mereka masuk!" Kata Tiger Wu.

__ADS_1


Bodyguard itu langsung berlari lagi ke depan dan langsung membukakan pagar. Masuk dua buah mobil beranggotakan beberapa orang.


Satu kaki dengan sepatu kulit keluar ketika pintu Mobil terbuka, setelahnya muncul dua kaki yang sempurna dan sosok yang sudah dikenal dengan baik oleh Tiger Wu.


"Aku sudah mendengar kabar bahwa Leon telah meninggal. Siang sebelumnya dia meminta anak buahku datang ke indonesia untuk melakukan sebuah misi membunuh dan menculik seseorang, dan aku mengirim sepuluh orang paling bawah milikku. Namun yang kembali hanya tujuh dan mereka pun gagal melakukannya. Sepertinya target yang anakmu inginkan bukan orang biasa!"


"Kau benar, duduklah dulu!" Pinta Tiger Wu. Lalu mereka membicarakan masalah yang telah dialami sekarang. Dan merencanakan sebuah kerjasama untuk menghancurkan.


Di tempat lain. Di negara yang berbeda. Seorang pemuda terbangun dari meditasinya dan mulai berlatih gerakan bela diri. Dia tidak ingin lagi hal yang lalu terulang kembali. Bahkan dia harus kehilangan sistem sebagai pengorbanan untuk hidupnya.


Udara bergetar mendapat pukulan yang cepat. Tendangan serta sikutan dia lakukan seolah dia sedang bertarungan dengan seseorang.


Berkat teknik bela diri Kuno dan pemahamannya yang mendalam dengan Qi, dia bisa mengatur, mengontrol dan mengeluarkannya sesuka hatinya sekarang. Peluh membasahi tubuhnya. Dengan kilap matahari yang memantulkan sinarnya.


Para wanitanya juga sudah terbangun semuanya seraya menyiapkan makanan beramai-ramai bersama.


"Makasih sayang!" Ucap Zai seraya mencium kening Aisya dan merangkulnya.


"Mandi dulu, kami sudah menyiapkan makanan untukmu" ucap Aisya tersum manis.


Setelah Zai mandi. Mereka pun makan bersama. Setelahnya. Zai pergi ke Markas besar bawah tanah.


Sesampainya disana. Seratus orang sudah menunggu. Mereka sudah dipersiapkan Saddam untuk sebuah rencana yang akan dilakukan oleh Zai.


"Hari ini! Aku ingin membentuk sebuah pasukan khusus, dimana kalian akan menjadi pelindung. Bukan hanya pelindungku dan keluargaku. Tapi juga pelindung negara jika diperlukan. Dan aku ingin kalian berlatih dengan giat. Aku, Saddam dan yang lainnya akan melatih kalian" Zai menatap ke sepuluh barisan yang diisi oleh sepuluh orang perbarisnya.


"Demi keluarga, demi kita semua. Namun aku tidak memaksa kalian untuk berlatih pada latihan khusus ini. Kalian boleh memilih untuk tidak mengikutinya jika ragu sejak awal. Karena bila kalian sudah memilih ikut dalam pelatihan ini. Maka kalian tidak boleh mundur" terangnya. Dia menjelaskan cukup panjang.


"Kami siap menjadi pelindung" ucap mereka semua bersamaan.

__ADS_1


"Baiklah.. terima kasih atas kesediaan kalian." Ucap Zai, kemudian dia menoleh ke samping dimana ada Saddam berdiri " Saddam aku serahkan semuanya kepadamu!"


"Baik tuan Muda!" Ucap Saddam mengangguk


Zai menepuk bahu Saddam dan berbalik, dia meninggalkan tempat latihan itu. Lalu menuju ke lorong yang lainnya dimana ada laboratorium.


Banyak orang yang dengan wajah serius bekerja. Zai berjalan menuju salah satunya.


"Pak Ronald bagaimana? Apakah ada perkembangan?" Zai bertanya langsung.


Ronald adalah kepala ilmuwan yang ditunjuk Zai. Dia berasal dari Jerman.


"Untuk sekarang kita tinggal mengujinya saja apakah itu bisa dipakai. Dan aku sudah menyiapkan hewan percobaan. Apakah Pak Zai ingin melihatnya?" Tanya Ronald


"Baiklah. Aku ingin melihat sel darah yang dikembangkan" ucapnya tersenyum senang.


"Ikuti aku Pak Zai!" Ronald membawa Zai ke salah satu ruangan yang ada disana.


Alat di laboratorium cukup canggih. Semua proses tidak berjalan terlalu rumit. Tikus sebagai hewan percobaan. Segera jarum suntik masuk ke tubuh hewan itu. Namun tidak ada reaksi cepat yang ditunjukan.


"Apakah memang tidak ada reaksi?" Zai melihat tikus itu dengan seksama.


"Memerlukan satu menit" ucap Ronald dan benar saja, reaksi mulai ditunjukan oleh tikus itu dengan tubuh yang mulai membesar namun langsung meledak.


Lanjut ke percobaan selanjutnya. Dua tikus langsung disuntik oleh alat dan mulai menunjukkan reaksi tubuh yang membesar, satu meledak, namun satunya masih sehat menunjukan serum itu lumayan bisa diandalkan.


"Kami belum sepenuhnya bisa menjamin hasil ini bisa dipakai untuk manusia. Mohon kami meminta lebih banyak waktu lagi untuk menelitinya" kata Ronald


"Tentu, aku tidak ingin juga suatu hal yang terburu-buru. Jika kamu memerlukan sesuatu. Katakan saja kepada Anak buahku yang ada di lorong kiri" kata Zai. Setelah itu dia bersalaman dengan Ronald dan menyapa para ilmuwan lainnya dan meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


__ADS_2